Tiga hari genangan, dampak terus meluas
Banjir Subulussalam adalah genangan yang merendam permukiman dan fasilitas umum di Kota Subulussalam setelah hujan berintensitas tinggi membuat Sungai Lae Souraya dan Sungai Rikit meluap, dengan air bertahan selama tiga hari. Banjir mulai terjadi pada Sabtu, 24 Oktober 2026, sekitar pukul 15.00 WIB. Hingga laporan pada 27 Oktober, BNPB menyatakan air belum surut; laporan berikutnya mencatat genangan telah menjangkau 21 gampong dan membuat 2.013 rumah terendam. Skala ini menunjukkan bencana bukan sekadar persoalan air di halaman rumah: semakin lama genangan bertahan, semakin besar gangguan terhadap aktivitas dan kebutuhan sehari-hari. Karena itu, perhatian perlu beralih dari pencatatan jumlah bangunan menuju pemantauan kondisi warga, akses layanan, dan kebutuhan mendesak di setiap wilayah.
Menurut BNPB, banjir berdampak pada 1.368 orang, sementara pendataan lokal mencatat 1.985 kepala keluarga masih dalam proses pendataan sebagai warga terdampak banjir. Kedua angka ini berasal dari pelaporan dan cakupan pendataan yang berbeda, sehingga tidak semestinya dianggap sebagai angka yang saling bertentangan atau dijumlahkan. Selama data lapangan terus diperbarui, pemerintah daerah perlu memastikan informasi mengenai warga yang membutuhkan bantuan dapat segera ditindaklanjuti.

Rumah bukan satu-satunya yang terendam
Luapan sungai menggenangi permukiman di Kecamatan Sultan Daulat dan Kecamatan Rundeng. Tiga gampong di Sultan Daulat terdampak, sedangkan 18 gampong di Rundeng masuk dalam laporan, sehingga totalnya mencapai 21 gampong. Selain 2.013 rumah terendam, air juga masuk ke jalan desa, lahan dan kebun pertanian, sekolah, serta tempat ibadah. Kerusakan pada ruang publik dan sumber penghidupan membuat dampak banjir melampaui kerugian rumah tangga: mobilitas dapat terhambat dan kegiatan belajar maupun aktivitas pertanian ikut terganggu. Tiga keluarga dari Gampong Sibuasan dilaporkan mengungsi. Belum ada korban jiwa yang dilaporkan, tetapi ketiadaan laporan korban tidak mengurangi kebutuhan untuk memeriksa keselamatan warga, terutama selama genangan belum surut.
Respons awal telah mencakup kajian cepat dan pengerahan Tim Reaksi Cepat BPBD Kota Subulussalam untuk mengevaluasi kondisi serta mendata dampak. Langkah itu penting, tetapi harus diikuti pembaruan data yang menjelaskan lokasi terdampak, kebutuhan dasar, dan kemungkinan warga harus mengungsi lebih lama. Ketika jalan dan fasilitas umum terendam, informasi yang cepat dan jelas menjadi bagian dari penanganan, bukan sekadar pelengkap.

Banjir Aceh perlu dipantau lintas wilayah
Subulussalam bukan satu-satunya wilayah yang dilaporkan kebanjiran. Genangan juga dilaporkan di Kabupaten Nagan Raya dan Aceh Tenggara, tetapi BNPB belum menerima informasi lengkap tentang jumlah warga terdampak di kedua kabupaten tersebut. Kekosongan data ini penting: tanpa gambaran jumlah warga dan kebutuhan di tiap lokasi, respons dapat terlambat atau tidak tepat sasaran. Perkembangan banjir Aceh karena itu perlu dibaca sebagai situasi lintas wilayah, bukan hanya krisis di satu kota.
Air yang belum surut menuntut pemantauan dan pendataan berkelanjutan agar perkembangan serta kebutuhan warga di wilayah terdampak diketahui. Pemerintah daerah perlu bergerak cepat memastikan kebutuhan dasar terpenuhi sekaligus mengurangi risiko dampak lanjutan. Kesimpulannya, angka 21 gampong dan 2.013 rumah terendam sudah menunjukkan besarnya persoalan di Subulussalam, tetapi mutu respons akan ditentukan oleh tindak lanjut: data yang diperbarui, dukungan bagi warga, dan perhatian terhadap wilayah lain yang juga kebanjiran.






