Riset adalah fondasi kemandirian kendaraan listrik
Teknologi kendaraan listrik adalah rangkaian pengetahuan, rekayasa, dan inovasi yang memungkinkan kendaraan digerakkan dengan tenaga listrik serta dikembangkan sesuai kebutuhan pengguna dan industri. Tanpa kemampuan membangun teknologi sendiri, sebuah negara berisiko hanya menjadi pasar bagi produk dan sistem yang dibuat pihak lain. Itulah inti dorongan Wakil Presiden Gibran Rakabuming saat bertemu Prof. Ching-Chuen Chan di Istana Wakil Presiden, Jakarta, pada 28 Oktober 2026. Pertemuan itu membahas penguatan riset dalam negeri, dukungan pemerintah, dan peran generasi muda dalam menghasilkan teknologi secara mandiri. Gibran menilai Indonesia memiliki sumber daya yang mendukung, tetapi kemampuan inovasinya masih berada pada tahap awal. Pesannya tepat: sumber daya alam saja tidak menghasilkan keunggulan industri. Nilainya baru tumbuh ketika riset, keterampilan, dan kemampuan rekayasa mengubah potensi itu menjadi produk yang dirancang dan dikembangkan di dalam negeri.
Motor listrik nasional perlu lebih dari insentif
Sepeda motor listrik menjadi salah satu fokus pemerintah, sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto. Gibran menyebut industri kendaraan listrik nasional mulai berkembang dan pemerintah perlu mengkaji insentif yang tepat agar lebih banyak masyarakat beralih menggunakan kendaraan listrik. Kebijakan seperti ini penting bagi pengguna: dukungan konsumen dapat memperluas minat sekaligus membantu pasar tumbuh. Namun, insentif pembelian tidak boleh menjadi ukuran tunggal keberhasilan. Jika permintaan meningkat sementara teknologi dan komponen utama tetap bergantung pada luar negeri, manfaatnya bagi kemampuan industri dalam negeri akan terbatas. Motor listrik nasional membutuhkan jalur pengembangan yang menghubungkan kebutuhan pasar dengan riset, produksi, dan pembelajaran teknologi. Dorongan agar konsumen beralih akan lebih berarti bila berjalan beriringan dengan upaya menciptakan produk yang sesuai kebutuhan lokal dan terus disempurnakan oleh tenaga ahli di dalam negeri.
Perguruan tinggi harus menjadi pusat inovasi
Pertemuan Gibran dan Prof. Chan juga menyoroti bagaimana membangun kemampuan manusia yang dapat menopang industri. Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie mengatakan kurikulum perguruan tinggi perlu disesuaikan dan sertifikasi kompetensi diperkuat agar lulusan memiliki keterampilan sesuai kebutuhan industri. Itu langkah penting, tetapi perguruan tinggi tidak seharusnya hanya menjadi pemasok tenaga kerja. Riset kendaraan listrik perlu mendapat tempat sebagai kegiatan yang menghasilkan pengetahuan dan teknologi baru, dengan hubungan yang erat antara kampus dan industri. Kolaborasi Indonesia dan Tiongkok, sebagaimana dibahas Prof. Chan, dapat membuka pertukaran pengetahuan dan peluang bagi generasi muda. Namun, kerja sama akan paling berguna jika memperkuat kapasitas lokal, bukan menggantikan upaya membangunnya. Insentif untuk peneliti muda juga dapat mendorong eksperimen dan membantu gagasan berkembang menjadi inovasi kendaraan listrik yang dapat dipakai dan diproduksi.
Menguasai teknologi berarti membentuk masa depan industri
Penguasaan teknologi menentukan apakah industri dalam negeri mampu merancang, mengembangkan, dan meningkatkan produk sendiri, atau terus membeli solusi dari negara lain. Prof. Chan mengingatkan bahwa teknologi unggulan harus dibangun melalui riset, pengembangan, dan inovasi mandiri. Bagi industri kendaraan listrik, kemandirian bukan berarti menutup pintu terhadap kerja sama; artinya, kemitraan dan pembelian teknologi harus disertai proses belajar yang memperbesar kemampuan lokal. Langkah berikutnya perlu melampaui pernyataan dukungan: memperkuat pendanaan riset, memperluas kerja sama kampus dan industri, membangun rantai pasok komponen dalam negeri, serta membuka ruang bagi inovator muda. Ukuran kemajuan bukan hanya bertambahnya pengguna, melainkan juga tumbuhnya kemampuan untuk menghasilkan teknologi yang kompetitif. Tanpa agenda itu, Indonesia berisiko memperluas pasar kendaraan listrik tanpa memperkuat kendali atas inovasinya. Kemandirian hanya akan terwujud ketika riset menjadi bagian inti strategi industri.






