Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Desainer Lokal Membawa Tenun Tradisional ke Panggung Fashion Nation

Desainer Lokal Membawa Tenun Tradisional ke Panggung Fashion Nation
Minat|Busana Kasual

Lungsara: Saat Tenun Tradisional Naik Kelas di Fashion Nation Runway

Lungsara adalah sebuah peragaan busana dalam gelaran Fashion Nation yang menempatkan tenun tradisional sebagai pusat narasi, lalu menerjemahkannya ke dalam koleksi casual kontemporer melalui sudut pandang desain yang berbeda-beda, sehingga warisan tenun menjadi relevan bagi gaya hidup sehari-hari generasi sekarang. Lungsara hadir di panggung Fashion Nation runway di Senayan City sebagai bagian dari Fashion Nation 20th Edition yang digelar pada 18–26 September 2026. Di sini, tenun Nusantara modern bukan sekadar dekorasi, melainkan bahan utama yang membentuk identitas koleksi. Menariknya, tugas meramu kain-kain ini jatuh pada desainer lokal Indonesia dengan karakter kuat: Saroong Atelier, Othman, dan KMK by Karel Karuniawan. Ketiganya tidak menjadikan tradisi sebagai beban, tetapi sebagai amunisi kreatif untuk menciptakan koleksi casual tradisional yang terasa segar, dapat dipakai, dan sangat masa kini. Tenun tidak lagi terkurung dalam baju adat, tetapi berjalan percaya diri di runway yang biasanya dikuasai tren global.

KMK dan Tenun Baduy Fashion: Memori Masa Kecil dalam Siluet Eksperimental

KMK by Karel Karuniawan menjadi bukti bahwa tenun Baduy fashion bisa sangat eksperimental tanpa kehilangan ruh kesederhanaannya. Dalam Lungsara di Fashion Nation Senayan City, KMK mempertemukan dominasi Tenun Baduy dan Tenun Jepara dengan permainan volume, tekstur eksperimental, detail ekspresif, dan proporsi tidak konvensional. Di balik bentuk-bentuk yang terasa avant-garde ini, Karel menyisipkan memori masa kecil pada beberapa busana, membuat wastra terasa personal, bukan sekadar motif. Inspirasi Karel datang dari filosofi Baduy tentang pikuku: “Yang panjang tidak perlu dipotong, yang pendek tidak perlu disambung,” ujarnya pada 23/9/2026 di Senayan City. Menurut saya, keputusan Karel mengikuti begitu saja warna-warna yang dipilih penenun Baduy—tanpa meminta palet khusus—adalah sikap hormat terhadap proses dan rasa penenun. Di sinilah jembatan antara way of life sederhana masyarakat Baduy dan maksimalisme KMK terbentuk: tenun Nusantara modern yang liar secara bentuk, tetapi tetap taat pada akar.

Desainer Lokal Membawa Tenun Tradisional ke Panggung Fashion Nation

Saroong dan Othman: Tenun Nusantara Modern yang Maskulin dan Bold

Jika KMK merayakan benturan sederhana-maksimalis, Saroong Atelier dan Othman memperluas spektrum tenun Nusantara modern dengan karakter berbeda. Saroong membuka peragaan dengan Endek Bali 3D dan Tenun Rangrang khas Nusa Penida yang diterjemahkan menjadi busana siap pakai: bold, ekspresif, dan bertabur potongan asimetri. Salah satu look bernuansa merah muda dan hijau tampil dengan potongan longgar; detail tenun muncul di pinggang dan sisi celana, dipertegas aksesori dan sepatu senada. Menurut saya, ini adalah contoh konkret bagaimana koleksi casual tradisional bisa terasa playful tanpa kehilangan keanggunan tekstilnya. Othman lalu menggeser suasana menjadi lebih maskulin dengan koleksi busana pria dari Tenun Sobi Wajo, Sulawesi Selatan. Karakter Othman tetap konsisten: siluet bersih, material premium, potongan oversize dengan sentuhan classy vintage, menghasilkan busana pria kontemporer yang berkelas, sederhana, modern, dan tak lekang oleh waktu.

Desainer Lokal Membawa Tenun Tradisional ke Panggung Fashion Nation

Kolaborasi Desainer Lokal Indonesia: Tenun Sebagai Bahasa Casual Sehari-hari

Lungsara bekerja efektif sebagai argumen visual bahwa tenun tidak patut dikurung di acara seremonial. Melalui Othman, KMK, dan Saroong, tenun Nusantara kembali tampil dalam wajah berbeda di panggung Fashion Nation Senayan City. Ketiga desainer lokal Indonesia ini menunjukkan bahwa teknik tradisional bisa diterapkan pada pakaian sehari-hari kontemporer: dari celana longgar dengan detail tenun, set pria oversize berbahan Tenun Sobi, hingga siluet ber-volume dari Tenun Baduy. Menurut saya, nilai terpenting dari kolaborasi ini adalah reposisi tenun sebagai bahasa casual, bukan kostum. Public yang menyaksikan runway melihat bahwa memakai tenun berarti merayakan kerajinan penenun sekaligus tampil modern. Di pertemuan inilah warisan budaya tekstil menemukan relevansi baru: bukan nostalgia, melainkan gaya hidup. Fashion Nation runway, melalui Lungsara, mengingatkan bahwa masa depan wastra ada pada keberanian desainer lokal menggugat batas lama dan menawarkannya kembali dalam bentuk yang akrab dengan keseharian.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!