Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Bundo Kanduang Perlu Mewariskan Adat kepada Generasi Muda

Bundo Kanduang Perlu Mewariskan Adat kepada Generasi Muda
Minat|Diskusi Resep

Warisan yang perlu hidup di tengah perubahan

Bundo Kanduang adalah organisasi perempuan adat Minangkabau yang menjaga identitas budaya sekaligus membimbing generasi muda memahami adat, agama, dan nilai luhur dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, pelestarian adat Minangkabau bukan perkara menyimpan kebiasaan lama, melainkan memastikan warisan tersebut tetap bermakna saat cara hidup berubah. Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto mendukung Perkumpulan Bundo Kanduang untuk terus melestarikan adat dan nilai-nilai Minangkabau. Ia menyampaikan dukungan itu ketika menghadiri kegiatan Perkumpulan Bundo Kanduang Minangkabau Provinsi Jawa Barat yang berkolaborasi dengan organisasi serupa dari DKI Jakarta, dalam acara memperingati Hari Batik Nasional dan Hari Kanker Payudara Sedunia di Gedung SMESCO, Jakarta, Minggu (25/10/2026).

Sorotan terhadap peran organisasi ini tepat waktunya. Modernisasi membuka banyak pengaruh dan pilihan bagi anak muda, tetapi tidak otomatis memberi mereka pegangan untuk menilai mana yang sejalan dengan nilai keluarga dan masyarakat. Di sinilah Bundo Kanduang dapat menghubungkan tradisi dengan kehidupan kini, bukan dengan memaksa generasi muda meniru masa lalu, melainkan menjelaskan alasan di balik adat dan agama. Jika warisan hanya disampaikan sebagai aturan tanpa pemahaman, ia mudah terasa jauh; jika ditautkan pada tanggung jawab, sikap, dan kebersamaan, nilai adat Minangkabau lebih mungkin dipahami dan diteruskan.

Membimbing generasi Z dengan teladan

Bima menekankan bahwa generasi muda, khususnya Generasi Z, memiliki potensi menjadi pemimpin masa depan, tetapi perlu dibekali akhlak yang baik dan pemahaman terhadap adat istiadat Minangkabau. Pesan ini sebaiknya dibaca sebagai ajakan untuk membimbing, bukan sekadar mengingatkan. Anak muda perlu ruang bertanya, kesempatan terlibat, dan teladan yang memperlihatkan bagaimana nilai agama dan adat diterapkan dalam pilihan sehari-hari. Peran Bundo Kanduang menjadi penting karena pewarisan budaya berlangsung melalui hubungan antargenerasi, bukan hanya lewat pernyataan resmi.

Dampaknya dekat dengan kehidupan masyarakat. Penguatan akhlak dan pemahaman adat diharapkan menjadi bekal bagi generasi penerus untuk berkontribusi bagi masyarakat, bangsa, dan negara. Dengan bekal itu, tradisi tidak harus menjadi penghalang kemajuan; ia dapat menjadi dasar untuk bertindak dengan tanggung jawab. Organisasi perempuan adat juga dapat membantu anak muda melihat bahwa menjaga identitas bukan berarti menolak perubahan, melainkan membawa prinsip yang dianggap penting ke dalam perubahan tersebut.

Tradisi Minangkabau juga mencakup daya juang dan pemikiran

Pelestarian tradisi Minangkabau tidak berhenti pada upacara atau simbol budaya. Bima mengingatkan pentingnya melanjutkan tradisi intelektual dan semangat berkontribusi, dengan menyebut tokoh-tokoh asal Minangkabau seperti Mohammad Hatta, Haji Agus Salim, Sutan Sjahrir, Tan Malaka, Rasuna Said, dan Mohammad Natsir. Teladan mereka memperluas makna pewarisan: generasi muda bukan hanya perlu mengenal asal-usulnya, tetapi juga membangun pengetahuan dan mengambil bagian dalam kehidupan bersama.

Bima juga menilai nilai agama, adat, jejaring perantauan, dan ikatan nagari ikut membentuk daya tahan serta daya juang masyarakat Minangkabau. Itu alasan lain mengapa tugas Bundo Kanduang tak semestinya dibatasi pada menjaga bentuk tradisi. Membantu generasi muda memahami hubungan antara akar budaya, ketangguhan, dan kontribusi sosial membuat warisan terasa hidup. Pendekatan tersebut lebih kuat daripada nostalgia, sebab ia memberi adat tempat dalam masa depan, bukan hanya dalam cerita tentang masa lalu.

Pewarisan harus menjadi praktik, bukan slogan

Dukungan Bima Arya memberi pengakuan pada peran Perkumpulan Bundo Kanduang, tetapi keberlanjutan adat bergantung pada bagaimana nilai itu benar-benar diteruskan. Organisasi perempuan adat perlu dipandang sebagai pembimbing yang dapat mempertemukan generasi, membuka percakapan, dan memberi anak muda kesempatan memaknai tradisi. Ini bukan beban yang dapat ditanggung satu organisasi saja: keluarga dan lingkungan masyarakat juga berperan membuat nilai agama dan adat hadir dalam keseharian.

Kesimpulannya, menjaga adat Minangkabau di tengah modernisasi bukan berarti membekukan budaya. Bundo Kanduang dapat membantu generasi muda membawa nilai adat Minangkabau ke dalam kehidupan yang terus berubah, sekaligus meneruskan tradisi intelektual dan semangat pengabdian. Jika bimbingan disertai teladan dan ruang bagi anak muda untuk memahami maknanya, warisan budaya akan menjadi bekal nyata bagi masa depan, bukan sekadar sesuatu yang diminta untuk dikenang.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!