Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Transformasi Kawasan Kuliner Tradisional Jadi Destinasi Kelas Dunia

Transformasi Kawasan Kuliner Tradisional Jadi Destinasi Kelas Dunia
Minat|Makanan Kaki Lima

Dari Lapak Tradisional ke Destinasi Kuliner Kelas Dunia

Transformasi kawasan kuliner tradisional menjadi destinasi kuliner kelas dunia adalah proses mengangkat pasar, pecinan, dan sentra jajanan rakyat melalui penataan ruang, inovasi menu, dan strategi branding sehingga kawasan tersebut menarik wisatawan, memperkuat identitas lokal, sekaligus menciptakan ekosistem usaha yang berkelanjutan bagi pelaku UMKM makanan dan minuman.

Keputusan Pemerintah Kota Bandung mematangkan rencana menjadikan kawasan Pasar Baru dan sekitarnya sebagai destinasi kuliner kelas dunia menegaskan satu hal: era sekadar berjualan di trotoar sudah selesai. Kota tidak lagi melihat pedagang sebagai masalah, melainkan sebagai aset yang harus dioptimalkan lewat pengembangan kawasan kuliner yang tertata, bersih, dan terkoneksi dengan moda transportasi modern. Rencana merangkai Pasar Baru dengan Pecinan Lama dan sejumlah ruas jalan di sekitarnya menunjukkan pendekatan komprehensif, bukan tambal sulam. Ini bukan proyek kosmetik; ini reposisi ekonomi kota dengan kuliner sebagai magnet utama pariwisata.

Transformasi Kawasan Kuliner Tradisional Jadi Destinasi Kelas Dunia

Strategi Bandung: Investasi Swasta, Penataan Publik

Pilihan Bandung untuk menjadikan Pasar Baru–Pecinan Lama sebagai koridor wisata kuliner berbasis investasi swasta adalah langkah berani sekaligus penuh risiko. Pemerintah menegaskan seluruh investasi 100 persen swasta, sementara peran kota difokuskan pada penataan dan penertiban kawasan. Dengan kata lain, negara menyediakan panggung; sektor swasta diminta mengisi acaranya. Pendekatan ini sejalan dengan tuntutan fiskal, tetapi suksesnya sangat ditentukan oleh seberapa tegas pemerintah menjaga kualitas ruang publik.

Rencana pembenahan sejumlah ruas jalan kecil seperti Jalan ABC, Suniaraja, Alkateri hingga kawasan belakang Pasar Dulatip pada 2027 menandakan bahwa pengembangan kawasan kuliner tidak bisa dipisahkan dari infrastruktur dasar: trotoar layak, sirkulasi kendaraan, hingga kebersihan. Penyiapan layanan shuttle dari bandara yang bukan hanya menuju Pasar Baru, tetapi juga kawasan wisata dan pusat aktivitas lain termasuk Dago, memperlihatkan pemikiran yang menyatukan pariwisata kuliner dengan mobilitas kota. Lingkungan yang lebih nyaman dan tertib diharapkan mendukung geliat ekonomi warga, bukan hanya pemilik modal besar.

Transformasi Kawasan Kuliner Tradisional Jadi Destinasi Kelas Dunia

Inovasi Kuliner Tradisional sebagai Mesin Pariwisata

Kunci agar pengembangan kawasan kuliner tidak berakhir sebagai proyek beton kosong adalah inovasi kuliner tradisional yang serius. Wakil Gubernur Jawa Barat Erwan Setiawan mengingatkan pelaku usaha kuliner untuk tidak berhenti mengandalkan cita rasa saja, tetapi memperkuat inovasi dan nilai jual produk. Dengan kekayaan kuliner dari 27 kabupaten/kota—dari nasi timbel, karedok, lotek, batagor, surabi, peuyeum hingga seblak—pariwisata kuliner Jawa Barat punya modal yang banyak kota lain iri.

Erwan menilai potensi tersebut harus terus dikembangkan melalui inovasi agar kuliner Jawa Barat semakin dikenal dan mampu menarik wisatawan. Peningkatan akses transportasi dari Jakarta ke Bandung yang membuat banyak warga datang khusus untuk menikmati kuliner menjadi momentum yang tidak boleh terlewat. Kuliner, kata Erwan, tidak hanya soal makanan dan minuman, melainkan terkait ekonomi, lapangan pekerjaan, pariwisata, budaya hingga identitas Jawa Barat. Pernyataan ini harus dibaca sebagai mandat: setiap gerobak lotek dan warung nasi timbel yang naik kelas berarti satu langkah maju bagi ekonomi pariwisata regional.

Transformasi Kawasan Kuliner Tradisional Jadi Destinasi Kelas Dunia

Peran AKAR dan Sport Tourism: Ekosistem, Bukan Proyek Tunggal

Pelantikan ketua dan pengurus Asosiasi Kafe dan Restoran (AKAR) Jawa Barat periode 2026–2031 menjadi momentum penting, bukan acara seremonial biasa. AKAR didorong untuk memperkuat kolaborasi antara pelaku usaha dan pemerintah, serta menjadikan kuliner bagian dari kekuatan ekonomi dan pariwisata daerah. Wali Kota Bandung berharap AKAR menjadi wadah kolaborasi dan komunikasi, bukan kartel yang membatasi persaingan, karena persaingan sehat diperlukan agar industri kuliner Jawa Barat kuat dan berdaya saing.

Di sisi lain, Wali Kota Bandung menempatkan kuliner sejajar dengan sport tourism sebagai penggerak ekonomi kota. Ia menilai pertandingan Persib yang dikelola di Stadion Gelora Bandung Lautan Api membuka peluang besar membangun wisata kuliner di sekitarnya. Sport tourism disebut mendatangkan banyak rezeki ke Bandung karena wisatawan tidak hanya menonton pertandingan atau ikut lomba lari, tetapi juga menginap, makan, berbelanja, dan berwisata. Di sinilah pengembangan kawasan kuliner bertemu dengan strategi event: tanpa ekosistem yang terhubung, peluang belanja dan makan akan lepas ke kota lain.

Dampak ke Warga dan PR ke Depan

Bagi warga, transformasi kawasan kuliner tradisional menjadi destinasi kuliner kelas dunia berarti dua hal sekaligus: peluang baru dan tantangan baru. Di satu sisi, lingkungan yang lebih nyaman dan tertib di Pasar Baru–Pecinan Lama diharapkan mendukung geliat ekonomi lokal. Sport tourism yang mendatangkan banyak rezeki ke Bandung akan memperluas pasar bagi penjual makanan dari warung kecil hingga restoran besar. Jika diarahkan dengan benar, pedagang kaki lima yang selama ini sering jadi sasaran penertiban dapat diintegrasikan sebagai bagian dari destinasi kuliner baru.

Namun, transformasi ini hanya akan adil bila pemerintah betul-betul memihak pada UMKM, bukan sekadar pada investor besar. Pengembangan kawasan kuliner yang mengandalkan investasi swasta harus diimbangi regulasi yang melindungi pelaku kecil, menjaga keragaman cita rasa, dan memastikan harga tetap terjangkau. Orang datang ke Bandung, kata Wali Kota, pada dasarnya untuk tidur dan makan; jika makan di kota ini hanya bisa dinikmati kalangan berduit, maka gagasan destinasi kuliner kelas dunia akan kehilangan jiwa. Tantangan pemerintah dan AKAR adalah menjadikan inovasi dan branding masakan lokal sebagai jalan bagi semua, bukan hanya sebagian.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!