Pameran sebagai pintu, bukan tujuan
Paviliun Indonesia dan Shanghai Fair adalah dua jalur promosi lintas negara: yang satu memperkenalkan karya kreatif kepada audiens global, sedangkan yang lain mempertemukan perusahaan dan pelaku usaha untuk mencari peluang kerja sama. Perbedaannya penting, sebab perhatian terhadap produk belum otomatis berubah menjadi transaksi atau kemitraan.
Kementerian Ekonomi Kreatif membawa Paviliun Indonesia ke Gamescom Asia x Thailand Game Show 2026 di Bangkok pada 30 Oktober hingga 1 November untuk mengenalkan karya, talenta, dan ekosistem game nasional kepada pelaku industri global. Sementara itu, Shanghai Fair Indonesia 2026 dijadwalkan berlangsung di JIExpo Kemayoran, Jakarta, pada 11–12 November sebagai ajang dagang Indonesia–Tiongkok.
Keduanya masuk akal sebagai strategi perluasan pasar, tetapi hasilnya bergantung pada tindak lanjut. Pameran kreatif perlu mengubah rasa ingin tahu menjadi jaringan, penerbitan, dan penjualan; forum bisnis perlu menghasilkan kecocokan mitra yang konkret.
Game lokal perlu lebih dari sekadar sorotan
Di Bangkok, program Creative by Indonesia menghadirkan enam studio game dan dua media gaming melalui paviliun bertajuk Game From Indonesia. Ruang ini memberi pengembang kesempatan memperkenalkan kekayaan intelektual lokal, membangun jejaring profesional, dan menjajaki peluang bisnis. Tiga kreator konten—Rizki Abdallah, Reshiane Carnella Rashid, dan Muhammad Zidny Attalathariq Syah—ikut membuat pemberitaan, wawancara, siaran langsung, serta konten kesan pertama.
Pendekatan ini tepat karena game bukan produk yang cukup dipajang: calon pemain perlu mencoba, sementara calon mitra perlu memahami identitas dan potensi pasarnya. Namun, eksposur hanya langkah awal. Direktur Game Kemenekraf, Luat Sihombing, menekankan pentingnya kualitas, pemahaman pasar, keunikan produk, lokalisasi bahasa dan budaya, serta rencana jangka panjang untuk IP.
Tantangan berikutnya ialah penerbitan dan pemasaran. Kekuatan teknis pengembang perlu disertai strategi komersial, sementara media dan kreator dapat membantu membangun audiens serta komunitas. Tanpa kesinambungan itu, perhatian selama Gamescom Asia berisiko berhenti ketika pameran usai.

Shanghai Fair mengutamakan kecocokan bisnis
Berbeda dari promosi game yang mengandalkan pengalaman produk dan cerita kreatif, Shanghai Fair dirancang sebagai forum B2B. Ratusan perusahaan asal Shanghai akan bertemu pelaku usaha Indonesia untuk menjajaki kerja sama di sektor manufaktur, teknologi, kesehatan, dan perdagangan jasa.
Pameran ini mencakup barang konsumen, kesehatan, inovasi teknologi, manufaktur, dan jasa, dengan produk serta layanan mulai dari peralatan rumah tangga pintar dan perangkat medis hingga AI, otomasi, energi baru, logistik, keuangan, dan perdagangan digital. Forum diskusi dan business matching mengarahkan pertemuan kepada calon pembeli dan pemasok yang relevan.
Wakil Ketua Komite Perdagangan Jasa Shanghai Service Federation, Fu Wengang, menyebut Indonesia sebagai pasar strategis bagi perusahaan Shanghai untuk memperluas jangkauan dan mencari mitra. Nilai pendekatan ini terletak pada fokusnya: bukan hanya melihat produk, tetapi membahas kebutuhan, pemasok, dan kemungkinan kolaborasi. Pengunjung umum, profesional, maupun calon mitra bisnis dapat mendaftar gratis hingga 12 November 2026.

Dari perhatian menuju hubungan berkelanjutan
Dua pameran tersebut memperlihatkan bahwa promosi internasional membutuhkan cara yang berbeda sesuai jenis produk. Industri game Indonesia perlu membangun daya tarik bagi pemain sekaligus meyakinkan penerbit dan mitra bahwa IP lokal punya arah bisnis. Shanghai Fair, sebaliknya, mengawali proses melalui pertemuan terarah antara perusahaan, pembeli, dan pemasok.
Kedua model sama-sama berisiko menjadi seremoni jika tidak diikuti komunikasi dan kerja nyata. Bagi pengembang game, tindak lanjut berarti mengembangkan komunitas, melokalkan produk, dan memperkuat strategi penerbitan. Bagi peserta Shanghai Fair, berarti mengolah pertemuan bisnis menjadi pembahasan teknis dan kemitraan yang jelas.
Kesimpulannya, Paviliun Indonesia membangun panggung bagi karya kreatif, sedangkan Shanghai Fair menyediakan meja perundingan lintas negara. Keduanya membuka akses, tetapi keberhasilan ditentukan oleh kemampuan peserta menjaga hubungan setelah pameran dan mengubah perkenalan menjadi peluang berkelanjutan.






