Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Mengapa Mentalitas Pelaku Usaha Menentukan Nasib UMKM Ekspor

Mengapa Mentalitas Pelaku Usaha Menentukan Nasib UMKM Ekspor
Minat|Asia Tenggara

Mentalitas: Penghambat Tak Kasat Mata bagi UMKM Tembus Ekspor

Mentalitas UMKM ekspor adalah cara berpikir dan sikap pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah ketika berhadapan dengan pasar luar negeri, mencakup keberanian mengambil risiko, kemandirian dari bantuan, kesiapan memenuhi standar global, serta kemampuan membangun sistem bisnis yang sanggup bersaing di rantai pasok internasional secara berkelanjutan. Kinerja UMKM tembus pasar ekspor kembali disorot dalam dialog Rapimprov Kadin Jawa Timur bertema sinergitas untuk mewujudkan ekonomi kerakyatan melalui penguatan kelembagaan, inovasi SDM, dan rantai usaha terpadu di Graha Kadin Jatim, Surabaya. Di forum itu, Prof Tommy Kayhatu menegaskan bahwa masalah utama UMKM bukan sekadar modal atau fasilitas, melainkan mentalitas yang terlalu nyaman bergantung pada bantuan. Ketergantungan ini membuat banyak pelaku usaha enggan “fight” menghadapi persaingan dan ragu melangkah ke pasar global, meski potensinya besar.

Kontribusi Besar di Dalam Negeri, Kecil di Ekspor: Kontras yang Mengkhawatirkan

Data yang dipaparkan Kadin Jawa Timur memperlihatkan kontras mencolok antara peran UMKM di ekonomi domestik dan di pasar ekspor. Sekitar 57 juta pelaku UMKM menyumbang 60,5 persen terhadap PDB dan menyerap 97 persen tenaga kerja, tetapi kontribusinya terhadap ekspor baru sekitar 15,7 persen dari total ekspor. Ini bukan sekadar angka; ini menunjukkan bahwa ekonomi kerakyatan masih “bermain di kandang sendiri”. Ketika nilai ekspor Jawa Timur pada Januari–Juli menurun 5,33 persen sementara impor tumbuh 16,56 persen, ketertinggalan daya saing UMKM global menjadi alarm keras. Pasar dunia disebut “tidak mudah”, karena standar kualitas, kontinuitas pasokan, dan profesionalisme manajemen menuntut kapasitas yang jauh di atas praktik dagang harian. Jika mentalitas pengusaha tetap reaktif dan menunggu program bantuan, angka ekspor UMKM akan mandek dan ekonomi kerakyatan sulit naik kelas.

Mengapa Mentalitas Pelaku Usaha Menentukan Nasib UMKM Ekspor

Transformasi Mindset Entrepreneur: Dari Penerima Bantuan ke Mitra Strategis

Seruan Kadin Jatim pada dasarnya adalah ajakan melakukan transformasi mindset entrepreneur secara menyeluruh. Tommy Kayhatu mengingatkan, “Jangan sampai usaha mikro dan kecil hanya menjadi pihak yang terus bergantung pada bantuan. Pelaku UMKM harus memiliki keberanian untuk terus berkembang dan fight menghadapi persaingan.” Artinya, UMKM harus melihat pemerintah dan perbankan sebagai mitra, bukan “penolong abadi”. Bantuan tetap penting, tetapi tanpa perubahan mentalitas, dukungan hanya memelihara ketergantungan, bukan daya saing UMKM global. Transformasi mindset entrepreneur menuntut pelaku usaha berani mengelola bisnis secara profesional: menguatkan legalitas, manajemen, pembiayaan, kapasitas produksi, dan pemasaran dalam satu sistem kelembagaan yang solid. Ekonomi kerakyatan yang berkelanjutan lahir ketika jutaan pengusaha kecil berperan sebagai aktor mandiri yang sanggup mengambil peluang ekspor, bukan sekadar objek program sosial.

Penguatan SDM dan Kelembagaan: Mesin Daya Saing UMKM Global

Mentalitas tanpa kapasitas adalah keberanian yang rapuh. Karena itu, penguatan SDM UMKM dan kelembagaan ditekankan sebagai kunci peningkatan daya saing. Kesenjangan kompetensi tenaga kerja dengan kebutuhan industri masih menggerus produktivitas UMKM, sehingga pelatihan, sertifikasi, upskilling, dan reskilling menjadi keharusan, bukan bonus. Pelaku usaha harus mampu mengelola bisnis, meningkatkan produksi, memperluas pemasaran, dan membangun jaringan usaha yang terhubung dengan pasar dan rantai pasok global. Di sisi lain, kelembagaan tidak boleh dipahami sekadar sebagai organisasi formal. Yang dibutuhkan adalah sistem usaha yang membuat UMKM bisa tumbuh mandiri: tata kelola yang jelas, akses pembiayaan yang terstruktur, dan mekanisme kolaborasi yang memudahkan konsolidasi produksi untuk memenuhi skala ekspor. Tanpa ini, mentalitas berani ekspor akan patah ketika berhadapan dengan permintaan besar dan standar ketat buyer internasional.

Perempuan Penggerak UMKM: Potensi Besar yang Belum Menguasai Ekspor

Satu fakta penting yang sering luput dalam diskusi daya saing UMKM global adalah dominasi perempuan sebagai pelaku usaha. Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti menyebut 64,5 persen pelaku UMKM adalah perempuan, angka yang menjadikan mereka tulang punggung ekonomi kerakyatan. Namun, peran besar ini belum tercermin dalam penetrasi pasar ekspor. Tanpa transformasi mindset entrepreneur di kalangan perempuan, bonus demografi pelaku usaha bisa berubah menjadi beban, bukan kekuatan. Roro menekankan pentingnya pemanfaatan teknologi dan kecerdasan buatan untuk memperluas pasar dan memperkuat cerita produk, agar identitas produk lokal tampil kuat di panggung global. Pemerintah berkomitmen memberikan pelatihan dan pendampingan untuk mengecilkan kesenjangan teknologi, selaras dengan target Indonesia Emas 2045. Tetapi lagi-lagi, keberhasilan akan ditentukan oleh sejauh mana perempuan penggerak UMKM mau beralih dari pola bertahan hidup ke pola pembangunan usaha jangka panjang berorientasi ekspor.

Mengapa Mentalitas Pelaku Usaha Menentukan Nasib UMKM Ekspor

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!