Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Kapal Buku Terapung Doulos Hope Kembali Bersandar di Jakarta

Kapal Buku Terapung Doulos Hope Kembali Bersandar di Jakarta
Minat|Asia Tenggara

Kapal Buku Terapung yang Menjadikan Pelabuhan Ruang Baca

Doulos Hope adalah kapal buku terapung yang berfungsi sebagai pameran buku internasional, membawa lebih dari 2.000 judul dari berbagai bidang dan tema, bersandar di Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta Utara untuk membuka ruang literasi di atas laut bagi anak-anak, keluarga, dan pencinta buku. Kembalinya Doulos Hope Jakarta ke Tanjung Priok bukan sekadar agenda wisata pelabuhan, melainkan pernyataan berani bahwa buku layak hadir di titik pertemuan dunia: dermaga tempat kapal, manusia, dan budaya saling berpapasan. Setelah sekitar 38 tahun sejak kapal Doulos terakhir kali mengunjungi ibu kota pada 1988, kedatangan kapal buku terapung ini terasa seperti bab baru yang menutup jeda panjang hubungan kota dengan literasi maritim. Di tengah rutinitas komersial pelabuhan, ruang baca di atas kapal adalah pengingat: pengetahuan tidak harus lahir di gedung perpustakaan, ia bisa tumbuh dari gelombang dan bau garam.

Kapal Buku Terapung Doulos Hope Kembali Bersandar di Jakarta

Ribuan Buku, Harga Terjangkau, dan Jam Kunjungan yang Bersahabat

Doulos Hope hadir membawa lebih dari 2.000 judul buku yang mencakup sains, kesehatan, seni, bahasa, hingga buku anak-anak. Koleksi ini tidak hanya luas, tetapi juga diposisikan agar ramah bagi dompet pengunjung. Tiket masuk ke kapal ditetapkan sebesar Rp15.000, menjadikannya pengalaman literasi yang relatif terjangkau bagi pelajar maupun keluarga. Salah satu pengunjung, Arteza (23), menegaskan bahwa di kapal ini ia bisa mendapatkan buku bahasa Inggris yang cukup tebal dengan harga sekitar Rp100.000, angka yang ia nilai masih masuk akal mengingat harga buku impor biasanya jauh lebih tinggi. Jadwal kunjungan pun diatur bersahabat: Selasa hingga Minggu, pukul 13.30–21.00 WIB, memberi ruang bagi pekerja, mahasiswa, sampai orang tua yang membawa anak pulang sekolah untuk menyusuri rak-rak buku di atas dek. Ini bukan pameran yang memaksa orang menyesuaikan diri; yang terjadi justru sebaliknya—kapal menyesuaikan ritme kota.

Pengalaman Literasi yang Tak Biasa: Dari Face Painting hingga Kru 35 Negara

Kekuatan utama Doulos Hope bukan hanya pada jumlah buku, tetapi pada pengalaman literasi yang dibuat menyenangkan dan lintas budaya. Sekitar 100 kru dari 35 negara hidup dan bekerja di atas kapal ini, membawa misi memperluas akses pengetahuan, membangun persahabatan, dan mempertemukan masyarakat dari berbagai latar belakang budaya. Di dek, pengunjung tidak hanya membaca; mereka bisa mengikuti aktivitas seperti face painting, membuat origami, dan berinteraksi langsung dengan kru internasional. Bagi sebagian orang, ini menjadi pertemuan pertama dengan kapal sekaligus pameran buku. Cahaya (22) misalnya, datang karena ingin "coba dua hal sekaligus, antara naik kapal sama event buku di atas kapal". Pameran buku internasional yang dibawa kapal buku terapung ini mengubah kegiatan baca menjadi pengalaman multi-sensori: ada percakapan lintas bahasa, warna-warni cat di pipi anak, dan rasa goyangan lembut kapal yang menyertai setiap halaman.

Tanjung Priok sebagai Panggung Literasi hingga 11 Oktober

Dengan bersandar di Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta Utara sejak 25 September hingga 11 Oktober 2026, Doulos Hope mengubah wajah kawasan yang biasanya identik dengan kontainer dan crane menjadi panggung literasi sementara. Pengalaman ini dirancang sistematis: pengunjung melakukan check-in di Gelanggang Remaja Jakarta Utara, lalu naik shuttle bus menuju lokasi kapal bersandar. Alur tersebut menunjukkan bahwa pameran buku internasional bisa dikelola sekompak operasi pelabuhan; literasi diperlakukan sebagai agenda yang perlu logistik rapi, bukan kegiatan sampingan. Anak-anak, keluarga, dan pencinta buku diajak menjelajahi pengetahuan dari berbagai belahan dunia melalui koleksi dan interaksi lintas budaya di atas kapal. Jadwal yang terbatas hingga awal Oktober menambah rasa mendesak: siapa yang ingin merasakan perpustakaan terapung, harus menyisihkan waktu sekarang, bukan nanti. Kapal tidak menunggu; ia mengajak kota bergerak mendekati buku.

Mengapa Kapal Buku Terapung Seperti Doulos Hope Perlu Datang Lebih Sering

Antusiasme pengunjung yang mengetahui Doulos Hope Jakarta dari media sosial menunjukkan satu hal: masyarakat siap menyambut bentuk-bentuk baru akses pengetahuan. Ketika Arteza menilai harga buku terjangkau dan Cahaya berharap kegiatan serupa dapat diadakan di berbagai kota, mereka sedang menyuarakan kebutuhan akan literasi yang hadir dekat dengan kehidupan sehari-hari, bukan hanya di pusat kota atau ruang akademik. Banyaknya pelabuhan di berbagai daerah memberi peluang agar kapal buku terapung tak berhenti di satu titik. Jika pelabuhan adalah gerbang keluar-masuk barang dan orang, mengapa bukan juga gerbang keluar-masuk ide dan cerita? Pameran buku internasional di atas kapal seperti ini memecah jarak psikologis antara "warga biasa" dan "dunia buku". Konklusinya jelas: kehadiran Doulos Hope hingga 11 Oktober 2026 bukan puncak yang cukup kita rayakan sekali, melainkan argumen kuat bahwa model perpustakaan terapung layak dijadikan agenda rutin di lebih banyak pelabuhan, supaya laut dan literasi saling menyapa lebih sering.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda. Artikel ini dibuat dengan AI dari sumber yang dipublikasikan dan data produk.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!