Bahan sekitar menjadi sumber kreativitas
Rumah Kreatif Boek Khaman adalah kerajinan komunitas di Desa Lubuk Raman yang mengolah potensi tumbuhan setempat menjadi batik khas desa dan mencari cara agar sisa pewarna tidak mencemari lingkungan. Inisiatif ini layak diperhatikan karena menunjukkan bahwa kegiatan ekonomi kreatif dapat bertolak dari bahan dan pengetahuan yang dekat dengan kehidupan warga. Sekelompok ibu rumah tangga dan remaja mengembangkan usaha batik melalui rumah kreatif ini di Kecamatan Rambang Niru, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan. Mereka mempelajari potensi tumbuhan di sekitar desa, menggunakan bahan pewarna alami, serta mengolah kembali limbah pewarna cair. Dengan demikian, kerajinan daun bukan sekadar gagasan tentang motif, melainkan bagian dari upaya memakai sumber lokal dengan lebih bertanggung jawab. Nilai inisiatif ini terletak pada perpaduan keterampilan, budaya, dan perhatian terhadap lingkungan.

Batik Khaman tumbuh menjadi peluang usaha
Batik Khaman memperlihatkan bahwa kerajinan tradisional bisa memiliki tempat dalam ekonomi warga ketika keterampilan mendapat dukungan dan pasarnya berkembang. Produk Rumah Kreatif Boek Khaman menerima pesanan dari Muara Enim, berbagai daerah di Sumatera Selatan, hingga luar provinsi. Menurut Etika Oktasari, ketua Rumah Kreatif Boek Khaman, produksi pesanan mencapai sekitar 200 lembar per bulan. Pendampingan Pertamina EP Limau Field, yang dimulai pada 2023, turut mendukung pencapaian tersebut. Angka produksi itu memberi gambaran tentang peluang yang mulai terbentuk, tetapi keberlanjutannya bergantung pada kemampuan menjaga mutu dan memenuhi permintaan. Bagi warga, Batik Khaman bukan hanya kain bermotif khas; ia menjadi jalan untuk mengubah keterampilan menjadi kegiatan produktif yang bisa menopang penghasilan keluarga.

Generasi muda ikut membatik, tantangan tetap ada
Ketertarikan remaja desa untuk menjadi pembatik memberi alasan kuat untuk melihat usaha ini sebagai investasi keterampilan bagi masa depan. Penghasilan perajin dilaporkan berkisar Rp 2 juta hingga Rp 3 juta per bulan, dan dapat mencapai Rp 5 juta ketika pesanan ramai. Bagi sebagian remaja, membatik juga dapat membantu membiayai pendidikan hingga tingkat universitas. Namun, pertumbuhan usaha tidak menghapus tantangan produksi: para perajin perlu terus menyempurnakan proses sekaligus memastikan sisa pewarna tidak berakhir sebagai limbah yang berpotensi mencemari lingkungan. Karena itu, pembatik anak sekolah dan generasi muda bukan hanya penerus tradisi, melainkan calon penggerak inovasi yang dapat menjaga kerajinan komunitas tetap relevan. Kesimpulannya, kekuatan Boek Khaman ada pada kemampuan menyatukan bahan lokal, keterampilan warga, dan peluang ekonomi sambil terus memperbaiki praktik produksinya.






