Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Eceng Gondok Jadi Ancaman Banjir di Kota-Kota Besar

Eceng Gondok Jadi Ancaman Banjir di Kota-Kota Besar
Minat|Asia Tenggara

Eceng Gondok: Dari Gulma Air Menjadi Krisis Banjir Perkotaan

Eceng gondok sungai adalah ledakan populasi tanaman air mengapung yang menutupi permukaan sungai dan waduk, menghambat aliran, mengganggu aktivitas warga, memicu risiko banjir kota, serta memperburuk kualitas lingkungan perairan yang padat penduduk. Fenomena ini bukan sekadar soal pemandangan sungai yang tampak hijau, melainkan krisis tata kelola air di tengah urbanisasi yang menekan ruang resapan dan saluran drainase. Ketika gulma air tumbuh di luar kendali, sungai berubah dari infrastruktur alami pengendali banjir menjadi saluran tersumbat yang siap meluap pada musim hujan. Di Banjarmasin, pemandangan eceng gondok memenuhi sejumlah aliran sungai dan menarik perhatian warga. Di Sungai Martapura, gulma ini mengganggu warga yang memancing dan membuat kelotok tak leluasa melintas karena terhalang hamparan tanaman. Kondisi serupa muncul di Kali Baru Bekasi, di mana tumpukan eceng gondok menghambat aliran dan meningkatkan risiko luapan saat debit air bertambah. Jika kota-kota besar menganggapnya sekadar masalah estetika, mereka sedang menutup mata terhadap ancaman mitigasi bencana air yang nyata.

Respons Cepat Dinas PUPR: Ekskavator Amfibi di Sungai Martapura

Ledakan eceng gondok di Sungai Martapura memaksa pemerintah kota bergerak reaktif. Begitu laporan warga masuk, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Banjarmasin langsung mengerahkan tim untuk pembersihan sejak siang hari. Kepala dinas menegaskan penanganan akan diintensifkan dengan mengoptimalkan ekskavator amfibi untuk mengangkut sekaligus mencegah masifnya eceng gondok. Ini langkah penting, tetapi juga menunjukkan bahwa sistem peringatan dini dan pengendalian rutin belum cukup kuat. Di lapangan, dampaknya terasa jelas: warga pemancing mengeluh lemparan kail ke tengah sungai kerap tersangkut gulma, sementara kelotok yang melintas tak bisa leluasa lewat. Sungai di kawasan lain seperti Banua Anyar hingga Sungailulut juga ditutupi eceng gondok dan membuat warga resah. Pembersihan fisik dengan alat berat adalah bentuk pembersihan waduk dan sungai yang efektif untuk membuka aliran, tetapi jika hanya dilakukan ketika keluhan memuncak, kota akan terus terjebak dalam siklus darurat, bukan pencegahan banjir kota yang terencana.

Green Policing di Bekasi: Sungai Sebagai Ruang Publik Aman

Di Bekasi, polisi memilih mengambil peran lebih progresif. Personel kepolisian melakukan aksi pembersihan eceng gondok di aliran Kali Baru tepat di depan markas mereka sebagai bagian dari pendekatan green policing. Tanaman air yang berkembang biak cepat ini diakui dapat menghambat aliran, meningkatkan risiko luapan ketika debit air bertambah, serta mengganggu ekosistem perairan. Dengan kata lain, polisi menjadikan sungai sebagai objek pengamanan, bukan hanya jalan raya. Kapolres menekankan bahwa pencegahan harus dilakukan sebelum muncul persoalan yang merugikan masyarakat, termasuk banjir dan penyakit. Data Dinas Kesehatan mencatat 2.250 kasus demam berdarah dengue (DBD) sepanjang Januari hingga September 2026, angka yang mengaitkan kebersihan lingkungan dengan kesehatan publik. Melalui gerakan ini, polisi mengajak warga tidak membuang sampah ke sungai, menjaga saluran air tetap bersih, dan menerapkan gerakan 3M Plus untuk pemberantasan sarang nyamuk. Di sini, pembersihan eceng gondok menjadi bagian dari mitigasi bencana air sekaligus strategi pencegahan DBD, menggeser paradigma sungai dari “belakang rumah” menjadi ruang publik aman yang harus dijaga bersama.

Eceng Gondok Jadi Ancaman Banjir di Kota-Kota Besar

Sentinel-2A di Waduk Jatiluhur: Krisis yang Terlihat dari Angkasa

Jika di sungai kota masalah eceng gondok terasa langsung oleh warga, di Waduk Jatiluhur skalanya terlihat dari angkasa. Waduk yang menjadi bagian dari daerah aliran Sungai Citarum ini memikul banyak fungsi: penyediaan air, irigasi, energi, perikanan, dan sumber penghasilan masyarakat. Di permukaannya, eceng gondok mendominasi vegetasi air dan menutup sebagian badan air. Dalam jumlah tepat, vegetasi air adalah bagian ekosistem; tetapi ketika pertumbuhan di luar kendali, waduk kehilangan kapasitasnya sebagai infrastruktur air strategis. Peneliti menggunakan citra satelit Sentinel-2A dan indeks NDVI untuk memantau distribusi spasial dan temporal vegetasi air di waduk ini. Refleksi vegetasi berbeda dari permukaan air terbuka, sehingga eceng gondok dapat dipetakan dari orbit. Temuannya menarik: tanaman bergerak dari lokasi masuk, ke tengah waduk, lalu menumpuk di lokasi keluar mengikuti pergerakan air. Teknik ini membantu menentukan titik prioritas pembersihan fisik, menjadikan pembersihan waduk lebih terarah. Namun gambar satelit bukan jawaban untuk semua masalah; teknologi hanya memberi peta, bukan tenaga kerja, anggaran, atau kebijakan pengendalian hulu.

Dari Pembersihan Reaktif ke Pencegahan Jangka Panjang

Rangkaian kasus di Sungai Martapura, Kali Baru, dan Waduk Jatiluhur menunjukkan pola yang sama: pemerintah dan aparat bergerak cepat ketika eceng gondok sudah mengganggu aktivitas atau mengancam banjir, tetapi belum menjadikannya agenda pencegahan jangka panjang yang konsisten. Pembersihan fisik dengan ekskavator amfibi di Banjarmasin, aksi green policing di Bekasi yang mengaitkan sungai dengan banjir dan DBD, serta pemantauan satelit di Jatiluhur adalah langkah penting, namun masih bertumpu pada respons terhadap gejala. Tantangannya jelas: bagaimana menyeimbangkan pembersihan reaktif dengan strategi pengendalian yang mencegah pertumbuhan eceng gondok di luar kendali? Pertumbuhan tanaman air akan terus menjadi masalah selama nutrien dari limbah dan sampah mengalir bebas ke sungai dan waduk. Kota-kota besar perlu mengintegrasikan pengelolaan gulma air ke dalam pencegahan banjir kota, mulai dari pengendalian sumber pencemar di hulu, penataan sempadan sungai, hingga pelibatan warga dalam menjaga kebersihan dan melaporkan dini penyumbatan. Kesimpulannya, eceng gondok bukan musuh yang bisa dihabisi sekali angkut; ia adalah cermin tata kelola air yang menuntut perubahan sistemik, bukan sekadar operasi bersih-bersih musiman.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda. Artikel ini dibuat dengan AI dari sumber yang dipublikasikan dan data produk.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!