Madrasah membuktikan daya saing riset
Kompetisi Riset dan Inovasi Siswa Indonesia (KREASI) adalah ajang nasional yang mempertemukan pelajar untuk mengembangkan, menguji, dan mempresentasikan gagasan riset serta inovasi. Hasil KREASI 2026 memperlihatkan bahwa prestasi siswa madrasah tidak bertumpu pada satu jenis karya atau penghargaan: ada juara umum dengan banyak medali, riset budaya yang mendapat apresiasi juri dan publik, serta capaian lintas bidang. Keragaman ini layak diperhatikan karena menunjukkan riset dapat tumbuh dari minat yang berbeda, bukan hanya sains dan teknologi. MTsN 1 Kota Pekanbaru menjadi peraih tertinggi dengan gelar juara umum I nasional, sementara MAN 2 Kebumen dan MAN 1 Bandar Lampung membawa pulang penghargaan untuk karya budaya dan pendidikan karakter. Gabungan hasil tersebut menjadi bukti kuat bahwa madrasah mampu mengembangkan nalar kritis sekaligus inovasi pelajar yang berangkat dari persoalan dan warisan di sekitar mereka.
Pekanbaru memimpin perolehan medali
MTsN 1 Kota Pekanbaru meraih juara umum I tingkat nasional KREASI 2026 dengan empat medali emas, empat medali perak, dan satu honorable mention. Kompetisi berlangsung di Yogyakarta pada 17–20 Oktober 2026. Perolehan sembilan penghargaan itu menempatkan madrasah tersebut sebagai salah satu sorotan utama ajang, sekaligus membawa pulang medali terbanyak ke Riau. Hasil ini patut dibaca sebagai capaian kolektif, bukan sekadar kemenangan beberapa peserta: kerja siswa, pendampingan guru, serta dukungan keluarga dan warga madrasah ikut membentuk ruang bagi riset untuk berkembang. Kepala madrasah Agus Salim Tanjung menyebut prestasi tersebut sebagai hasil kesungguhan peserta didik dan dukungan berbagai pihak. Lebih dari kebanggaan institusi, hasil Pekanbaru menunjukkan bahwa pembinaan yang konsisten dapat memberi siswa kesempatan bersaing di panggung nasional dan menghasilkan karya yang mendapat pengakuan.

Kebumen mengangkat warisan pesantren
Dua siswi MAN 2 Kebumen, Kamila Nur Cahyani dari kelas XII-3 dan Salima Ramadhani dari kelas XII-1, meraih Bronze Medal serta Favorite Social Media Campaign dalam bidang Budaya dan Agama. Karya mereka berjudul “Reaktualisasi Living Heritage melalui Integrasi Tradisi dan Inovasi di Pondok Pesantren Al-Kahfi Somalangu, Kabupaten Kebumen.” Penelitian itu menelaah bagaimana tradisi dan nilai pesantren dapat terus diwariskan ketika modernisasi serta digitalisasi mengubah cara generasi muda berinteraksi dengan budaya. Pilihan topik ini penting: riset tidak harus mengejar hal yang jauh dari kehidupan siswa untuk dianggap inovatif. Dengan mengkaji warisan lokal dan memikirkan cara penyajiannya agar tetap relevan, keduanya menunjukkan bahwa inovasi juga dapat berfungsi sebagai jembatan antara tradisi dan generasi baru. Penghargaan kampanye media sosial melengkapi medali perunggu, memperlihatkan bahwa komunikasi hasil penelitian ikut mendapat tempat dalam kompetisi.
Bandar Lampung meraih dua penghargaan
MAN 1 Bandar Lampung mengirim dua tim dan keduanya pulang membawa medali. Rafifah Darajathul Aliyah dan Annisa Zahra meraih Gold Medal bidang Budaya, sedangkan Yasmin Nazillah dan Aiko Tufailah memperoleh Bronze Medal bidang Pendidikan Karakter. Penghargaan tersebut memperluas gambaran capaian madrasah dalam KREASI 2026: penelitian budaya hadir berdampingan dengan kajian karakter, sementara tim dari sekolah lain mengangkat warisan pesantren. Peserta melewati tahap pengajuan proposal, laporan penelitian, lalu final yang mencakup laporan akhir, pameran, dan presentasi. Proses bertahap itu menuntut lebih dari gagasan menarik; siswa juga harus mengembangkan dan menyampaikan hasil risetnya. Pendampingan Dwianti Marthalena dan Dardiri turut membantu kedua tim mempersiapkan penelitian hingga final. Jika kompetisi riset siswa ingin mendorong lebih banyak pelajar meneliti, ragam tema dan bentuk penghargaan seperti ini memberi contoh yang konkret.

Ragam karya adalah capaian yang lebih luas
Tiga madrasah ini meraih hasil melalui jalur yang berbeda: MTsN 1 Kota Pekanbaru memimpin klasemen penghargaan, MAN 2 Kebumen menggabungkan penelitian budaya dengan kampanye media sosial, dan MAN 1 Bandar Lampung memperoleh medali pada bidang budaya serta pendidikan karakter. Perbedaan itu justru menjadi kekuatan KREASI 2026. Ia menegaskan bahwa prestasi siswa madrasah tidak semata-mata diukur dari banyaknya medali, tetapi juga dari keberanian mengajukan pertanyaan, meneliti lingkungan sosial, dan mengemas temuan agar menjangkau orang lain. Karena itu, penghargaan nasional patut dirayakan sekaligus dijadikan dorongan untuk memperluas kebiasaan riset di sekolah. Kesimpulannya jelas: ketika siswa mendapat pendampingan dan ruang untuk mengembangkan ide, madrasah dapat melahirkan inovasi pelajar yang beragam, relevan, dan mampu bersaing.






