Pengiriman perdana yang melibatkan banyak pelaku
Ekspor terasi Asahan adalah pengiriman produk olahan udang rebon dari usaha kecil pesisir ke pembeli luar negeri, yang mengubah hasil tangkapan lokal menjadi komoditas bernilai tambah dan membuka akses pasar baru. Pengiriman perdana sebanyak 40 ton ke Thailand bernilai Rp230 juta dan melibatkan 32 UMKM lokal; ini lebih dari seremoni, karena usaha rumah tangga kini mendapat pijakan untuk masuk ke rantai perdagangan lintas negara. Zulkifli Hasan, Menteri Koordinator Bidang Pangan, dan Wakil Gubernur Sumatera Utara Surya melepas ekspor tersebut. Rangkaian pelepasan dilaporkan berlangsung di Aula Melati Kantor Bupati pada 24 Oktober 2026, sedangkan truk kontainer diberangkatkan dari depan kantor pada 27 Oktober. Perbedaan tanggal itu menunjukkan adanya seremoni dan pemberangkatan dalam rangkaian kegiatan, bukan alasan untuk mengaburkan capaian utamanya: produk pesisir Asahan kini memiliki pembeli di luar negeri.
Potensi perikanan perlu diolah, bukan hanya dijual
Keberhasilan ini punya dasar ekonomi yang nyata. Hingga September 2026, produksi perikanan tangkap Asahan mencapai 50.658 ton, terbesar kedua di Sumatera Utara. Mengolah sebagian hasil tangkapan menjadi terasi memberi peluang menciptakan nilai tambah setempat, alih-alih bergantung hanya pada penjualan bahan mentah. Data dalam sambutan pemerintah juga mencatat volume ekspor terasi meningkat dari 1.897,7 ton pada 2025 menjadi 2.758,5 ton pada 2026, sementara nilainya naik dari sekitar Rp21 miliar menjadi Rp34 miliar. Angka tersebut memberi alasan untuk optimistis, tetapi tidak menjamin setiap UMKM menikmati manfaat yang sama. Agar kenaikan permintaan sampai ke nelayan dan pengolah kecil, kontrak pasokan, pembagian peran, dan akses bahan baku perlu ikut berkembang. Dengan demikian, ekspor bukan sekadar angka agregat, melainkan kesempatan memperkuat usaha yang bertumpu pada perikanan lokal.
Dukungan pemerintah harus menjadi bekal usaha
Kehadiran pemerintah pusat dan provinsi penting karena akses ekspor menuntut lebih dari produk yang laku. Pemprov Sumatera Utara mendorong pemasaran UMKM melalui Sumut Digiekspor 2026, termasuk fasilitasi di platform perdagangan internasional seperti Alibaba.com dan program inkubator bisnis untuk memperkuat kesiapan usaha dari hulu hingga hilir. Di sisi lain, pendampingan yang disebut dalam proses ekspor membantu usaha kecil meningkatkan kapasitas produksi dan memenuhi persyaratan mutu produk perikanan. Langkah berikutnya harus praktis: menjaga mutu secara konsisten, memenuhi standar dan legalitas, membenahi kemasan serta merek, dan memastikan pasokan tidak terputus. Tanpa hal-hal tersebut, dukungan promosi hanya akan menghasilkan perhatian sesaat. Pemerintah juga perlu mempertemukan UMKM dengan eksportir, distributor, dan pembeli agar pengiriman perdana berkembang menjadi hubungan dagang yang berulang.
Dari Thailand menuju peluang pasar ASEAN
Thailand memberi UMKM perikanan pesisir Asahan pintu masuk konkret ke perdagangan internasional ASEAN. Keberhasilan menjangkau satu pasar regional dapat menjadi dasar untuk memperluas jaringan pemasaran dan kapasitas produksi, sekaligus membuka peluang bagi produk unggulan daerah lain untuk ikut dikenal. Namun, ekspor perdana belum sama dengan keberlanjutan. Permintaan luar negeri harus diikuti kemampuan memenuhi standar, mempertahankan mutu, dan memasok secara teratur—tantangan yang menentukan apakah manfaatnya akan bertahan setelah sorotan acara usai. Jika perdagangan berlanjut, nelayan, pengolah hasil perikanan, pekerja, dan keluarga yang menggantungkan hidup pada sektor ini berpeluang memperoleh pendapatan lebih baik, sementara kebutuhan produksi dapat membuka lapangan kerja. Jadi, ukuran sukses berikutnya bukan hanya berapa ton terkirim, melainkan seberapa luas manfaatnya dirasakan masyarakat. Ekspor terasi Asahan layak menjadi model pemberdayaan jika akses pasar dibarengi kesiapan usaha dan pembagian peluang yang nyata.






