Pelatihan yang mengarah ke pekerjaan
Pelatihan vokasi adalah pendidikan berbasis keterampilan praktis yang mempersiapkan peserta untuk menjalankan pekerjaan tertentu dan memenuhi kebutuhan dunia kerja. Prinsip itu menjadi dasar program “Pelatihan Siap Kerja” yang digelar LAZISMU bersama Ruang Amal Indonesia bagi 100 mustahik dari Kabupaten Batang pada 2–7 November 2026 di KEK Industropolis Batang. Bagi penerima manfaat, nilai program ini bukan sekadar kesempatan belajar, melainkan jalur yang dirancang untuk menghubungkan latihan dengan pekerjaan. Para peserta mengikuti pelatihan menjahit dengan skema operator sewing garmen, menganyam, dan pembekalan soft skill, disertai pendampingan penempatan di perusahaan kawasan tersebut. Pendekatan seperti ini lebih menjanjikan daripada pelatihan yang selesai ketika kelas berakhir: keterampilan dibuat relevan dengan lowongan dan proses masuk kerja. Namun, hasil akhirnya tetap harus dinilai dari pekerjaan yang benar-benar didapat dan dapat dipertahankan peserta.
Menutup jarak keterampilan dan kebutuhan industri
Program ini hadir ketika perubahan industri dan teknologi mempercepat kebutuhan akan tenaga kerja terampil dan siap pakai. Di Batang, peluang kerja di kawasan industri dikabarkan terbuka seiring masuknya investasi, tetapi kesempatan itu tidak otomatis dapat diakses warga tanpa keterampilan yang sesuai. Asisten Deputi Kemenko PM Tri Haryanto menekankan bahwa persoalan ketenagakerjaan juga terletak pada jarak antara kemampuan pencari kerja dan kompetensi yang dicari perusahaan. Angkanya memberi alasan untuk bertindak: pada Mei 2026, tingkat pengangguran terbuka nasional tercatat 4,65 persen atau 7,22 juta orang dari 155,41 juta angkatan kerja; di Kabupaten Batang, angkanya 5,07 persen atau sekitar 26 ribu orang pada 2025. Pendidikan vokasi dapat membantu mempersempit kesenjangan itu, asalkan materi pelatihan mengikuti kebutuhan aktual perusahaan, bukan sekadar menawarkan keterampilan yang mudah diajarkan.
Keberhasilan harus terlihat setelah pelatihan
Kekuatan rancangan kolaborasi ini terletak pada rangkaian yang menggabungkan keterampilan, sertifikasi kompetensi, dan fasilitasi penempatan kerja. Itulah bentuk pemberdayaan mustahik yang lebih berorientasi pada kemandirian ekonomi ketimbang bantuan sesaat. Wakil Sekretaris Badan Pengurus LAZISMU, Ninik Annisa, menyebut program pemberdayaan sebagai upaya mendorong mustahik meningkatkan kesejahteraan dan menjadi mandiri. Para penyelenggara menargetkan sedikitnya 90 persen peserta terserap ke dunia industri. Target itu patut disambut, tetapi juga perlu diuji lewat tindak lanjut: berapa peserta yang benar-benar mulai bekerja, berapa lama mereka bertahan, dan apakah kompetensi mereka berkembang setelah penempatan. Seperti diingatkan Tri Haryanto, keberhasilan pelatihan tidak cukup dihitung dari jumlah orang yang mengikuti kelas, melainkan dari hasil kerja yang bertahan. Ukuran tersebut akan menunjukkan apakah pelatihan siap kerja benar-benar membuka jalan, bukan sekadar memberi harapan.
Dari keterampilan menuju kemandirian
Pelatihan enam hari ini menawarkan fondasi, bukan jaminan pekerjaan seumur hidup. Menjahit, menganyam, dan soft skill dapat memperluas kesiapan peserta, tetapi manfaat pendidikan vokasi akan bergantung pada kecocokan materi dengan kebutuhan perusahaan serta pendampingan setelah kelas usai. Karena itu, kolaborasi LAZISMU dan Ruang Amal layak dinilai dari hasil penempatan dan keberlanjutan kerja, bukan hanya dari jumlah peserta atau target penyerapan. Jika target minimal 90 persen tercapai dan para pekerja mampu bertahan, program ini dapat menjadi contoh pemberdayaan yang menghubungkan bantuan sosial dengan akses ekonomi. Jika tidak, evaluasi dan penyesuaian materi harus mengikuti. Kesimpulannya, pelatihan vokasi berpotensi membuka pintu kerja bagi 100 mustahik di Batang, tetapi dampak nyatanya baru terbukti ketika keterampilan berubah menjadi pekerjaan yang berkelanjutan dan kemandirian.






