Stunting Bukan Sekadar Masalah Gizi, dan Mengapa Angka Naik
Strategi lintas sektor untuk pencegahan stunting balita adalah pendekatan terpadu yang menggabungkan layanan kesehatan, intervensi gizi, pendidikan, infrastruktur dasar, serta dukungan sosial dan kebijakan lokal yang disusun berdasarkan data untuk mencegah gangguan tumbuh kembang anak sejak sebelum lahir hingga usia dua tahun.
Peningkatan kasus di satu daerah menunjukkan bahwa stunting bukan sekadar soal kurang gizi, tetapi cermin rapuhnya perencanaan pembangunan manusia. Di Sumbawa, Dinas Kesehatan mencatat 3.338 balita stunting pada Triwulan II 2026, naik 113 balita dibanding 3.225 pada Triwulan I. Lebih mengkhawatirkan lagi, prevalensi stunting di kabupaten ini naik dari 25 persen pada 2023 menjadi 29 persen pada 2024. Angka-angka ini menegaskan bahwa program stunting daerah belum cukup tajam dan terukur.
Sinyal ini datang di saat pemerintah pusat menuntut penurunan signifikan, sementara di beberapa wilayah angka stunting memang turun tetapi belum secepat target nasional. Pertanyaannya bukan lagi “perlu aksi atau tidak”, melainkan “beranikah pemerintah daerah mengubah cara kerja: dari proyek seremonial menjadi intervensi berbasis bukti?”

Pelajaran dari Sumbawa: Konvergensi Tanpa Data Hanya Slogan
Kasus Sumbawa penting disorot karena memperlihatkan kontras: komitmen politik mulai menguat, tetapi angka stunting balita tetap naik. Pemerintah kabupaten memperkuat penanganan dengan pendekatan konvergensi lintas sektor setelah lonjakan kasus tercatat pada Triwulan II 2026. Bupati membuka pelatihan manajemen tata laksana pencegahan dan penanganan balita stunting bagi tenaga kesehatan dan menegaskan bahwa ini tanggung jawab bersama, bukan monopoli sektor kesehatan.
Di sisi teknis, Dinas Kesehatan membagi pendekatan menjadi intervensi spesifik dan sensitif: mulai dari tablet tambah darah bagi remaja putri, pemeriksaan kehamilan, pemenuhan gizi ibu hamil, hingga ASI eksklusif, imunisasi, dan pemantauan gizi anak pada 1.000 hari pertama kehidupan. Ini fondasi penting pencegahan stunting balita, namun tidak cukup bila faktor sosial dan lingkungan keluarga dibiarkan.
Fakta bahwa satu balita bisa membutuhkan biaya penanganan sekitar Rp4,1 juta menunjukkan beratnya beban ketika intervensi terlambat. Pada titik ini, Sumbawa berada di persimpangan: memperkuat perencanaan berbasis data lintas sektor atau terus memadamkan api dengan anggaran kesehatan yang makin terkuras.
Project PASTI-Papua: Ketika Data Menuntun Anggaran dan Program
Di belahan lain, Project PASTI-Papua menunjukkan bagaimana perencanaan berbasis data bisa mengubah arah program stunting daerah. Melalui lokakarya perencanaan dan penanganan tematik stunting di Merauke pada 7–9 September 2026, program ini mendorong pemerintah daerah untuk menyusun perencanaan dan penganggaran percepatan penurunan stunting yang tepat sasaran, berbasis data, dan terintegrasi lintas sektor.
Peserta lokakarya bukan hanya Dinas Kesehatan, tetapi juga Bappeda, Dinas Pemberdayaan Masyarakat Kampung, dan Dinas Pengendalian Penduduk dan KB dari tiga kabupaten dampingan—Nabire, Mimika, Asmat—serta perwakilan provinsi. Pemilihan kabupaten pun tidak asal tunjuk: wilayah ini dipilih karena berada di jajaran teratas prevalensi stunting berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia dan data daerah.
Kunci pendekatan ini adalah menyelaraskan analisis situasi stunting dengan dokumen perencanaan daerah dan menyusun kerangka acuan kegiatan yang jelas sasaran penerima manfaatnya. Di sini, pencegahan stunting balita ditempatkan sebagai hasil dari keputusan anggaran yang sadar data, bukan sekadar tindak lanjut instruksi pusat. Itulah bedanya program yang dirancang di meja birokrasi dengan program yang lahir dari kondisi lapangan.
Intervensi Lintas Sektor: Dari Posyandu hingga Sekolah
Satu kesalahan besar yang masih sering terjadi adalah menganggap stunting sebagai urusan eksklusif sektor kesehatan. Dalam praktiknya, intervensi lintas sektor adalah satu-satunya cara realistis untuk memutus rantai gizi buruk. Di Sumbawa, intervensi spesifik memang digerakkan sektor kesehatan, tetapi intervensi sensitif—seperti perbaikan sanitasi, air bersih, dan kondisi sosial keluarga—jelas butuh keterlibatan perangkat daerah lainnya.
Pengalaman Project PASTI-Papua menguatkan pesan ini. Sektor pekerjaan umum berperan menyediakan sanitasi dan toilet layak; sektor komunikasi dan informatika mendukung media perubahan perilaku; sektor pendidikan mendorong remaja putri rutin mengonsumsi tablet tambah darah sebagai pencegahan stunting sejak dini. Tanpa koordinasi, semua ini terancam menjadi kegiatan parsial yang tidak saling mendukung.
Posyandu mendapat posisi strategis sebagai garda depan deteksi dini. Stunting dapat dicegah ketika gizi kurang terdeteksi saat berat badan anak tidak naik, asalkan kader Posyandu punya kapasitas membaca dan menindaklanjuti data pertumbuhan. Menguatkan keterampilan kader dan menjadikan Posyandu sebagai layanan sepanjang siklus hidup bukan bonus, melainkan prasyarat agar program stunting daerah punya dampak nyata.
Dari Angka ke Aksi: Menyatukan Data, Anggaran, dan Komunitas
Jika ada satu pesan yang jelas dari Sumbawa dan wilayah dampingan Project PASTI-Papua, maka itu adalah: angka stunting hanya akan turun bila data, anggaran, dan komunitas bekerja dalam satu arah. Pemerintah daerah yang masih mengandalkan program sektoral tanpa perencanaan berbasis data akan terus tertinggal, bahkan ketika ada penurunan kecil di tingkat provinsi yang belum memenuhi harapan.
Ke depan, pengendalian stunting membutuhkan tiga perubahan sikap. Pertama, mengakhiri ego sektoral dan mengakui bahwa stunting adalah urusan bersama, dari kesehatan hingga pendidikan dan pekerjaan umum. Kedua, memegang satu pintu data yang selaras dengan kenyataan lapangan sebagai dasar kebijakan, bukan sekadar memenuhi laporan. Ketiga, memberi ruang lebih besar bagi kader, keluarga, dan komunitas untuk terlibat aktif dalam pencegahan stunting balita, terutama pada 1.000 hari pertama kehidupan.
Kolaborasi lintas sektor tanpa data hanya akan mengulang kegagalan. Data tanpa keberanian mengubah pola kerja juga tidak akan menyelamatkan satu pun anak dari stunting. Pemerintah daerah perlu memilih sisi: mempertahankan pola lama yang nyaman, atau berinvestasi serius pada generasi yang tumbuh sehat dan cerdas.






