Dialog sebagai bagian dari pengamanan
Pendekatan dialogis dalam pengamanan adalah cara aparat menjaga ketertiban dengan berkomunikasi langsung, mendengarkan persoalan warga, dan mencegah risiko sebelum berkembang menjadi gangguan keamanan. Di Dogiyai, strategi ini patut mendapat perhatian karena pengamanan yang hanya mengandalkan pemeriksaan berisiko menjauhkan aparat dari masyarakat yang ingin dilindungi. TNI-Polri mengedepankan komunikasi langsung untuk menjaga keamanan dan mencegah gangguan kamtibmas di Kabupaten Dogiyai, Papua Tengah, yang disebut memiliki tingkat kerawanan cukup tinggi. Kapolres Dogiyai Kompol Dr Piter Kendek menjelaskan bahwa komunikasi dengan warga dibangun melalui berbagai cara untuk menjaga kondusivitas daerah. Dengan demikian, kehadiran aparat tidak semestinya dipahami sebatas patroli atau razia. Mendengar langsung kondisi dan persoalan warga juga merupakan bagian penting dari upaya menjaga keamanan Dogiyai.
Patroli harus disertai komunikasi
Pada Sabtu (24/10), patroli gabungan menyisir Kampung Ugapuga dan Idakebo. Menurut Piter, kegiatan itu sekaligus menjadi kesempatan untuk berbicara dengan warga, bukan hanya mengantisipasi gangguan keamanan. Ini pilihan yang tepat: pemeriksaan dapat menemukan benda berbahaya, sementara percakapan memberi aparat gambaran tentang keresahan dan persoalan setempat. Puluhan personel TNI-Polri menyisir kedua kampung dengan enam kendaraan roda empat. Pemeriksaan mencakup pengendara kendaraan roda dua dan roda empat serta sejumlah warga yang berjalan kaki. Petugas mengamankan dua pisau, satu parang, dan satu katapel untuk penanganan lebih lanjut. Temuan itu menjelaskan alasan kewaspadaan, tetapi keberhasilan strategi tak cukup diukur dari barang yang disita. Bagi TNI-Polri Dogiyai, menjaga komunikasi dan membangun kepercayaan perlu berjalan seiring dengan tindakan pengamanan.
Keamanan membutuhkan dukungan warga
Pendekatan dialogis hanya akan bermakna jika warga diperlakukan sebagai mitra, bukan sekadar sasaran pemeriksaan. Piter menegaskan bahwa keamanan memerlukan sinergi aparat dan dukungan masyarakat, serta mengajak warga menjaga lingkungan dan segera melapor jika mengetahui potensi gangguan kamtibmas. Ia juga mengimbau masyarakat agar tidak membawa atau menggunakan senjata tajam yang dapat membahayakan orang lain dan menyelesaikan persoalan dengan aman. Pesan tersebut menempatkan tanggung jawab pada kedua pihak: aparat perlu hadir dan mendengar, sementara warga dapat membantu mencegah risiko di lingkungan mereka. Namun, ajakan melapor harus ditopang komunikasi yang konsisten dan sikap aparat yang terbuka. Tanpa hubungan saling percaya, informasi penting mungkin tidak sampai. Karena itu, dialog bukan pelengkap patroli, melainkan salah satu syarat agar strategi pencegahan gangguan kamtibmas dapat bertahan.
Ukuran keberhasilan adalah rasa aman
TNI-Polri berharap patroli dialogis menjaga situasi di Ugapuga, Idakebo, dan wilayah sekitarnya agar masyarakat dapat beraktivitas dengan aman dan nyaman. Harapan itu memberi ukuran yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari: warga bisa menjalankan kegiatan tanpa rasa takut, bukan hanya melihat peningkatan kehadiran aparat. Patroli gabungan pada Sabtu (24/10) merupakan langkah yang tercatat; sumber tidak merinci jadwal operasi berikutnya. Karena itu, tindak lanjut yang jelas dan komunikasi berkelanjutan akan menentukan apakah pendekatan ini benar-benar mencegah gangguan kamtibmas, bukan hanya meresponsnya. Kesimpulannya, pilihan TNI-Polri Dogiyai untuk menggabungkan pengamanan dengan dialog adalah strategi yang masuk akal di daerah rawan. Konsistensi, sikap mendengar, dan keterlibatan warga harus menjadi bagian dari pelaksanaannya agar keamanan Dogiyai terasa dalam aktivitas masyarakat.






