Keputusan Tegas Setelah Tren Buruk
Pergantian pelatih di tengah kompetisi adalah keputusan manajemen untuk mengubah arah tim ketika hasil dan performa dinilai tak lagi memenuhi kebutuhan klub. Arema FC mengakhiri kerja sama dengan Marcos Santos pada Jumat, 23 Oktober 2026, setelah lima pertandingan beruntun tanpa kemenangan di BRI Super League. Kekalahan telak 1-5 dari Persija Jakarta di Stadion Patriot Candrabhaga pada 21 Oktober menjadi pukulan terbaru sekaligus pemicu yang paling kentara. Pemecatan ini terasa tegas, tetapi bukan reaksi terhadap satu malam semata: rangkaian hasil sebelumnya telah memberi manajemen alasan untuk menilai ulang arah tim. Ketika kemenangan tak kunjung datang, mempertahankan pelatih tanpa perubahan berarti berisiko memperpanjang kebuntuan. Namun pergantian nama saja tidak menjamin kebangkitan; keputusan itu baru bernilai jika disertai pembenahan permainan dan pemulihan kepercayaan diri pemain.

Catatan Lima Laga Menunjukkan Masalah Konsistensi
Rekap lima pertandingan terakhir menunjukkan tiga hasil imbang dan dua kekalahan: Arema bermain 3-3 melawan PSM Makassar, 1-1 kontra Persik Kediri, dan 2-2 menghadapi Bhayangkara Presisi Lampung FC, sebelum kalah 1-3 dari Garudayaksa FC dan 1-5 dari Persija. Angka itu memperlihatkan hasil Arema FC yang tak mampu memberi dorongan untuk keluar dari periode sulit. Lebih mengkhawatirkan, dalam dua laga terakhir tim kebobolan delapan gol dan hanya mencetak dua gol. Kekalahan dari Persija memang menjadi sorotan, tetapi kesenjangan antara gol yang masuk dan yang dicetak mengisyaratkan persoalan yang lebih luas daripada satu kesalahan pertandingan. Evaluasi manajemen karena itu semestinya menilai bukan hanya hasil akhir, melainkan juga organisasi pertahanan, efektivitas serangan, dan cara tim merespons tekanan.

Evaluasi Manajemen Harus Berujung pada Perbaikan
General Manager Arema FC, Yusrinal Fitriandi, menyatakan keputusan diambil setelah evaluasi menyeluruh dan secara profesional demi memberi tim momentum serta ruang penyegaran. Ia mengakui langkah itu tidak mudah karena Marcos memasuki musim keduanya dan dinilai mengenal karakter sepak bola Indonesia. Manajemen juga menyebut pertimbangan teknis, nonteknis, psikologis, dan situasi internal sebagai bagian dari penilaian. Penjelasan tersebut penting, sebab pergantian pelatih tak semestinya berhenti pada pergantian figur di pinggir lapangan. Jika akar masalah ada pada koordinasi staf, rancangan latihan, atau pelaksanaan taktik, aspek-aspek itu juga perlu dibenahi. Bagi Arema, evaluasi yang hanya menghasilkan keputusan pemecatan tanpa tindak lanjut berisiko mengulang siklus yang sama. Tanggung jawab manajemen kini mencakup memastikan perubahan benar-benar menjawab kelemahan yang tampak di lapangan.
Andre Caldas Memimpin Masa Transisi
Jadwal yang padat membuat Arema tak punya banyak waktu untuk membiarkan ketidakpastian mengganggu persiapan. Manajemen menunjuk Andre Caldas sebagai pelatih interim menjelang laga kandang melawan Dewa United FC di Stadion Kanjuruhan pada 25 Oktober. Caldas dipilih karena memiliki lisensi A Pro, mengenal para pemain, dan pernah memimpin tim ketika pelatih kepala absen. Kedekatan itu berpotensi membuat adaptasi berjalan cepat, tetapi beban utamanya adalah menjaga fokus skuad dan membangun kembali rasa percaya diri setelah kebobolan delapan gol dalam dua laga. Pada saat yang sama, manajemen memproses pencarian pelatih kepala definitif. Pilihan berikutnya perlu dinilai dari kecocokan taktik dan kemampuan mengelola tim, bukan hanya nama besar. Masa interim ini menjadi ujian awal apakah perubahan mampu memberi arah yang lebih jelas.
Pergantian Harus Menjadi Titik Balik
Akhir kerja sama dengan Marcos Santos masuk akal setelah lima laga tanpa kemenangan dan kekalahan 1-5 dari Persija, tetapi keputusan itu bukan solusi otomatis. Arema FC perlu mengubah tren lewat respons nyata: pertahanan yang lebih terorganisasi, serangan yang lebih efektif, dan kesinambungan antara evaluasi manajemen dengan pekerjaan staf pelatih. Penunjukan Andre Caldas memberi klub jembatan untuk menghadapi jadwal terdekat, sementara pencarian pelatih definitif membuka kesempatan menentukan arah baru. Ukuran keberhasilan pergantian ini bukan seberapa cepat nama baru diumumkan, melainkan apakah tim mulai tampil lebih stabil dan kembali memperoleh hasil. Jika tidak, keputusan tegas pada 23 Oktober hanya akan menjadi pergantian di tengah krisis, bukan awal pemulihan. Arema kini harus membuktikan bahwa perubahan mampu menghasilkan kemajuan di lapangan.






