Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Kapal Perpustakaan Doulos Hope Jadi Jembatan Budaya dan Literasi

Kapal Perpustakaan Doulos Hope Jadi Jembatan Budaya dan Literasi
Minat|Asia Tenggara

Doulos Hope: Kapal Perpustakaan Keliling yang Mengubah Cara Warga Membaca Dunia

Doulos Hope adalah kapal perpustakaan keliling dan pameran buku terapung internasional yang membawa lebih dari 2.000 judul buku dari berbagai negara, berlayar ke banyak pelabuhan di kawasan Asia dan Pasifik untuk membuka akses literasi, mempertemukan masyarakat lintas budaya, dan menghadirkan pengalaman membaca yang melampaui batas ruang kelas maupun perpustakaan konvensional. Kehadirannya di kawasan Pelabuhan Kalibaru dan Tanjung Priok, Jakarta Utara, dari 16 September hingga 11 Oktober 2026, menjadikan dermaga sebagai ruang belajar terbuka bagi siapa saja yang mau datang dan mengantre. Doulos Hope tidak datang sebagai wisata unik semata, melainkan sebagai kritik halus terhadap betapa sempitnya akses literasi Jakarta jika bergantung pada gedung-gedung formal. Ketika sebuah kapal mampu menggerakkan ribuan orang untuk naik tangga demi buku, kita patut bertanya: mengapa pengalaman seperti ini masih terasa langka di kota yang mengklaim diri sebagai pusat pendidikan dan budaya?

Kapal Perpustakaan Doulos Hope Jadi Jembatan Budaya dan Literasi

Kru dari 35 Negara: Pertukaran Budaya Internasional di Atas Dek

Sekitar 120 kru dari 35 negara hidup dan bekerja di atas Doulos Hope, menjadikan kapal ini laboratorium sosial pertukaran budaya internasional yang konkret, bukan slogan acara seremonial. Di dek, di kasir, hingga di area tiket, pengunjung berhadapan langsung dengan sukarelawan yang bahasa Indonesianya terbatas, sementara banyak warga Jakarta juga tidak fasih berbahasa Inggris. Namun, di sinilah keindahannya: komunikasi berlangsung dengan campuran kata sederhana, gestur, dan senyum. Kalimat seperti “No ticket please here” yang diucapkan kru saat mengarahkan antrean mungkin terdengar canggung, tetapi justru memecah jarak psikologis antara “orang lokal” dan “orang asing”. Pertemuan singkat ini mengajarkan bahwa pertukaran budaya tidak membutuhkan forum resmi; cukup ruang aman untuk salah ucap, tertawa bersama, dan menyadari bahwa rasa ingin tahu adalah bahasa bersama. Doulos Hope membuktikan bahwa literasi bukan hanya tentang teks, tetapi juga tentang keberanian berinteraksi lintas latar belakang.

Kapal Perpustakaan Doulos Hope Jadi Jembatan Budaya dan Literasi

Antusiasme Warga Jakarta: Dari Antrian Panjang hingga Tugas Sekolah

Antusiasme warga terhadap Doulos Hope Jakarta terlihat jelas dari antrean tiket yang bisa menembus lebih dari 30 menit, bahkan sampai dua jam pada akhir pekan. Tiket masuk seharga Rp15.000 per orang, dengan anak usia 12 tahun ke bawah dan lansia 65 tahun ke atas gratis, menjadikan kapal ini relatif terjangkau bagi banyak keluarga. Guru-guru memanfaatkan momentum ini sebagai bahan ajar; murid didorong menjadikan kunjungan ke kapal sebagai tugas eksplorasi literasi, bukan sekadar jalan-jalan. Di atas dek, pengunjung berburu buku internasional sambil mengobrol dengan sesama pengunjung dan kru. Siswa dari Sekolah Insan Cendekia Madani, misalnya, menjadikan obrolan dengan pengunjung asing—yang ternyata mahasiswa jurusan Bahasa Indonesia—sebagai pencapaian tugas sekolah. Tentu ada keterbatasan: antrean panjang, kehabisan tiket daring, hingga aturan makanan dan minuman yang harus dihabiskan di dalam kapal. Namun, semua itu justru menegaskan bahwa akses literasi Jakarta akan disambut hangat jika dibuat menarik, dekat, dan menyentuh pengalaman sehari-hari.

Kapal Perpustakaan Doulos Hope Jadi Jembatan Budaya dan Literasi

Peran Bea Cukai dan Pentingnya Infrastruktur untuk Akses Literasi Jakarta

Kehadiran Doulos Hope tidak mungkin terjadi tanpa urusan teknis yang sering luput dari sorotan: kepabeanan. Bea Cukai Tanjung Priok mendukung kelancaran impor buku yang masuk melalui kawasan pelabuhan, dengan pelayanan dan pengawasan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. Kepala kantor setempat menegaskan bahwa importasi buku bukan sekadar arus barang, tetapi berkaitan langsung dengan akses masyarakat terhadap pengetahuan. Buku ilmu pengetahuan yang memenuhi syarat bahkan dapat memperoleh fasilitas pembebasan bea masuk, sebagai bentuk dukungan terhadap akses literasi. Pernyataan ini penting karena menunjukkan bahwa negara bisa berpihak pada pengetahuan jika mau. “Melalui pelayanan yang efektif dan sesuai dengan peraturan, Bea Cukai turut mendukung masuknya berbagai sumber literatur yang dapat memperluas akses masyarakat terhadap pengetahuan dari berbagai penjuru dunia,” kata Galih Elham Setiawan. Namun, dukungan seperti ini tidak boleh berhenti pada momen ketika kapal perpustakaan keliling bersandar. Jika birokrasi mampu mempermudah masuknya ribuan buku untuk satu kapal, seharusnya ia juga mampu mempercepat akses literatur global ke perpustakaan-perpustakaan di seluruh kota.

Kapal Perpustakaan Doulos Hope Jadi Jembatan Budaya dan Literasi

Doulos Hope sebagai Cermin: Apa yang Harus Dilakukan Jakarta Setelah Kapal Berlayar Pergi?

Doulos Hope berkunjung ke Jakarta hanya dari 16 September hingga 11 Oktober 2026; setelah itu, kapal akan melanjutkan perjalanan ke pelabuhan lain di Asia dan Pasifik. Pertanyaannya: apakah dampaknya berhenti ketika tali tambat dilepas? Guru yang mengajak murid menonton video kapal di kelas, pustakawan yang memburu buku bahasa Inggris yang tidak dijual di dalam negeri, hingga keluarga yang rela mengantre berjam-jam, semua menunjukkan bahwa akses literasi Jakarta bisa diperluas jika ada inisiatif kreatif. Kapal ini seharusnya dibaca sebagai cermin, bukan sekadar tamu. Ia memperlihatkan betapa kuatnya daya tarik perpustakaan ketika digabung dengan pengalaman ruang, perjalanan, dan pertukaran budaya internasional. Setelah Doulos Hope berlayar pergi, tugas kota adalah memastikan semangat itu tidak ikut menghilang: memperkuat perpustakaan publik, mendorong program literasi yang melibatkan komunitas lintas budaya, dan menjadikan pelabuhan bukan hanya pintu keluar-masuk barang, tetapi juga pintu masuk gagasan. Jika sebuah kapal bisa menyalakan rasa ingin tahu ribuan orang dalam beberapa minggu, Jakarta tidak punya alasan untuk membiarkan api itu padam.

Kapal Perpustakaan Doulos Hope Jadi Jembatan Budaya dan Literasi

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!