Angka investasi tinggi harus berujung pada pekerjaan
Investasi Jawa Barat adalah penanaman modal asing dan dalam negeri yang masuk ke provinsi ini untuk mendukung kegiatan usaha dan pertumbuhan ekonomi. Pada Triwulan III 2026, nilainya mencapai Rp91 triliun, tertinggi dibandingkan provinsi lain di Indonesia.
Pencapaian itu patut diapresiasi, tetapi ukuran keberhasilannya tidak berhenti pada besarnya modal. Bagi warga yang mencari nafkah, pertanyaan yang lebih penting adalah apakah investasi tersebut membuka pekerjaan yang layak dan dapat diakses. Gubernur Dedi Mulyadi menyampaikan harapan agar tren positif investasi Jabar berdampak pada ketersediaan lapangan kerja. Harapan itu tepat, sekaligus menjadi tolok ukur yang perlu diuji dengan hasil nyata. Tanpa penyerapan tenaga kerja yang sepadan, rekor investasi berisiko terasa jauh dari kehidupan sehari-hari.
Peluang kerja masih belum sebanding dengan pencari
Data aplikasi Nyari Gawe memperlihatkan besarnya kesenjangan yang harus dihadapi. Hingga 21 Oktober 2026, sebanyak 728.085 pencari kerja mengajukan sekitar 2,4 juta lamaran. Dari 803 perusahaan terdaftar, baru 230 yang membuka lowongan, dengan total 32.125 posisi; jumlah penerimaan yang tercatat mencapai 1.282 orang. Angka ini menunjukkan tekanan nyata di pasar kerja, meski data penerimaan pada aplikasi belum tentu mencakup seluruh proses rekrutmen di Jabar.
Dedi Mulyadi juga mengakui PHK masih cukup tinggi dan jumlah angkatan kerja melampaui kesempatan kerja yang tersedia. Karena itu, besarnya investasi tidak otomatis menyelesaikan persoalan. Pemerintah perlu memastikan proyek yang masuk benar-benar menambah kebutuhan pekerja, bukan hanya meningkatkan nilai modal. Perhatian juga perlu diberikan pada mutu pekerjaan dan kecocokan keterampilan, agar pertumbuhan lapangan kerja Jabar bukan sekadar angka pembukaan posisi, tetapi peluang yang dapat dijangkau masyarakat.
Nyari Gawe membantu, tetapi bukan pengganti penciptaan kerja
Pemprov Jabar mengandalkan Nyari Gawe untuk mempertemukan pencari kerja dengan perusahaan yang membutuhkan tenaga kerja. Layanan ini dapat memudahkan warga menemukan lowongan dan memberi gambaran tentang permintaan kerja. Namun, aplikasi tidak bisa memperbanyak posisi yang belum tersedia. Data jumlah pelamar yang jauh lebih besar daripada lowongan menjadi pengingat bahwa akses informasi saja tidak cukup.
Skala investasi Jawa Barat tetap memberi alasan untuk optimistis: realisasi gabungan PMA dan PMDN sepanjang Januari hingga September 2026 mencapai sekitar Rp229,1 triliun, sementara DPMPTSP Jabar menyatakan investasi pada periode itu menyerap 399.003 tenaga kerja. Pemerintah provinsi, kabupaten/kota, dan desa, menurut Dedi, perlu memacu masuknya investasi. Langkah berikutnya seharusnya menghubungkan dorongan tersebut dengan kebutuhan tenaga kerja dan pelatihan yang sesuai. Dengan begitu, angka investasi dapat diterjemahkan menjadi kesempatan yang lebih merata.
Ukuran keberhasilan adalah manfaat bagi pekerja
Rekor Rp91 triliun menegaskan kuatnya arus modal ke Jabar, tetapi capaian tertinggi bukan tujuan akhir. Pemerintah perlu menilai investasi berdasarkan kontribusinya terhadap pekerjaan yang tersedia, keberlanjutan usaha, dan peluang bagi warga setempat. Angka serapan 399.003 tenaga kerja sepanjang Januari–September 2026 memberi bukti bahwa investasi telah menciptakan pekerjaan, tetapi besarnya jumlah pencari kerja menunjukkan tantangannya belum selesai.
Harapan Dedi Mulyadi agar investasi menambah lapangan kerja harus diikuti pengawasan hasil dan langkah yang konsisten dari seluruh tingkat pemerintahan. Nyari Gawe dapat membantu mempertemukan perusahaan dan pelamar, sementara kebijakan investasi perlu mendorong kebutuhan tenaga kerja yang nyata. Kesimpulannya, investasi Jabar baru layak disebut berhasil sepenuhnya ketika manfaatnya terasa dalam pekerjaan yang dapat diakses masyarakat, bukan hanya dalam besarnya nilai modal.






