Mengapa Proyek Data Center AI BDx Tiba-Tiba Dihentikan?
Penghentian sementara proyek data center AI BDx di Jatiluhur adalah penghentian pembangunan pusat data kecerdasan buatan berskala 640MW milik BDx Data Centers di Purwakarta yang dilakukan pemerintah daerah karena dokumen analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL) dan persetujuan bangunan gedung (PBG) belum lengkap, meski proyek sudah mulai dibangun dan bahkan sempat disorot sebagai bagian penting dari pengembangan infrastruktur digital nasional. Sinyal awalnya jelas: satu pekan setelah diresmikan Gubernur Jawa Barat, pemerintah setempat memutuskan pembangunan data center AI Indonesia ini harus berhenti sementara karena dua izin paling mendasar untuk proyek besar belum dikantongi. Enam hari setelah peletakan batu pertama, gubernur menghentikan proyek AI Campus 2 atau CGK4 yang dioperasikan BDx, operator pusat data asal Singapura yang bermitra dengan Indosat dan Lintasarta. Ini bukan sekadar kasus administratif; ini cermin bagaimana ambisi infrastruktur AI skala raksasa melaju lebih cepat daripada disiplin regulasinya.

AMDAL, PBG, dan Investasi Rp3,5 Triliun: Ketika Pusat dan Daerah Tidak Sinkron
Proyek BDx Jatiluhur digadang sebagai salah satu tulang punggung baru infrastruktur digital nasional: investasi sekitar Rp3,5 triliun, kapasitas awal 120MW dan target hingga 640MW untuk melayani beban komputasi AI yang kian besar. Di atas kertas, ini adalah katalis penting dalam perlombaan pusat data AI Indonesia. Namun kenyataannya, proyek ini sudah mulai dibangun sebelum dokumen lingkungan rampung dan PBG terbit. Gubernur menyatakan perizinan investasi melalui pusat sudah keluar lewat skema PMA dan OSS, tetapi AMDAL dan PBG yang menjadi kewenangan kabupaten belum selesai. "Proyek BDx belum memperoleh AMDAL dan PBG, dua perizinan pokok yang wajib bagi pembangunan infrastruktur besar". Ini menunjukkan jurang koordinasi antara jalur perizinan pusat yang agresif mendorong investasi dan kesiapan pemerintah daerah menjaga tata ruang, lingkungan, dan keselamatan konstruksi.
Konsumsi Air 384 Liter per Detik: Risiko yang Tidak Boleh Dianggap Remeh
Di balik jargon AI dan ekonomi digital, proyek ini membawa beban lingkungan yang besar. Data center BDx diperkirakan membutuhkan 384 liter air per detik—sekitar 33 juta liter per hari atau lebih dari 12 juta meter kubik per tahun—yang diambil dari sistem Waduk Jatiluhur. Waduk ini bukan sekadar danau buatan; ia mengairi sekitar 242.000 hektar sawah dan memasok sekitar 82 persen air baku ke ibu kota. Artinya, konsumsi air data center langsung bersaing dengan kebutuhan irigasi petani dan air bersih warga. IESR menyoroti bahwa beban listrik hingga 640MW bisa mengonsumsi sekitar 5,6 TWh per tahun, dengan pasokan jaringan yang mencapai 845 MVA—setara kebutuhan sekitar 650.000 rumah tangga daya 1.300 VA dan empat kali kapasitas PLTA Jatiluhur. Tanpa kajian lingkungan dan sosial menyeluruh, proyek seperti ini bukan hanya berisiko secara ekologis, tetapi juga secara keadilan distribusi sumber daya.
Dampak bagi Masa Depan Infrastruktur AI: Perizinan Bukan Musuh, Tapi Filter Sehat
Penghentian sementara ini seharusnya dibaca sebagai alarm dini bagi seluruh ekosistem infrastruktur digital nasional, bukan sebagai sinyal anti-investasi. BDx—melalui perusahaan patungan dengan Indosat dan Lintasarta—sudah memegang komitmen daya terkontrak 1,2GW dengan PLN, yang disebut sebagai komitmen daya terbesar bagi satu operator pusat data di negara ini. Tanpa disiplin perizinan AMDAL PBG yang kuat, ekspansi sebesar itu bisa menekan sistem kelistrikan dan air, dan memicu konflik sosial baru. IESR menegaskan, penghentian sementara harus digunakan untuk kajian lingkungan dan sosial yang sungguh-sungguh, bukan sekadar mempercepat tanda tangan dokumen. Jalan keluarnya bukan melonggarkan aturan, tetapi memperbaiki sinkronisasi pusat-daerah, mempercepat proses tanpa mengorbankan kualitas kajian, dan menjadikan transparansi sebagai standar. Jika kita gagal di proyek BDx Jatiluhur, mimpi menjadi hub data center AI Indonesia akan berdiri di atas fondasi yang rapuh.






