Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Drone dan Satelit, Duet Baru Penjaga Lahan Rawan Api

Drone dan Satelit, Duet Baru Penjaga Lahan Rawan Api
Minat|Fotografi Udara Drone

Deteksi dini dari langit: apa dan mengapa

Deteksi kebakaran hutan dengan kombinasi drone dan satelit adalah sistem pemantauan dari udara yang menggabungkan citra real-time jarak dekat dan data penginderaan jauh untuk menemukan titik api, memantau asap, serta memetakan lahan rawan kebakaran secara cepat, sehingga petugas bisa merespons sebelum api meluas dan mengganggu masyarakat. Upaya ini bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Selama ini, pola penanganan kebakaran terlalu reaktif: api dibiarkan membesar dulu, baru dikejar dengan water bombing dan pemadaman darat. Padahal, karhutla bukan hanya membakar pepohonan; asapnya merusak kualitas udara dan kesehatan warga. Mengandalkan hujan atau angin bukan strategi, itu berjudi dengan nasib. Drone dan satelit memberi kita sesuatu yang selama ini hilang: waktu. Waktu untuk melihat gejala awal, mengirim tim, dan menggagalkan bencana sebelum membesar.

Drone dan Satelit, Duet Baru Penjaga Lahan Rawan Api

Drone BPBD Kobar: mata dekat di titik rawan

Deteksi kebakaran hutan drone kini menjadi praktik nyata di lapangan, bukan sekadar wacana. Di Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, BPBD Kobar memaksimalkan penggunaan drone untuk memantau potensi titik api dan sebaran asap dari udara. Fokusnya jelas: pemetaan lahan rawan kebakaran seperti di KM 18–19 ruas jalan Pangkalan Bun–Kolam, yang selama ini sulit dikawal dari darat. Dari udara, tim mendapatkan gambaran luas dan presisi, lalu menjadikannya dasar penentuan langkah penanganan ketika ada indikasi kebakaran. Ini contoh konkret bagaimana teknologi deteksi dini api mengubah cara kerja pemerintah daerah: bukan menunggu laporan terlambat, tetapi aktif menyapu wilayah kritis. Namun drone tidak bekerja dalam ruang hampa; keberhasilannya sangat bergantung pada laporan cepat warga yang diminta segera melaporkan titik api dan kepulan asap di sekitar mereka.

GeoTSat Telkomsat: intelijen bumi untuk satelit pantau karhutla

Jika drone adalah mata dekat, maka satelit pantau karhutla adalah radar jarak jauh yang menyapu wilayah luas sekaligus. Melalui platform GeoTSat, Telkomsat mengembangkan kapabilitas Earth Intelligence yang mengubah data satelit menjadi informasi yang mudah dipahami, mulai dari indikasi kejadian hingga pemantauan perubahan kondisi wilayah dari waktu ke waktu. Salah satu wujudnya adalah Karhutla GeoTSat, dashboard yang menampilkan persebaran titik panas dan aktivitas termal berdasarkan data NASA FIRMS. Data ini bukan sekadar gambar: analisis geospasial dan citra resolusi tinggi hingga 50 cm bekerja bersama untuk menunjukkan di mana perubahan terjadi, seberapa luas area terdampak, dan bagaimana perkembangan situasi. Dari area sampel yang dianalisis, bahkan dapat diestimasi wilayah terdampak sekitar 1.325 hektare. Di sini terlihat jelas nilai tambah teknologi deteksi dini api: informasi hotspot menjadi langkah awal untuk menentukan area yang perlu dipantau lebih detail di lapangan.

Ketika drone dan satelit disatukan: dari peta risiko ke aksi cepat

Kekuatan sebenarnya muncul saat deteksi kebakaran hutan drone dipadukan dengan intelijen satelit. Satelit memberi pandangan makro: peta persebaran hotspot, pola termal, dan pemetaan lahan rawan kebakaran dalam skala luas. Drone kemudian menjadi eksekutor detail: terbang ke titik yang dicurigai, mengonfirmasi kondisi di lapangan, dan memberi visual real-time bagi komando. Firman Soebagyo menegaskan, strategi pengendalian karhutla harus bergeser dari pola pemadaman setelah kebakaran terjadi menjadi pencegahan dan deteksi dini di kawasan rawan. Pernyataan ini bukan teori kosong; drone kini bahkan sudah mampu membawa air dengan bobot sampai 50 kilogram sebagai pendukung pemadaman. Sementara itu, GeoTSat membantu melihat indikasi hotspot secara luas, citra resolusi tinggi melihat area spesifik, dan analisis geospasial mengubahnya menjadi informasi terukur. Kombinasi ini membuat penanganan lebih efektif sebelum api meluas.

Dari teknologi ke kebijakan: jangan lagi bermain api

Teknologi hanya setengah cerita; sisanya adalah keberanian mengubah cara kita mengelola risiko. Satelit pantau karhutla dan drone yang terbang saban musim kemarau akan sia-sia jika kebijakan masih permisif terhadap pembukaan lahan dengan membakar. Firman Soebagyo menekankan, teknologi harus menjadi bagian inti strategi pencegahan, agar pemerintah bisa mengerahkan personel dan peralatan ketika titik api masih kecil. Di sisi lain, BPBD Kobar secara terang mengingatkan warga agar tidak membuka lahan dengan cara membakar dan mendorong mereka melapor jika melihat titik api atau asap. GeoTSat sendiri terus dikembangkan untuk mengubah data pengamatan bumi menjadi informasi yang lebih bernilai bagi pengguna. Pesannya jelas: tanpa sistem pemantauan yang kuat dan kesiapan sarana di lapangan, kita akan mengulang siklus yang sama setiap tahun. Drone dan satelit sudah siap; kini giliran kebijakan dan perilaku yang harus menyusul.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!