JIIPE Gresik: Definisi Baru Kawasan Industri Terintegrasi
Kawasan industri Gresik JIIPE adalah kawasan terintegrasi yang menggabungkan area manufaktur, pelabuhan laut dalam, dan fasilitas residensial untuk mendukung produksi, logistik, dan kehidupan pekerja secara terpadu, sekaligus mendorong ekspor dan penyerapan tenaga kerja lokal dalam satu ekosistem industri yang saling terhubung.
Inti persoalan JIIPE bukan sekadar soal pabrik besar, melainkan bagaimana kawasan industri terintegrasi bisa menyeimbangkan dua kepentingan: membuka lapangan kerja bagi warga sekitar dan mengangkat daya saing ekspor. Di sinilah JIIPE mengambil posisi strategis. Dengan area industri 1.761 hektare, pelabuhan 406 hektare, dan area residensial 800 hektare, kawasan ini dirancang sebagai ekosistem lengkap, bukan sekadar deretan gudang dan cerobong asap. Integrasi pelabuhan laut dalam membuat produksi manufaktur langsung terhubung ke jalur perdagangan global, sementara keberadaan permukiman dan fasilitas pendukung memberi peluang ekonomi baru bagi masyarakat sekitar.

70 Persen Tenaga Kerja Lokal: Manufaktur yang Tidak Meminggirkan Warga
Keunggulan utama kawasan industri Gresik ini adalah keberpihakannya pada tenaga kerja lokal manufaktur. Menteri Perindustrian menyebut, 70 persen tenaga kerja di JIIPE berasal dari warga Gresik dan Jawa Timur. Ini bukan angka kecil; ini pesan politik ekonomi yang jelas bahwa industrialisasi tidak harus mengorbankan kesempatan kerja bagi penduduk sekitar. Di PT Xinyi Glass Indonesia, komposisi serupa juga terlihat: sekitar 70 persen pekerjanya berasal dari Kabupaten Gresik. "Tenaga kerja yang terserap di industri yang ada di JIIPE ini 70 persennya adalah warga lokal di Gresik dan Jawa Timur," ujar Menperin.
Dampaknya terasa langsung di tingkat rumah tangga: lebih banyak pekerjaan formal, perputaran ekonomi di warung, kos-kosan, hingga jasa transportasi. Menperin menilai JIIPE meningkatkan aktivitas perekonomian masyarakat sekitar dan pertumbuhan ekonomi daerah Gresik dan Jawa Timur. Namun, ia juga mengingatkan bahwa serapan tenaga kerja ini hanya akan berkelanjutan jika pemerintah daerah serius menyiapkan SDM, dari lulusan SMA/SMK hingga perguruan tinggi, dengan kompetensi yang sesuai kebutuhan industri. Tanpa itu, peluang emas ini bisa pelan-pelan diambil tenaga kerja dari luar daerah.
Xinyi Glass: Bukti JIIPE Mampu Menghadirkan Ekspor Internasional
Jika tenaga kerja lokal adalah kaki JIIPE di tanah, maka JIIPE ekspor internasional adalah sayapnya di pasar global. Produk kaca PT Xinyi Glass Indonesia yang beroperasi di kawasan ini telah menembus 45 negara. Menperin menilai jangkauan ekspor ini menunjukkan bahwa produk industri dari Gresik mampu bersaing di pasar internasional. Artinya, kawasan industri Gresik tidak berhenti pada produksi untuk pasar domestik; ia menjadi pintu keluar barang manufaktur ke berbagai belahan dunia.
Keberhasilan Xinyi Glass juga memperlihatkan bagaimana integrasi pelabuhan dan manufaktur memberi keunggulan logistik. Pelabuhan laut dalam di JIIPE memotong rantai distribusi, mengurangi biaya dan waktu, sehingga produk kaca yang dihasilkan lebih kompetitif. Menperin menegaskan bahwa industri berorientasi ekspor seperti ini penting untuk menghasilkan devisa dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Namun, ekspor besar tanpa keterlibatan lokal yang kuat akan melahirkan ketimpangan. Di JIIPE, kombinasi ekspor kuat dan penyerapan tenaga kerja lokal yang tinggi menjadi contoh bahwa orientasi global dan keberpihakan lokal bisa berjalan bersama.
Menguatkan Rantai Pasok Industri: Dari Soda Ash hingga UMKM
Keberhasilan ekspor Xinyi Glass membuka babak baru: bagaimana memastikan rantai pasok industri tetap menguntungkan perekonomian domestik. Saat ini, sekitar 80 persen kebutuhan bahan baku Xinyi Glass sudah dipenuhi dari dalam negeri, sementara 20 persen masih bergantung pada impor soda ash. Menperin melihat peluang substitusi impor jika produksi soda ash di dalam negeri, termasuk dari pabrik PT Petrokimia Gresik, berjalan sesuai rencana. Jika pasokan domestik tersedia dengan jumlah dan kualitas yang sesuai, Xinyi Glass berpotensi menyerap produk tersebut dan memperkuat keterhubungan antara industri kimia dan manufaktur.
Rantai pasok industri yang kuat tidak hanya soal bahan kimia besar. Aktivitas industri di JIIPE juga membuka peluang usaha pendukung, mulai dari penyediaan barang dan jasa hingga berbagai kegiatan ekonomi lain di sekitar kawasan. Di sinilah pemerintah daerah dan pelaku usaha kecil perlu lebih agresif. Tanpa strategi, peluang ini akan diambil pemasok dari luar. Menperin menekankan perlunya sosialisasi manfaat kawasan industri agar masyarakat memahami kontribusi investasi terhadap perekonomian daerah. Tanpa pemahaman itu, resistensi sosial terhadap kawasan industri akan terus muncul, meski manfaat ekonominya nyata.
Tantangan ke Depan: SDM, Sosialisasi, dan Konsistensi Kebijakan
Kisah JIIPE menunjukkan bahwa kawasan industri terintegrasi bisa menjadi mesin penyerapan tenaga kerja dan pertumbuhan ekonomi lokal. Namun, keberhasilan hari ini bukan jaminan untuk esok. Menperin sudah mengingatkan, tugas pemerintah daerah adalah menyiapkan lulusan siap kerja dan siap pakai, dengan kombinasi keterampilan teknis dan soft skill seperti kedisiplinan, komunikasi, kerja sama tim, dan kemampuan beradaptasi. Tanpa peningkatan kualitas SDM, porsi 70 persen tenaga kerja lokal bisa tergerus ketika industri menuntut teknologi yang lebih maju.
Sosialisasi manfaat kawasan industri kepada masyarakat juga tidak boleh berhenti pada seremoni kunjungan menteri. Transparansi tentang peluang kerja, peluang usaha, hingga dampak lingkungan harus menjadi bagian dari kontrak sosial antara pengelola kawasan, perusahaan, dan warga. JIIPE sudah menunjukkan arah yang tepat: integrasi pelabuhan dan manufaktur yang mampu menyeimbangkan kepentingan global dan lokal. Tantangannya sekarang adalah menjaga konsistensi kebijakan, memperkuat rantai pasok domestik, dan memastikan bahwa setiap kapal yang berangkat dari pelabuhan JIIPE membawa bukan hanya barang ekspor, tetapi juga harapan ekonomi bagi warga Gresik dan Jawa Timur.






