Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Gubernur Lampung Integrasikan Tata Niaga Beras untuk Stabilitas Pangan

Gubernur Lampung Integrasikan Tata Niaga Beras untuk Stabilitas Pangan
Minat|Asia Tenggara

Tata Niaga Beras Terintegrasi: Dari Ide ke Instrumen Kebijakan

Tata niaga beras terintegrasi adalah strategi pengelolaan produksi, penyerapan, penggilingan, pembiayaan, dan distribusi beras dalam satu rantai pasok pangan yang saling terhubung antara petani, koperasi, pelaku usaha, dan lembaga keuangan, dengan tujuan meningkatkan nilai tambah, memendekkan mata rantai perantara, serta menstabilkan harga di tingkat produsen dan konsumen. Di Lampung, gagasan ini tidak berhenti sebagai slogan. Gubernur Rahmat Mirzani Djausal menegaskan komitmen pemerintah provinsi untuk membenahi tata niaga beras dari hulu ke hilir. Melalui rapat penguatan kelembagaan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) pada 10 September 2026, ia mengusung integrasi KDMP, Perpadi, BUMDes, dan perbankan sebagai desain baru tata niaga. Ini bukan sekadar perbaikan administratif, melainkan upaya menggeser pusat kendali perdagangan beras kembali ke desa dan kota, seperti era ketika lumbung beras lokal masih hidup dan berfungsi.

Lampung, Lumbung Pangan dengan Anomali Harga

Lampung kerap dibanggakan sebagai lumbung pangan nasional dengan produksi 3,2 juta ton Gabah Kering Giling atau setara 1,7 juta ton beras per tahun. Konsumsi warganya hanya sekitar 800 ribu ton, sehingga terdapat surplus lebih dari 900 ribu ton beras. Secara logika pasar, wilayah surplus mestinya menikmati harga stabil dan penggilingan padi yang tumbuh. Namun kenyataannya terbalik: inflasi beras tinggi, sementara setiap tahun sekitar 200 rice milling bangkrut. Di sinilah anomali tata niaga beras itu muncul. Rantai pasok pangan yang terlalu panjang, dengan 7–8 tingkatan pedagang perantara, membuat nilai tambah bocor ke luar desa. Terbukanya akses logistik tanpa perlindungan kelembagaan desa mendorong pembelian gabah masif oleh korporasi luar daerah, yang pada akhirnya mematikan penggilingan kecil dan mengikis kedaulatan pangan lokal.

Integrasi KDMP–Perpadi–Perbankan: Memotong Rantai, Mengangkat Petani

Jawaban Gubernur terhadap anomali ini adalah integrasi KDMP, Perpadi, dan perbankan sebagai satu ekosistem tata niaga beras yang lebih singkat dan terkontrol. KDMP diminta berperan sebagai simpul agregator yang menyerap hasil panen petani langsung di desa, menggantikan banyaknya pedagang perantara yang selama ini menumpuk margin di tengah rantai distribusi. Perpadi membawa kapasitas penggilingan, sementara perbankan menyediakan likuiditas agar koperasi mampu membayar tunai petani. "Perpadi yang punya penggilingan, KDMP yang menyerap di desa" menjadi formula singkat yang mereposisi kekuatan tawar produsen kecil. Skema ini bukan hanya wacana; LPDB Koperasi hadir menawarkan pembiayaan dengan bunga lebih terjangkau dibanding perbankan konvensional, khusus untuk koperasi desa yang terlibat dalam rantai pasok pangan. Dengan kontrak pembiayaan yang jelas, KDMP punya peluang lebih besar menawar harga gabah yang layak, dan petani tidak lagi bergantung pada tengkulak.

Permodalan, Teknologi, dan Koperasi Orang Tua Asuh

Integrasi kelembagaan saja tidak cukup jika tidak dibarengi permodalan dan teknologi pascapanen. Di sinilah peran LPDB menjadi kunci. Lembaga ini menyiapkan pinjaman bagi KDMP—bukan hibah—dengan skema yang diklaim lebih terjangkau serta akuntabel bagi koperasi desa. Tantangannya, tidak semua KDMP siap secara administrasi untuk mengakses pembiayaan sesuai regulasi baru. Untuk menjembatani, dibuat skema transisi melalui "Koperasi Orang Tua Asuh" yang berperan sebagai pendamping sementara hingga KDMP siap berproses penuh di LPDB. Selain modal kerja gerai dan pangan, LPDB membuka peluang pembiayaan alat pengering gabah (dryer) dan cold storage untuk menjaga stabilitas rantai pasok komoditas lokal. Ini langkah penting, karena tanpa pengering dan penyimpanan memadai, surplus produksi Lampung hanya akan kembali menekan harga di tingkat petani dan merusak kualitas beras.

Dampak Bagi Petani dan Arah Lampung sebagai Lumbung Pangan

Jika dijalankan konsisten, integrasi KDMP–Perpadi–perbankan berpotensi menjadi koreksi serius bagi tata niaga beras yang timpang. Penyerapan gabah langsung di desa memotong 7–8 lapis perantara, sehingga margin bisa lebih banyak mengalir ke petani dalam bentuk harga yang lebih baik dan pembayaran tunai. Kecepatan likuiditas perbankan menjadi faktor penentu: tanpa dana bergulir yang cepat, koperasi akan kalah langkah dari pembeli luar yang datang dengan uang kontan. Di sisi lain, stabilitas rantai pasok melalui dryer dan cold storage berarti Lampung bisa menjaga pasokan sepanjang tahun, bukan hanya saat panen raya. Uji coba pola pembinaan dan pembiayaan terpadu pada satu hingga tiga KDMP yang sudah kuat menjadi langkah awal yang realistis. Namun keberhasilan skema ini pada akhirnya akan diukur dari dua hal: naik atau tidaknya kesejahteraan petani, dan terjaga atau tidaknya harga beras bagi masyarakat.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!