Angka 5,29% yang Menggoda, Paradoks yang Mengkhawatirkan
Pertumbuhan ekonomi 5,29% adalah laju kenaikan total output dan pendapatan dalam perekonomian yang diukur dari perubahan Produk Domestik Bruto secara tahunan, tetapi angka ini hanya bermanfaat bagi masyarakat bila disertai peningkatan serapan tenaga kerja, daya beli, dan pemerataan pendapatan yang nyata dalam kehidupan sehari-hari. Di permukaan, capaian pertumbuhan ekonomi 5,29% pada kuartal II tampak seperti kemenangan: melampaui proyeksi analis dan konsensus pasar, serta mempertahankan tren di atas 5% selama beberapa kuartal berturut-turut. Namun di bawah angka itu tersimpan paradoks. Lembaga riset menilai kualitas pertumbuhan ekonomi lebih buruk dibanding periode sama tahun sebelumnya, bahkan menyebutnya rapuh meski secara headline terlihat solid. Masalahnya sederhana: angka besar di laporan PDB tidak otomatis mengalir menjadi upah lebih tinggi, pekerjaan lebih layak, atau belanja dapur yang lebih lapang.

Konsumsi Ditopang Fiskal, Daya Beli Murni Masih Tertekan
Motor utama pertumbuhan kuartal II tetap datang dari permintaan domestik, terutama konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah yang tinggi berkat dukungan fiskal. Ada percepatan belanja pegawai, pembayaran THR, serta program prioritas termasuk makan bergizi gratis yang mengangkat konsumsi di awal tahun. Tetapi normalisasi mulai muncul: kontribusi konsumsi rumah tangga terhadap pertumbuhan turun, dan belanja pemerintah juga melambat seiring berkurangnya efek musiman Ramadan dan Lebaran. Ekonom dari lembaga riset menegaskan konsumsi "sebetulnya sangat bergantung dari stimulus fiskal pemerintah" dan tanpa intervensi itu, daya beli murni masyarakat sedang tertekan. Pernyataan ini mengandung peringatan keras: pertumbuhan yang dimotori insentif sementara berarti struktur konsumsi rapuh. Begitu stimulus dikurangi, risiko perlambatan tajam mengintai, terutama bagi rumah tangga yang selama ini bertahan berkat bantuan dan belanja negara.
Investasi dan Industri Naik, Tapi Pasar Kerja Tertinggal
Di sisi lain, investasi tampil sebagai penyelamat ketika konsumsi melambat; kontribusi Pembentukan Modal Tetap Bruto meningkat signifikan dan ikut menjaga pertumbuhan tetap di atas 5%. Sektor industri dan perdagangan bahkan menunjukkan angka pertumbuhan yang mengesankan, misalnya perdagangan yang naik 6,39% dibandingkan kuartal sama tahun lalu. Namun di sini paradoks kualitas pertumbuhan ekonomi semakin terlihat. Serapan tenaga kerja di sektor perdagangan besar dan eceran justru berkurang 128.000 orang dalam periode Februari hingga Mei. Secara total, jumlah penduduk bekerja hanya bertambah sekitar 522 ribu orang, sementara penganggur turun tipis sekitar 24 ribu menjadi masih 7,22 juta orang, membuat tingkat pengangguran terbuka bertahan di sekitar 4,65%. Ketika pertumbuhan industri tidak berbanding lurus dengan penyerapan tenaga kerja, kita berhadapan dengan model pertumbuhan yang makin kapital intensif, minim peluang kerja formal, dan makin sulit diakses oleh angkatan kerja baru.

Dominasi Kerja Informal dan Ketimpangan Pendapatan yang Menganga
Salah satu indikator paling telak bahwa kualitas pertumbuhan ekonomi belum membaik adalah struktur pasar kerja yang tetap didominasi sektor informal. Sekitar 87,88 juta orang atau 59,30% pekerja masih menggantungkan hidup pada pekerjaan informal, sementara kerja formal hanya mencakup sekitar 40,58%. Dengan elastisitas kesempatan kerja sekitar 0,2–0,3, setiap 1% pertumbuhan ekonomi hanya menghasilkan tambahan kesempatan kerja yang terbatas. Pada level kemiskinan, angka penduduk miskin memang turun sekitar 430 ribu menjadi 22,93 juta orang atau 8,07% dari total penduduk. Tetapi di saat yang sama, rasio gini naik menjadi 0,368, menandakan ketimpangan pendapatan yang memburuk. Banyak rumah tangga berada sedikit saja di atas garis kemiskinan dan mudah terlempar kembali ketika harga pangan naik, pekerjaan hilang, atau biaya kesehatan membengkak. Inilah gambaran pertumbuhan yang berhasil mengurangi kemiskinan tipis-tipis, tetapi gagal mendorong mobilitas ekonomi dan memperkuat kelas menengah.
Pertumbuhan yang Rapuh dan PR Besar Kualitas Kebijakan
Ketika lembaga riset menyebut pertumbuhan kuartal II lebih rapuh daripada kuartal sebelumnya maupun periode yang sama tahun lalu, itu bukan alarm berlebihan. Ekspor bersih yang melemah menunjukkan hilangnya bantalan eksternal, sementara konsumsi domestik sangat bergantung pada fiskal. Di atas kertas, pertumbuhan ekonomi 5,29% tampak sukses, tetapi ketimpangan pendapatan meningkat, daya beli masyarakat terasa terjepit, dan serapan tenaga kerja belum kuat. Guru besar ekonomi mengingatkan bahwa pertumbuhan seharusnya dinilai dari kemampuannya meningkatkan produktivitas, menciptakan pekerjaan formal, menaikkan upah riil, dan memperbaiki mobilitas ekonomi. Artinya, tugas kebijakan bukan sekadar menghabiskan anggaran, melainkan mengarahkan investasi dan insentif ke sektor padat karya, UMKM, dan industri pengolahan yang mampu menyebarkan manfaat pertumbuhan secara lebih merata. Tanpa pergeseran fokus ke kualitas, angka makro akan terus mengkilap, sementara dompet warga tetap tipis.






