TKDN 60 Persen: Kebijakan yang Memaksa Industri Komponen Naik Kelas
TKDN mobil listrik adalah persentase nilai komponen lokal EV yang wajib dipenuhi produsen agar kendaraannya diakui menggunakan kandungan produksi domestik, dan ketika target TKDN mobil listrik dinaikkan menjadi 60 persen mulai 2027, kebijakan ini bukan sekadar angka administratif tetapi instrumen untuk mengubah struktur industri, memaksa pabrikan memperkuat komponen lokal EV dan memaknai elektrifikasi sebagai proyek industrialisasi, bukan hanya pergantian mesin. Poin pentingnya: TKDN 60 persen adalah tekanan yang sehat. Tanpa paksaan regulasi, produsen akan cenderung bertahan pada pola impor komponen bernilai tambah tinggi, sementara pelaku lokal hanya mengisi bagian bawah rantai pasok. Kini, ruang negosiasi berubah. Astra Otoparts secara terbuka menyebut kenaikan TKDN mobil listrik sebagai peluang untuk memperkuat industri komponen nasional dan meningkatkan peran industri lokal dalam rantai pasok kendaraan listrik. Artinya, kebijakan ini sudah mulai diterjemahkan menjadi strategi bisnis nyata, bukan sekadar slogan dalam dokumen regulasi.

Strategi Astra Otoparts: Dari Komponen Hybrid hingga Altro Charging
Jika TKDN 60 persen adalah target, Astra Otoparts tampak memilih pendekatan menyeluruh untuk mencapainya: memperluas lini komponen sekaligus masuk ke infrastruktur pengisian daya. Perusahaan ini tidak berhenti pada komponen untuk kendaraan bermesin pembakaran internal, tetapi mengembangkan industri komponen hybrid dan BEV sebagai portofolio masa depan. Dua kelompok produk ditekankan: general parts seperti auxiliary battery, driveshaft, caliper assembly, dan wireless charger; serta specific parts yang memang dirancang untuk kebutuhan kendaraan listrik dan hybrid, seperti hybrid damper, hose cooling inverter and motor, dan battery case. Pendekatan ini cerdas: general parts membantu menjaga volume produksi dan aliran kas dari pasar ICE yang masih besar, sementara specific parts menjadi tiket masuk ke rantai pasok EV bernilai tambah lebih tinggi. Di sisi lain, penguatan research and development dan kemampuan manufaktur lokal disebut langsung sebagai bagian dari strategi perusahaan untuk menyambut kenaikan TKDN mobil listrik. Dengan kata lain, transformasi mereka bukan kosmetik, tetapi mengubah isi pabrik dan laboratorium.

70 Stasiun Altro Charging: Sinyal Integrasi Vertikal yang Serius
Langkah Astra Otoparts mengembangkan mesin EV charger merek Altro lalu mengintegrasikannya ke jaringan pengisian daya Astra Otopower menunjukkan ambisi lebih besar: menjadi bagian dari ekosistem, bukan sekadar pemasok komponen. Hingga Juni 2026, jaringan Astra Otopower telah mengoperasikan 70 charging station di berbagai lokasi, dari bengkel, kawasan perkantoran, pusat perbelanjaan hingga rest area. Beberapa titik bahkan sudah menyediakan fasilitas Ultra Fast Charging dengan daya hingga 240 kW. Ini bukan hanya kabar baik bagi pemilik mobil listrik yang mulai membutuhkan akses pengisian yang nyaman, tetapi juga bukti integrasi vertikal supplier. Perusahaan yang sebelumnya dikenal sebagai pemasok komponen kini ikut menguasai titik kontak langsung dengan pengguna akhir. Dampak jangka panjangnya, spesifikasi komponen lokal EV bisa dikembangkan lebih sinkron dengan kebutuhan jaringan charging yang mereka kendalikan sendiri. Kolaborasi dengan PLN untuk pengembangan pole mounted charger membuat posisi mereka di infrastruktur makin strategis, sekaligus mengurangi ketergantungan pada teknologi impor di sisi pengisian.
Peluang Tier-1 dan Tier-2: Ekspansi Produksi, Asal Berani Invest Teknologi
Kenaikan TKDN mobil listrik secara langsung membuka ruang pertumbuhan bagi pemasok tier-1 dan tier-2, mulai dari produsen komponen utama hingga pembuat common parts pendukung. Sekretaris umum asosiasi produsen menyebut satu mobil terdiri dari 20.000–30.000 komponen, dan pada EV, meskipun hanya tiga komponen utama yang benar-benar khas—baterai, motor listrik, dan kontrol elektrik—sisanya adalah common parts yang dapat dan seharusnya diproduksi lokal. Pernyataan ini penting karena menegaskan bahwa pemenuhan TKDN tidak bergantung sepenuhnya pada penguasaan teknologi baterai, yang masih berat, tetapi pada kemampuan mengisi ratusan hingga ribuan komponen pendukung dengan produk lokal berkualitas. Bagi tier-1 dan tier-2, kesempatan ini adalah undangan terang untuk ekspansi produksi: meningkatkan kapasitas stamping, casting, plastic molding, hingga sistem thermal dan casing yang dibutuhkan industri komponen hybrid dan EV. Namun peluang ini hanya akan berbuah jika mereka berani berinvestasi pada transfer teknologi, menguatkan R&D, dan menyelaraskan standar dengan OEM yang semakin menuntut spesifikasi ketat.
Tantangan Rantai Pasok dan Transfer Teknologi: Penentu Nasib TKDN 60 Persen
Di balik narasi peluang, TKDN 60 persen adalah tantangan yang sangat nyata. Asosiasi industri sudah menegaskan bahwa target TKDN mobil listrik 2027 “harus dikawal”, bukan diasumsikan akan tercapai otomatis. Titik krusialnya ada pada rantai pasok dan transfer teknologi. Rantai pasok komponen lokal EV harus mampu memenuhi kebutuhan volumenya, menjaga konsistensi kualitas, dan tetap efisien secara biaya. Astra Otoparts sendiri mengakui bahwa peningkatan produktivitas, efisiensi, dan penguatan rantai pasok adalah bagian inti upaya mereka. Tanpa perbaikan menyeluruh, OEM akan tetap melihat komponen impor sebagai pilihan yang lebih aman. Transfer teknologi adalah tantangan lain: komponen seperti hybrid damper, hose cooling inverter and motor, atau battery case menuntut penguasaan material dan proses manufaktur yang tidak sederhana. Di sini, kemitraan dengan OEM dan perusahaan utilitas, seperti kolaborasi pengembangan charger dengan PLN, menjadi jalur realistis untuk mempercepat pembelajaran. Jika rantai pasok dan teknologi bisa naik kelas dalam dua-tiga tahun ke depan, TKDN 60 persen bukan sekadar target regulasi, melainkan titik balik industrialisasi EV yang layak dibanggakan.






