HYAS: Lebih dari Sekadar Pameran Makeup Jakarta
HYAS – Makeup Through the Ages adalah pameran makeup Jakarta yang menampilkan sejarah kecantikan Indonesia sebagai perjalanan ide, nilai, dan karya lintas generasi, yang membuktikan bahwa evolusi riasan lokal dibentuk oleh pionir kreatif, bukan semata arus tren sesaat. Pameran ini digelar pada 3–6 September 2026 di SPAC8, ASHTA District 8, dan langsung terasa seperti pelurusan cara kita memandang kecantikan. Alih-alih deretan produk baru tanpa konteks, HYAS mengajak pengunjung melihat fondasi yang membuat industri rias lokal mungkin berdiri hari ini: keberanian memulai, konsistensi menjaga nilai, dan kemauan berevolusi. Di tengah gempuran konten viral dan brand baru, HYAS tampil sebagai pengingat bahwa sejarah kecantikan Indonesia adalah aset strategis, bukan nostalgia manis yang patut disimpan di rak museum.

Martha Tilaar Group: Dari Salon Kecil ke Penjaga Warisan
Di HYAS, Martha Tilaar Group tidak hadir sebagai tamu kehormatan yang memamerkan masa lalu, melainkan sebagai bukti hidup bahwa legacy bisa berjalan seiring dengan relevansi zaman. Perjalanan mereka berawal dari sebuah salon kecantikan yang didirikan DR. (HC) Martha Tilaar pada 1970, lalu berkembang menjadi kelompok usaha dengan berbagai lini bisnis di industri kecantikan selama lebih dari lima dekade. Kutipan yang patut diingat dari Dr. Kilala Tilaar, CEO Martha Tilaar Group, menegaskan filosofi itu: “Where we are today is because someone dared to start yesterday. Sejarah bukan sekadar sesuatu yang kita lihat ke belakang. Sejarah adalah fondasi untuk menentukan ke mana kita akan melangkah berikutnya.” Di ruang pamer, narasi tersebut terasa jelas: tanpa keberanian pionir, tidak ada panggung bagi generasi baru beauty brand lokal.

Sariayu dan I-Beauty: Tradisi Bertemu Inovasi
Bagian paling kuat dari HYAS adalah cara pameran ini memperlihatkan evolusi riasan lokal lewat perjalanan Sariayu Martha Tilaar. Pengunjung dapat melihat bagaimana brand ini tumbuh dari gagasan sederhana: mengangkat kekayaan alam dan budaya ke dalam dunia kecantikan, lalu perlahan beradaptasi dengan perubahan kebutuhan konsumen dan teknologi. Sejarah kecantikan Indonesia di sini bukan cerita bahan tradisional yang dibekukan, melainkan nilai yang terus ditafsir ulang. Konsep I-Beauty yang dibawa Martha Tilaar Group mempertegas arah itu: “I-Beauty bukan sekadar tentang menciptakan produk kecantikan yang berasal dari Indonesia. Lebih dari itu, I-Beauty adalah tentang bagaimana identitas, kekayaan alam, budaya, dan kreativitas Indonesia dapat menjadi kekuatan untuk membangun brand yang memiliki daya saing global.” Tradisi digenggam, tapi dibiarkan berdialog dengan kebutuhan global.

Antara Virality dan Legacy: Tantangan Generasi Baru
HYAS tidak menutup mata terhadap realitas hari ini: media sosial membuat brand kecantikan bisa membangun awareness jauh lebih cepat, memunculkan fenomena virality yang mengangkat tren, produk, atau kampanye dalam hitungan hari. Namun, pameran ini menolak asumsi bahwa virality dan legacy adalah dua kutub yang saling meniadakan. Narasi yang dibawa Martha Tilaar Group tegas: perhatian sesaat boleh lahir dari konten, tapi kepercayaan jangka panjang hanya tumbuh dari konsistensi dan identitas yang jelas. Pengalaman lima dekade bukan alasan untuk berhenti bereksperimen, melainkan modal untuk menafsir ulang nilai sehingga tetap relevan bagi generasi baru. Di ruangan HYAS, pesan itu terasa seperti kritik halus untuk brand yang terpaku mengejar hype: tanpa fondasi nilai, sejarah kecantikan Indonesia akan berubah menjadi sekadar deretan hashtag yang cepat usang.
Kesimpulan: Merayakan Sejarah sebagai Strategi Masa Depan
Pada akhirnya, HYAS – Makeup Through the Ages memperlihatkan bahwa merayakan sejarah kecantikan Indonesia bukan sikap sentimentil, melainkan strategi untuk membangun masa depan industri yang lebih matang. Dengan mempertemukan sejarah, inovasi, karya, dan berbagai perspektif pionir, pameran ini menegaskan bahwa pondasi industri kecantikan dibentuk oleh gagasan jangka panjang, bukan siklus tren musiman. Kehadiran Martha Tilaar Group menjadi contoh konkret bagaimana brand lokal bisa memelihara legacy sambil terus berevolusi, memadukan alam, budaya, dan kreativitas ke dalam konsep I-Beauty yang relevan di panggung global. Pesannya jelas: jika generasi baru beauty brand ingin bertahan, mereka perlu berhenti memperlakukan sejarah sebagai arsip statis. Warisan adalah bahan baku identitas; tanpa itu, evolusi riasan lokal hanya akan kehilangan arah dalam kebisingan algoritma.






