Pameran yang menuntut riset keluar dari laboratorium
Pameran inovasi riset adalah ruang bagi perguruan tinggi untuk mempertemukan hasil penelitian dengan masyarakat, industri, dan pihak yang dapat membantu mengembangkannya menjadi solusi yang digunakan sehari-hari. Gagasan itu akan diuji di Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) 2026, yang berlangsung di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya, pada 10–13 November. Sekitar 500 produk riset kampus dari berbagai daerah dijadwalkan tampil. Nilai acara ini tidak semestinya diukur dari banyaknya stan, melainkan dari seberapa jauh pengunjung memahami persoalan yang hendak diatasi dan bagaimana peneliti merancang solusinya. Kemdiktisaintek menempatkan peneliti, inventor, inovator, pelaku industri, dan investor dalam satu forum. Itu pilihan yang tepat: prototipe akan sulit memberi dampak jika penemunya tidak bertemu pihak yang mampu membantu pengujian, produksi, dan pemanfaatan.
KSTI mengusung semangat “knowledge to impact”, dengan harapan ilmu pengetahuan memberi dampak bagi perekonomian, kesejahteraan masyarakat, dan kemajuan industri. Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek, Mohammad Fauzan Adziman, mengatakan sekitar 490 produk siap dipamerkan setelah proses seleksi dari kurang lebih 850 usulan. Angka 500 yang digunakan untuk skala pameran menunjukkan jumlah yang dibulatkan, sementara angka seleksi yang disampaikan Fauzan lebih spesifik. Perbedaan ini tidak mengurangi hal pentingnya: puluhan hingga ratusan gagasan harus disaring sebelum sampai ke hadapan publik.

Kurasi berawal dari penjaringan kampus
Daftar pameran bukan kumpulan produk yang dipilih tanpa proses. Tim Kemdiktisaintek melakukan survei ke kampus-kampus di berbagai daerah selama sekitar dua bulan, lalu menghimpun sekitar 850 produk untuk dikurasi. Dari penjaringan perguruan tinggi di seluruh Indonesia itu, sekitar 490 dinyatakan siap tampil di Surabaya. Seleksi semacam ini penting karena pameran yang kuat seharusnya menawarkan karya dengan persoalan, sasaran, dan arah pemanfaatan yang dapat dijelaskan—bukan sekadar prototipe yang tampak menarik.
Kehadiran para inventor di lokasi memberi proses kurasi itu nilai tambahan. Pengunjung dapat bertanya langsung tentang masalah yang melatarbelakangi sebuah riset dan solusi yang sedang dikembangkan. Dengan cara ini, pameran berpeluang menjadi percakapan antara peneliti dan calon pengguna, bukan hanya parade teknologi. Bagi mahasiswa dan generasi muda, kesempatan melihat proses tersebut juga dapat membuat sains dan rekayasa terasa lebih dekat dengan kebutuhan nyata.
Dari robot AI hingga motor listrik riset
Sorotan yang paling mudah menarik perhatian kemungkinan datang dari Robot Challenge dan pengembangan kendaraan listrik. Ajang robotika mencakup kategori humanoid, sepak bola, sumo, mini soccer, serta robot otonom berbasis kecerdasan buatan. Kehadiran robot AI Indonesia di arena kompetisi dapat memperkenalkan kemampuan robotika kepada publik sekaligus mengundang minat generasi muda. Namun, daya tarik lomba akan lebih berarti bila pengunjung juga melihat bagaimana teknologi tersebut dikembangkan dan persoalan apa yang dapat ditanganinya.
Di sektor transportasi, pengunjung akan melihat pengembangan sepeda motor listrik dan desain kereta cepat hasil riset konsorsium perguruan tinggi. Motor listrik riset menjadi salah satu contoh yang penting: hasil kampus dapat menyentuh kebutuhan mobilitas, tetapi keberhasilan jangka panjang bergantung pada jalan dari pengembangan menuju pemanfaatan yang lebih luas. KSTI juga menghubungkan inventor, inovator, dan investor, sehingga pameran berpotensi membuka percakapan lanjutan tentang pengujian dan produksi tanpa menjanjikan hasil yang belum terjadi.
Ragam solusi untuk kebutuhan sehari-hari
Isi pameran tidak berhenti pada robot dan transportasi. Di bidang teknologi asistif, ada kursi roda balap berbahan serat karbon, mesin pencetak Braille, serta teknologi tiga dimensi yang membantu penyandang tunanetra memahami bentuk melalui sentuhan. Di bidang kesehatan, pengunjung dapat melihat alat diagnosis dini demam berdarah dari Universitas Indonesia dan fototerapi pintar untuk bayi kuning dari Universitas Airlangga. Ragam ini memperlihatkan bahwa riset kampus dapat menyasar aksesibilitas maupun kebutuhan layanan kesehatan, bukan hanya teknologi yang mudah dipertontonkan.
Untuk kebencanaan, pameran mencakup pesawat nirawak untuk pemetaan dan mitigasi, teknologi pendeteksi asap dan api, serta perangkat pendukung penanganan banjir dan tanah longsor. Cakupan dari kesehatan hingga kesiapsiagaan bencana membuat KSTI menarik bagi masyarakat luas, bukan semata kalangan akademik. Ukuran keberhasilannya tetap bukan banyaknya inovasi yang dipajang, melainkan apakah hubungan yang dibangun di Surabaya membantu solusi tersebut bergerak dari ruang riset ke penggunaan nyata.






