Kedatangan yang dinanti hampir setengah abad
KM Dorolonda Donggala adalah layanan kapal penumpang PELNI yang kembali menghubungkan Pelabuhan Donggala dengan jalur pelayaran antardaerah setelah warga menanti kapal besar selama 47 tahun. Pada Sabtu pagi, 31 Oktober 2026, KM Dorolonda singgah perdana di Pelabuhan Donggala, tiba pukul 07.05 WITA dan bertolak menuju Bitung pukul 09.00 WITA. Momen itu lebih dari sekadar penambahan titik dalam rute kapal: bagi warga, bunyi sirene menandai kembalinya sebuah hubungan yang lama terputus. Masyarakat berjejer menyaksikan kapal tiba, sementara pejabat daerah, petugas pelabuhan, dan tokoh setempat menyambut kedatangan awak kapal. Sambutan bahagia itu terasa wajar. Kapal besar yang kembali sandar memberi warga alasan untuk melihat pelabuhan lama mereka bukan hanya sebagai kenangan, tetapi sebagai akses yang mungkin kembali berguna.

Angka penumpang menunjukkan arti layanan
Pada singgah perdana, 222 penumpang turun di Donggala, 107 naik, dan 968 lainnya melanjutkan perjalanan di atas kapal. KM Dorolonda kemudian meneruskan pelayaran ke Bitung dengan total 1.075 penumpang. Angka ini memperlihatkan bahwa layanan tersebut bukan seremoni kosong: kapal membawa arus perjalanan yang nyata, sekaligus membuka pilihan baru bagi warga untuk terhubung dengan berbagai daerah. Dengan kapasitas sekitar 2.000 penumpang, kapal ini melayani rute panjang yang menghubungkan Surabaya, Balikpapan, Donggala, Bitung, Ternate, Sorong, Manokwari, Nabire, Serui, dan Jayapura. Bagi masyarakat, manfaat terpentingnya adalah akses yang lebih dekat dan pilihan perjalanan yang lebih luas. Konektivitas laut baru layak disebut kemajuan bila jadwal dan pelayanan bisa dijaga konsisten, bukan hanya hadir sebagai peristiwa yang dikenang.

Dari nostalgia menuju manfaat ekonomi
Sirene Dorolonda membangkitkan ingatan tentang masa ketika Pelabuhan Donggala menjadi pusat pergerakan kota, sebelum kapal-kapal besar lebih banyak bersandar di Pantoloan. Setelah 47 tahun menunggu, kebahagiaan warga berpadu dengan harapan agar kota yang lama merasa tertinggal dapat bergerak maju. “Saya sangat bahagia bisa melihat kapal besar sandar di Pelabuhan Donggala. Sebagai masyarakat Donggala, kota ini begini-begini saja, saya yakin bisa maju dan berkembang,” ujar Yuli. Harapan itu masuk akal, tetapi kedatangan kapal saja tidak otomatis menggerakkan ekonomi. Penumpang perlu disambut dengan kawasan yang tertata, fasilitas yang memadai, dan ruang usaha yang bisa dimanfaatkan warga. Pemerintah kabupaten mendorong penyediaan tempat usaha dan fasilitas pendukung bagi UMKM di sekitar pelabuhan, agar aktivitas kapal memberi manfaat langsung, bukan hanya pemandangan yang membanggakan.
Ujian berikutnya adalah kesinambungan
Kembalinya kapal penumpang PELNI ke Donggala patut disambut sebagai awal, bukan garis akhir. Pemerintah daerah berharap kapal-kapal PELNI lain kelak ikut singgah, sejalan dengan rencana pengembangan dalam Rencana Induk Pelabuhan Teluk Palu. Harapan tersebut menuntut kerja bersama untuk menjaga operasional, menata akses menuju pelabuhan, dan memastikan fasilitas bagi penumpang serta pelaku usaha tersedia. Tanpa kesinambungan, gaung sirene bisa tinggal menjadi nostalgia baru. Namun bila layanan bertahan dan peluang ekonomi dikelola dengan serius, Pelabuhan Donggala berpeluang kembali menjadi simpul mobilitas dan kegiatan warga. Makna terbesar kedatangan KM Dorolonda bukan semata kapal yang kembali bersandar setelah 47 tahun, melainkan kesempatan untuk membuktikan bahwa konektivitas dapat membuka jalan bagi kemajuan yang dirasakan masyarakat.






