Revitalisasi Pasar Tradisional: Dari Ruang Kumuh Jadi Ekosistem Kuliner
Revitalisasi pasar tradisional adalah proses penataan ulang ruang jual beli yang sebelumnya dianggap kumuh atau terabaikan menjadi ekosistem yang lebih tertib, nyaman, dan fungsional, tanpa memutus peran penting pedagang kuliner lokal serta UMKM street food yang menjaga cita rasa autentik di tengah tekanan pembangunan kota modern dan perubahan pola konsumsi masyarakat perkotaan.
Bandung memberi dua wajah yang kontras atas transformasi ruang publiknya. Di satu sisi, pasar Cihapit beralih dari masa kelam sebagai kompleks interniran menjadi ruang ramai yang penuh sapa penjual dan pembeli, lengkap dengan surga bagi pecinta kuliner di dalamnya. Di sisi lain, proyek depo Bus Rapid Transit (BRT) Bandung Raya di Terminal Cicaheum memaksa pedagang lama seperti Uni Nur, penjual nasi Padang yang sudah lebih dari tiga dekade berjualan, untuk angkat kaki dari lapak yang menjadi sumber hidupnya sejak 1994. Dua kisah ini menegaskan: pasar tradisional revitalisasi bukan sekadar soal bangunan lebih rapi, tetapi soal keadilan bagi mereka yang menghidupi ruang itu bertahun-tahun.
Pasar Cihapit: Contoh Positif Transformasi Pasar Bandung Untuk UMKM Street Food
Perubahan Cihapit menjadi pusat kuliner menunjukkan bagaimana transformasi pasar Bandung bisa berpihak pada pedagang kuliner lokal dan UMKM street food. Di dalam pasar, kini bukan hanya kebutuhan pokok yang dijual, tetapi juga ragam makanan yang membuatnya disebut sebagai ‘surga bagi pecinta kuliner’. Nama-nama seperti Ramen Rama, Warung Nasi Bu Eha, Nasi Telur Sumber Rezeki, dan Dendeng Tokokin memperlihatkan pasar tradisional tetap relevan sebagai pengasuh cita rasa autentik, bukan museum masa lalu.
Konklusi, lapak gyoza milik Fauzan Prama, adalah ilustrasi UMKM street food generasi baru yang memilih masuk ke pasar tradisional, bukan ke kafe instagrammable. Ia awalnya menjual produknya secara online, lalu memutuskan buka offline di Pasar Cihapit karena lokasi tengah kota, biaya sewa murah, dan akses yang cukup mudah bagi pejalan kaki. Usaha kuliner yang dibuka pada 2 Juni 2022 ini mendapat respons baik, meski trafik tidak langsung tinggi sejak awal. Fauzan menawarkan gyoza dengan harga sekitar Rp15.000 hingga Rp30.000 per porsi, membuat makanan khas Asia itu tetap terjangkau bagi pengunjung pasar. Kutipan yang layak dicatat: “Harga saya di makanan 15-30 ribu rupiah… 30 ribu juga itu bisa untuk berdua.”
Terminal Cicaheum dan Proyek BRT: Ketika Pembangunan Mengusir Pedagang Legendaris
Jika Cihapit menggambarkan sisi cerah pasar tradisional revitalisasi, Terminal Cicaheum memperlihatkan sisi gelap transformasi ruang publik yang abai pada pedagang lama. Lapak sederhana berukuran sekitar 2×4 meter yang ditempati Uni Nur masih menguar aroma masakan Padang ketika deretan kios mulai dibongkar untuk pembangunan depo BRT Bandung Raya. Di lapak itulah ia berjualan nasi Padang sejak 1994, menjadikannya pedagang kuliner lokal yang menyatu dengan memori penumpang dan sopir selama lebih dari 30 tahun.
