Papua Selatan Mulai Mengurus Energi Secara Serius
Forum energi daerah Papua Selatan adalah wadah kolaborasi resmi antara pemerintah provinsi, PLN, mitra internasional, dan pemangku kepentingan lokal untuk menyusun kebijakan, mengelola potensi energi, serta mempercepat pembangunan infrastruktur kelistrikan yang menjangkau wilayah terpencil dan mendukung elektrifikasi pedesaan secara berkelanjutan. Langkah ini bukan sekadar acara seremonial; ini adalah sinyal bahwa Papua Selatan mulai mengurus energi terbarukan Papua dan tata kelistrikan dengan pendekatan yang lebih terencana. Sebagai provinsi baru, Papua Selatan masih bergulat dengan keterisolasian, infrastruktur kelistrikan yang belum memadai, dan kualitas SDM yang rendah. Jika energi tetap dibiarkan berjalan tanpa arah, provinsi ini akan terus tertinggal. Karena itu, keputusan menggandeng mitra internasional dan kerjasama PLN regional patut dibaca sebagai upaya mengubah listrik dari sekadar penerang rumah menjadi fondasi pembangunan ekonomi.

Forum Energi Daerah: Dari Regulasi ke Koordinasi Nyata
Kick-off pembentukan Forum Energi Daerah Papua Selatan digelar di Kantor Gubernur di Salor pada Rabu, 29 April 2026, sebagai implementasi Perdasi RUED Nomor 6 Tahun 2025. Pemerintah provinsi menggandeng Global Green Growth Institut (GGGI) dan pemangku kepentingan lain untuk memastikan regulasi energi tidak berhenti di atas kertas. Sekda Ferdinandus Kainakaimu menegaskan bahwa Papua Selatan memiliki potensi energi yang kaya, tetapi tanpa pengelolaan, rakyat tidak akan pernah merasakan manfaatnya. Forum energi daerah dirancang sebagai ruang koordinasi kebijakan, tempat SKPD, BUMD, PLN, dan mitra internasional duduk bersama membahas tantangan energi terbarukan Papua, pemanfaatan sumber daya lokal, dan pembangunan infrastruktur kelistrikan yang realistis. Harapan agar diskusi menghasilkan rekomendasi terbaik terdengar bagus, namun tantangannya adalah memastikan rekomendasi itu diterjemahkan menjadi proyek konkret, bukan laporan tebal yang mengendap di rak kantor.
MoU dengan PLN: Menata Daya Sebelum Pertumbuhan Melonjak
Pada Senin, 15 Juni 2026, Pemerintah Provinsi Papua Selatan menandatangani MoU strategis dengan PT PLN (Persero) Unit Induk wilayah Papua dan Papua Barat di Merauke untuk menata pelayanan kelistrikan. Gubernur Apolo Safanpo menekankan pentingnya memetakan kapasitas suplai dan permintaan riil listrik agar proyeksi sisa daya ke depan akurat. Ini bukan detail teknis semata; tanpa data yang rapi, proyek strategis di Wanam untuk swasembada pangan dan di Sermayam–Jagebob untuk swasembada energi berisiko tersendat karena kekurangan daya. Penataan kelembagaan PLN, termasuk usulan mengalihkan ULP Asmat ke bawah koordinasi UP3 Merauke, menunjukkan kesadaran bahwa kerjasama PLN regional harus mengikuti peta politik dan administrasi baru. Pesan kuncinya jelas: investasi dan pembangunan di Papua Selatan tidak boleh terhambat karena masalah kekurangan listrik. Pertanyaannya, seberapa cepat MoU ini berubah menjadi penambahan jaringan, gardu, dan layanan yang terasa di kampung-kampung?
Listrik yang Belum Menggerakkan Ekonomi Warga
Di balik forum energi daerah dan MoU PLN, ada kenyataan pahit: banyak warga Papua Selatan sudah menikmati listrik, tetapi hampir tidak ada manfaat ekonomi yang mereka rasakan. Sekda Ferdinandus menyebut 99 persen masyarakat belum menggunakan listrik secara cerdas; listrik dipakai begitu saja tanpa kegiatan produktif. Pernyataan ini harus dibaca sebagai kritik terhadap pendekatan elektrifikasi pedesaan yang selama ini terlalu fokus pada pemasangan jaringan, bukan pada perubahan perilaku dan dukungan usaha. Tanpa edukasi dan akses usaha, panel surya dan sambungan PLN hanya menambah biaya, bukan pendapatan. Pemerintah bahkan mengakui keterbatasannya dalam menyelesaikan berbagai isu di daerah dan meminta PLN serta semua pihak aktif mensosialisasikan pemanfaatan listrik yang lebih bermanfaat. Jika forum energi daerah tidak memasukkan program pendampingan ekonomi rumah tangga dan pelatihan SDM sebagai prioritas, energi terbarukan Papua berisiko menjadi proyek hijau yang tampak bagus di laporan, tetapi hampa di dompet warga.
Dari Komitmen ke Eksekusi: Apa yang Harus Terjadi Berikutnya?
Pemerintah Papua Selatan berharap forum energi daerah melahirkan rekomendasi terbaik, sementara melalui MoU dengan PLN mereka mengajak semua pihak bergerak cepat mendata dan mempersiapkan kecukupan energi untuk masa depan. Komitmen ini penting, tetapi tidak cukup. Tahap berikutnya harus jelas: jadwal kerja forum, daftar proyek prioritas infrastruktur kelistrikan, skema pembiayaan, dan mekanisme pemantauan publik. Tanpa itu, koordinasi berisiko terjebak dalam rapat berkepanjangan. Elektrifikasi pedesaan perlu dipandang sebagai paket lengkap: jaringan listrik, pelatihan usaha, akses peralatan produktif, dan dukungan pasar. Kerjasama lintas sektor harus menyentuh hal-hal praktis seperti pengelolaan energi lokal dan integrasi pembangkit kecil ke jaringan PLN, bukan hanya slogan transisi energi. Kesimpulannya, Papua Selatan sudah mengambil dua langkah penting: forum energi daerah dan MoU PLN. Keberhasilan keduanya akan diukur bukan dari jumlah dokumen, melainkan dari seberapa jauh lampu di kampung-kampung mulai menyala untuk kegiatan yang menghasilkan uang.






