Mega Famtrip: Saat Desa Wisata Tradisional Berpikir Secara Global
Mega Familiarization Trip (Famtrip) adalah strategi promosi destinasi di mana pelaku wisata lokal mengundang agen perjalanan mancanegara untuk merasakan langsung pengalaman wisata, sehingga desa wisata tradisional dapat menawarkan paket wisata budaya lokal secara konkret dan menjalin jejaring bisnis yang membuka jalan menuju desa wisata internasional dan pemberdayaan ekonomi desa berbasis pariwisata. Melalui program Bakti BCA, Mega Famtrip digelar di Desa Wisata Bukit Peramun dan Wisata Wayang Desa Wukirsari untuk memperkenalkan potensi lokal kepada agen perjalanan dan operator tur internasional. Kegiatan ini berlangsung di Bukit Peramun pada 13 Oktober dan di Wukirsari pada 19 Oktober, menyasar 50 travel agent dan tour operator dari berbagai negara. Ini bukan sekadar promosi destinasi global, tetapi langkah sadar menghubungkan desa dengan pasar wisatawan mancanegara.
Bukit Peramun: Hutan Digital dan Budaya Lokal Sebagai Produk Global
Bukit Peramun menunjukkan bahwa desa wisata internasional tidak harus meninggalkan akar lokalnya untuk menarik pasar global. Berada di kawasan UNESCO Global Geopark Belitong, destinasi ini menawarkan hutan konservasi, batuan granit purba, dan satwa endemik tarsius (pelilean) sebagai inti paket wisata alam. Namun yang membuatnya relevan bagi agen perjalanan mancanegara adalah inovasi "Hutan Digital" berbasis QR Code yang menggabungkan edukasi lingkungan dengan teknologi interaktif. Wisatawan tidak hanya berjalan di hutan, mereka belajar, memindai, dan berinteraksi—persis jenis pengalaman yang dicari pasar global yang mengutamakan keberlanjutan. Di sisi lain, Tari Sekapur Sirih dan tradisi makan Bedulang menegaskan bahwa paket wisata budaya lokal tetap menjadi daya tarik utama, menjadikan Bukit Peramun contoh bagaimana promosi destinasi global bisa bertumpu pada identitas budaya, bukan sekadar fasilitas modern.
Wukirsari: Wayang Kulit, Pengakuan Global, dan Nilai Ekonomi untuk Warga
Wisata Wayang Desa Wukirsari membuktikan bahwa kerajinan tradisional bisa naik kelas menjadi produk desa wisata internasional tanpa kehilangan ruhnya. Sebagai pusat perajin wayang kulit, desa ini menawarkan pengalaman menyelami keahlian tatah sungging di Dusun Pucung, bukan sekadar membeli suvenir. Pengakuan sebagai salah satu Best Tourism Villages dari UN Tourism pada 2024 memperkuat posisi Wukirsari di mata agen perjalanan mancanegara. Dalam Mega Famtrip, wisatawan potensial diajak menyaksikan proses kreatif, menikmati gudeg manggar dan ayam ingkung, lalu merasakan langsung kehidupan budaya yang selama ini hanya mereka lihat di brosur. Di balik itu, ada pesan penting: paket wisata budaya lokal yang otentik dan dikelola masyarakat adalah aset ekonomi nyata. Ketika desa mampu mengemas warisan leluhur menjadi pengalaman yang bisa dijual, pemberdayaan ekonomi desa tidak lagi jargon, tetapi pemasukan yang kembali ke warga.
Dari Famtrip ke Pendapatan Nyata: Model Kemitraan Keuangan–Pariwisata
Kekuatan Mega Famtrip bukan hanya pada foto-foto promosi, melainkan pada arsitektur kemitraan antara sektor keuangan dan pariwisata. Program Desa Bakti BCA secara terang menempatkan dua fokus: peningkatan kapasitas SDM dan kelembagaan, serta perluasan akses pasar melalui promosi dan jaringan kemitraan. Artinya, warga desa tidak dibiarkan menghadapi pasar wisatawan mancanegara tanpa persiapan. Hasilnya terlihat pada pendapatan Rp536 juta yang dihasilkan desa wisata binaan dari perluasan akses pasar luar negeri sepanjang 2024–2025. Secara keseluruhan, kontribusi terhadap pendapatan desa wisata dan UMKM mencapai Rp2,22 miliar pada semester I-2026, dengan Rp1,92 miliar untuk UMKM dan Rp301 juta dari paket wisata. "Rangkaian kegiatan ini merupakan wujud nyata komitmen BCA dalam mendorong sektor pariwisata nasional untuk menciptakan efek berganda (multiplier effect)," ujar Hera F. Haryn. Angka-angka ini menegaskan bahwa promosi destinasi global bisa diterjemahkan menjadi pemberdayaan ekonomi desa yang terukur.
Mengapa Model Mega Famtrip Layak Diadopsi Desa Wisata Lain
Mega Famtrip menunjukkan bahwa desa wisata tidak cukup hanya menunggu wisatawan datang; desa harus aktif mendekati pasar global dengan strategi yang terencana. Dengan mempertemukan pengelola desa wisata dan pelaku industri pariwisata internasional, program ini membuka ruang negosiasi langsung untuk merancang paket wisata budaya lokal yang sesuai kebutuhan pasar. Ke depan, partisipasi dalam ajang seperti ITB Berlin dengan nilai potensial Rp1,9 miliar menandakan bahwa promosi destinasi global akan terus berlanjut, bukan berhenti di satu kunjungan famtrip. Bagi desa wisata lain, pelajaran utamanya jelas: bangun kapasitas SDM, kuatkan kelembagaan, lalu cari mitra sektor keuangan yang siap berbagi nilai melalui prinsip creating shared value. Jika desa berani memposisikan diri sebagai pemain, bukan objek, desa wisata internasional bukan lagi impian, melainkan strategi konkret untuk mengangkat kesejahteraan warga.






