Angka besar belum cukup menjadi ukuran keberhasilan
Investasi pemerintah dan swasta adalah penempatan modal untuk membangun kapasitas usaha, infrastruktur, dan produksi, dengan harapan menciptakan kegiatan ekonomi serta pekerjaan yang manfaatnya menjangkau masyarakat. Dalam dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo, realisasi investasi mencapai Rp3.923,2 triliun, terhitung sejak akhir 2024 hingga triwulan ketiga 2026. Nilai ini menunjukkan aliran modal yang kuat, tetapi tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia sudah terasa merata. Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani menyatakan investasi tersebut menyerap 5.485.944 tenaga kerja. Itu capaian penting, namun angka serapan saja belum menjelaskan mutu, kestabilan, atau persebaran pekerjaan. Karena itu, investasi Prabowo triliun demi triliun semestinya dinilai bukan hanya dari total modal, melainkan juga dari manfaat yang dapat ditelusuri oleh pekerja dan komunitas di sekitar kegiatan usaha.
Pemerataan wilayah perlu diikuti manfaat setempat
Komposisi investasi memberi alasan untuk melihat peluang pemerataan ekonomi dengan optimisme yang terukur. Investasi di luar Pulau Jawa tercatat Rp2.031 triliun atau 51,8 persen, sedangkan di Pulau Jawa mencapai Rp1.892,2 triliun atau 48,2 persen






