Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Empat Tahun Menunggu Jembatan, Hidup di Atas Rakit Darurat

Empat Tahun Menunggu Jembatan, Hidup di Atas Rakit Darurat
Minat|Asia Tenggara

Empat Tahun Jembatan Ambruk: Definisi Nyata dari Akses yang Diputus

Kerusakan jembatan rusak Aceh Timur yang menghubungkan Gampong Lhee dan Gampong Naleung adalah kondisi ketika infrastruktur jembatan ambruk dibiarkan tanpa perbaikan selama empat tahun, memaksa warga mengandalkan rakit penyeberangan darurat berbayar yang tidak aman, memperpanjang jarak tempuh, membebani ekonomi rumah tangga, serta menghambat akses pendidikan terhambat dan layanan kesehatan sehari-hari.

Inti persoalan Jembatan Naleung sederhana: negara absen, rakit yang bekerja. Jembatan penghubung antara Gampong Lhee dan Gampong Naleung di Kecamatan Julok ambruk dan hingga kini tak kunjung dibangun kembali, meski sudah empat tahun berlalu. Selama itu, warga dipaksa memilih antara keselamatan dan efisiensi. Untuk menyeberang sungai sekitar 90 meter, mereka mengandalkan rakit kayu milik warga, sementara jalur alternatif darat memaksa memutar 18–20 kilometer melalui jalan rusak. Inilah gambaran telanjang bagaimana infrastruktur jembatan ambruk mengubah kehidupan: akses terputus, biaya hidup naik, dan kepercayaan pada pemerintah menurun.

Empat Tahun Menunggu Jembatan, Hidup di Atas Rakit Darurat

Rakit Penyeberangan Darurat: Bayar Rp5.000 untuk Rasa Cemas

Di atas rakit penyeberangan darurat milik Junaidi, seluruh denyut hidup warga menumpuk: anak sekolah, pedagang, hingga pasien yang hendak berobat. Rakit kayu itu mampu mengangkut hingga 10 sepeda motor sekali seberang, dengan tarif Rp5.000 per motor dan Rp2.000 bagi pejalan kaki, termasuk anak sekolah. Kutipan yang patut dicatat: “Warga yang rutin menggunakan rakit bahkan dapat mengeluarkan sekitar Rp300 ribu dalam sebulan.” Biaya itu mungkin tampak kecil di kertas, tetapi bagi warga kecil ia adalah pajak tambahan atas kegagalan negara menyediakan jembatan layak.

Masalahnya bukan sekadar uang, tetapi rasa aman yang dirampas. Warga mengaku motor mereka pernah jatuh dan tenggelam saat melintas rakit. Mereka menyeberang saban hari dengan waswas, karena tahu satu kesalahan kecil bisa berujung petaka. Rakit beroperasi sejak pagi sekitar pukul 05.30 hingga tengah malam, bergantian dioperasikan beberapa orang. Bukannya mendapat jembatan permanen, warga justru hidup dengan solusi darurat yang terus dipanen sebagai pemasukan, sementara kewajiban pemerintah tampak seperti janji yang tidak pernah jatuh tempo.

Empat Tahun Menunggu Jembatan, Hidup di Atas Rakit Darurat

Anak Sekolah Menunggu Rakit: Pendidikan yang Disandera Infrastruktur

Dampak paling kejam dari jembatan rusak Aceh Timur adalah pada akses pendidikan terhambat. Setiap pagi, anak-anak Naleung harus menunggu rakit sebelum bisa berangkat sekolah. Waktu belajar mereka digadaikan pada aliran sungai dan antrean penyeberangan. Jika rakit penuh sepeda motor, mereka harus menunggu giliran; jika hujan dan arus kuat, kecemasan bertambah. Semua ini terjadi bukan karena sekolah jauh, tetapi karena jembatan yang semestinya menghubungkan hidup mereka dibiarkan ambruk.

Pemerintah sering bicara soal pentingnya pendidikan, tetapi di sini, kebijakan itu runtuh di tepi Krueng Naleung. Anak-anak yang semestinya fokus pada pelajaran, dipaksa memikirkan apakah punya ongkos Rp2.000 untuk menyeberang hari itu. Bagi keluarga miskin, pengeluaran harian ini menekan, memicu kemungkinan bolos, terlambat, bahkan putus sekolah. Pendidikan tidak hanya soal kurikulum, tetapi juga soal jalan dan jembatan. Tanpa infrastruktur, slogan tentang generasi emas hanyalah kata-kata kosong yang mengapung di atas sungai yang sama dengan rakit mereka.

Empat Tahun Menunggu Jembatan, Hidup di Atas Rakit Darurat

Janji Kunjungan Pejabat dan Perencanaan yang Berhenti di Atas Kertas

Yang membuat warga kian marah bukan hanya jembatan yang ambruk, tetapi parade pejabat yang datang, berfoto, lalu menghilang. Warga menyebut DPR RI, DPRA, hingga Bupati Aceh Timur sudah datang melihat langsung kondisi jembatan. Pada Oktober 2025, Bupati Iskandar Usman Al-Farlaky meninjau Jembatan Naleung dan menyampaikan upaya pembangunan kembali, termasuk opsi jembatan gantung maupun permanen. “Dulu kami tanya kapan dibangun, katanya nanti 2025,” keluh warga, yang kini melihat tahun berganti tanpa satu batu pun berdiri.

Secara administratif, ada secercah aktivitas: data pengadaan mencatat pekerjaan “Perencanaan Pembangunan Jembatan Naleung Kec. Julok” untuk Tahun Anggaran 2026 dengan pagu sekitar Rp130,8 juta dari APBD. Namun yang dibutuhkan warga bukan lagi perencanaan di atas kertas. Mereka menunggu pekerjaan dimulai, menunggu tiang berdiri, menunggu lantai jembatan bisa dilewati. Di mata warga, konten media sosial tentang capaian dan prestasi pemerintah terasa sinis ketika satu jembatan saja tak mampu diwujudkan. Ketika negara sibuk mendokumentasikan, warga sibuk mempertahankan hidup di atas rakit.

Dari Sungai ke Kebijakan: Saatnya Mengganti Janji dengan Beton

Empat tahun bergantung pada rakit penyeberangan darurat adalah bukti bahwa persoalan ini bukan lagi sekadar teknis, melainkan moral. Warga telah bosan dengan janji, jenuh dengan kunjungan, dan lelah membayar ongkos harian demi menambal abainya negara. Mereka tidak menuntut proyek mewah, hanya jembatan layak agar anak bisa sekolah tepat waktu, pedagang bisa mengantar barang, dan pasien bisa mencapai fasilitas kesehatan tanpa taruhan nyawa.

Solusinya tidak boleh berhenti pada kata “perencanaan”. Pemerintah kabupaten, provinsi, hingga pusat harus menetapkan tenggat jelas, mengumumkan jadwal pembangunan, dan memastikan pengawasan anggaran berjalan. Transparansi progres perlu dibuka ke publik, bukan sekadar unggahan pencitraan. Jembatan Naleung harus menjadi pelajaran: infrastruktur yang dibiarkan ambruk berarti masa depan warga ikut runtuh. Rakit boleh terus beroperasi sebagai cadangan, tetapi kebijakan yang waras menuntut satu hal: segera ganti janji dengan beton dan besi, sebelum empat tahun berubah menjadi satu generasi yang hilang.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!