Pertukaran Budaya Indonesia Korea: Diplomasi yang Dimulai dari Kelas
Pertukaran budaya Indonesia Korea adalah proses saling berbagi nilai, pengetahuan, dan ekspresi seni antara komunitas kedua negara melalui perjumpaan langsung, kolaborasi seniman, program pendidikan, dan festival yang menempatkan manusia—bukan negara—sebagai pelaku utama diplomasi budaya. Di tengah hubungan resmi antar-pemerintah, gerakan akar rumput ini sering dipandang sekadar pelengkap, padahal di sanalah kepercayaan dibangun paling jujur. Ketika pelajar Indonesia pentas Korea dan guru seni menari di panggung internasional, yang dipertaruhkan bukan hanya reputasi pribadi, tetapi juga martabat tradisi yang mereka bawa. Karena itu, inisiatif seni tradisional di Korea Selatan yang digerakkan sekolah kejuruan, madrasah, dan komunitas seni patut dibaca sebagai strategi diplomasi budaya pendidikan yang serius, bukan wisata budaya yang kebetulan difoto dan dirayakan di media sosial.
SMKN 8 Solo di Korea Selatan: Milangkori dan Jejak Diplomasi Akar Rumput
Kunjungan budaya Mataya Arts & Heritage bersama guru dan siswa SMKN 8 Solo ke Korea Selatan pada 11–15 Oktober 2026 menegaskan bahwa sekolah kejuruan bisa menjadi duta budaya yang efektif. Alih-alih hanya belajar dari jauh, mereka datang sebagai mitra sejajar dalam pertukaran budaya Indonesia Korea. Karya musik Milangkori ciptaan Dwi Priyo Sumarto, guru SMKN 8 Solo, menjadi jantung misi ini. Dengan memadukan kendang, vokal tradisional, dan wayang, Milangkori menghidupkan falsafah jajah désa milangkori sebagai perjalanan merengkuh keberagaman.
Pementasan Milangkori di The 6th Jindo International Drum Festival—yang mempertemukan pertunjukan drum, tari, nongak regional, seni tradisional, dan musik rakyat dari berbagai negara—membuktikan bahwa komposisi lokal mampu berdialog dengan panggung global. Kolaborasi Dwi Priyo dengan Hafizh Yusuf Muhammad, siswa jurusan Karawitan SMKN 8 Surakarta, memperlihatkan bagaimana pelajar Indonesia pentas Korea bukan sebagai pengiring, tetapi sebagai kreator yang diakui kapasitas artistiknya. Inilah wajah diplomasi budaya pendidikan: karya lahir dari ruang kelas, diuji di festival internasional, lalu kembali ke sekolah sebagai modal kepercayaan diri generasi muda.

Mataya Arts, Fespin, dan Jaringan Seni Tradisional di Korea Selatan
Kunjungan ke Korea Selatan ini bukan perjalanan tunggal, melainkan kelanjutan jejaring yang dirajut Mataya Arts & Heritage dengan Culture Research Institute of Asian Folk and Tradition (CRIAFT). Sebelumnya, lembaga kebudayaan Korea tersebut ikut dalam Festival Payung Indonesia melalui pertunjukan tari, pameran 250 karya seni, dan peragaan hanbok sebagai bagian dari seni tradisional di Korea Selatan. Artinya, arus pertukaran budaya Indonesia Korea sudah dua arah: seniman Korea hadir di Nusantara, seniman dan pelajar Indonesia hadir di Korea.
Heru Mataya memanfaatkan rangkaian kegiatan di Jindo, Seoul, hingga forum Silk Road Art & Culture untuk mempromosikan Fespin 2027 yang akan digelar 3–5 September 2027 di Solo. "Program tersebut bertujuan memperluas ruang diplomasi budaya Fespin di negara-negara Asia". Di Seoul, rombongan mengikuti program pertukaran budaya Hwangchangbae Arts Foundation yang menampilkan pertunjukan musik Indonesia, lalu terlibat dalam seminar Humanities, Arts and Wine Forum tentang Samshin Halmi dan ekspansinya dalam sinema. Ini menandai pergeseran penting: festival payung yang berawal dari kota, kini menjadi simpul dialog Asia yang digerakkan komunitas seni dan institusi pendidikan.
Guru MAN 1 Tubaba dan Diplomasi Tari Topeng di Andong
Jika SMKN 8 Solo menegaskan peran sekolah kejuruan, maka MAN 1 Tulang Bawang Barat menunjukkan bahwa madrasah pun mampu menjadi wajah diplomasi budaya pendidikan. Guru Seni Budaya MAN 1 Tubaba, Hakiki Darojat Saputra, meraih juara 3 dalam Andong International Mask Dance Festival di Korea Selatan, sebuah ajang tahunan berskala internasional yang berlangsung 24 September hingga 4 Oktober 2026 di Kota Andong, Gyeongsangbuk-do.
Di bawah naungan Sanggar Muli Mekhanai Kota Gajah, Hakiki bersama delapan penari membawakan tari kreasi The Queen of Sekekhumong and Begugha, terinspirasi novel M. Haryo Ramdoni dan mengangkat kisah Ratu Sekekhumong, penguasa terakhir Kerajaan Sekala Bekhak dengan harimau sebagai tunggangan. Dengan memilih narasi sejarah lokal, ia menolak godaan untuk menyesuaikan diri dengan selera global yang seragam. Prestasi ini menjadi kebanggaan bagi MAN 1 Tubaba dan menunjukkan bahwa guru madrasah mampu membawa nama baik daerah dan bangsa ke tingkat internasional.

Mengapa Diplomasi Budaya Pendidikan Perlu Diarusutamakan
Rangkaian peristiwa ini memperlihatkan pola yang konsisten: ketika pelajar Indonesia pentas Korea dan guru seni tampil di festival topeng, hubungan bilateral tidak lagi dimonopoli pertemuan pejabat. Mataya Arts & Heritage bersama SMKN 8 Solo secara terang menyebut tujuan kunjungan mereka untuk memperluas jejaring dengan lembaga seni setempat dan membuka ruang diplomasi budaya di tingkat internasional. Capaian Hakiki di Andong menegaskan bahwa individu dari madrasah pun mampu berkarya dan membawa nama baik bangsa di panggung dunia.
Pertanyaannya bukan lagi apakah seni tradisional di Korea Selatan bisa menerima kehadiran Nusantara, melainkan apakah ekosistem pendidikan kita siap menjadikan seni sebagai bahasa diplomasi utama. Jawabannya mulai tampak: ketika sekolah dan madrasah memberi ruang bagi karya seperti Milangkori dan The Queen of Sekekhumong and Begugha, mereka sedang menyiapkan generasi yang fasih berbicara lintas budaya. Kesimpulannya, negara perlu mengarusutamakan diplomasi budaya pendidikan—bukan sebagai program seremonial, tetapi sebagai strategi jangka panjang yang menempatkan guru, siswa, dan komunitas seni sebagai aktor utama pertukaran budaya Indonesia Korea.