Sebelum pandemi, Uni Nur bisa meraup omzet sekitar Rp1,5 juta per hari dari jam 6 pagi hingga 6 sore. Namun ketika Covid-19 menghantam, aktivitas terminal berhenti, jalan ditutup, penumpang menghilang, dan usahanya “hancur” karena tidak bisa berjualan seperti biasa. Kini, ia mengeluhkan bahwa “boro-boro satu juta, seratus ribu aja susah… sekarang dua piring laku nasinya.” Dan justru di tengah keterpurukan pasca-pandemi, datang lagi kabar pembongkaran lapak demi proyek BRT. Uni dan pedagang lain sempat menolak rencana perubahan fungsi terminal, tapi merasa kalah karena “pemerintah lebih keras, kita cuma rakyat”. Transformasi pasar Bandung dalam bentuk terminal modern tanpa strategi relokasi yang memadai membuat tiga dekade jejak usaha Uni tinggal kenangan.
Relokasi dan Kompensasi: Pembangunan Tak Boleh Mematikan Viabilitas Pedagang Kecil
Kasus Cicaheum menyoroti pentingnya strategi relokasi yang mempertahankan viabilitas ekonomi pedagang kecil, bukan sekadar memindahkan badan mereka dari satu titik ke titik lain. Pedagang terdampak pembongkaran memang mendapat kompensasi dengan nominal bervariasi, mulai dari sekitar Rp7 juta hingga Rp30 juta. Namun uang itu tidak otomatis menjamin kelangsungan hidup jika lokasi baru tidak siap dan arus pembeli belum terbentuk. Uni Nur, misalnya, berencana menyewa tempat usaha baru di pasar di belakang terminal, tetapi pemilik warung belum membereskan barang, membuatnya terhambat pindah.
Di atas kertas, layanan bus antarkota dari Cicaheum akan dipindahkan ke Terminal Leuwipanjang, tetapi kepastian waktunya masih menggantung. Tanpa skema transisi yang jelas—mulai dari jaminan akses pembeli, pendampingan usaha, hingga promosi lokasi baru—kompensasi mudah berubah menjadi uang pesangon yang mengantar pedagang kecil ke jurang ketidakpastian. Relokasi yang baik seharusnya memindahkan ekosistem, bukan sekadar memindahkan gerobak: pelanggan, jaringan pemasok, hingga identitas kuliner harus ikut diberi ruang tumbuh di tempat baru. Pemerintah kota yang berbicara besar tentang transportasi modern dan penataan ruang publik perlu sekaligus menjawab pertanyaan sederhana: ke mana nasib pedagang yang bertahun-tahun ikut meramaikan terminal dan pasar tradisional?
Pasar Tradisional Sebagai Penjaga Cita Rasa Autentik di Tengah Kota Modern
Di balik deru proyek BRT dan penataan ulang pasar, ada satu fakta yang mudah diabaikan: pasar tradisional adalah ekosistem penting bagi pelestarian cita rasa autentik. Di Cihapit, jajaran kuliner dari gyoza Konklusi hingga warung nasi legendaris menunjukkan bagaimana resep lama dan eksperimen baru berbaur dalam ruang yang sama. Di Cicaheum, aroma nasi Padang dari lapak Uni Nur menggambarkan hubungan emosional antara ruang publik dan ingatan lidah warga. Ketika pedagang kuliner lokal tersingkir tanpa pendampingan, yang hilang bukan hanya sumber nafkah, tetapi juga lapisan rasa yang membentuk identitas kota.
Transformasi pasar Bandung dan kawasan sekitarnya memang perlu, terutama untuk meningkatkan kenyamanan, keselamatan, dan efisiensi transportasi. Namun pembangunan yang sehat tidak mengorbankan UMKM street food yang telah lama menopang kehidupan ekonomi lokal dan menjadi daya tarik wisata kuliner. Ke depan, pemerintah dan pengelola ruang publik perlu melihat pasar tradisional bukan sebagai beban yang harus dirapikan, tapi sebagai mitra yang harus diajak merancang masa depan kota. Revitalisasi pasar tradisional ideal adalah ketika pengunjung menikmati fasilitas yang lebih tertib, pedagang kecil tetap berdaya, dan cita rasa autentik terus hidup di tengah kota yang berubah. Jika tidak, kita akan memiliki bangunan lebih modern, tetapi kota yang semakin hambar.






