Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Dari Sensor hingga Peringatan Dini, Teknologi Memperkuat Pencegahan Karhutla

Dari Sensor hingga Peringatan Dini, Teknologi Memperkuat Pencegahan Karhutla
Minat|Solusi Pintar

Deteksi dini harus berujung pada tindakan

Deteksi dini karhutla adalah upaya mengenali tanda atau titik panas saat kebakaran masih terbatas, lalu menyampaikan informasi agar pemeriksaan dan penanganan dapat dilakukan sebelum api meluas. Nilai teknologi pencegahan bukan semata-mata pada kemampuannya menemukan ancaman, melainkan pada kecepatan orang di lapangan menindaklanjutinya. Arah itu tampak dalam rencana kolaborasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) untuk membangun sistem peringatan karhutla di kebun sawit rakyat. Kepala BNPB Letjen TNI Kristomei Sianturi memaparkan rencana tersebut di Jakarta pada 28 Oktober 2026, dalam diskusi pada Pertemuan Nasional Petani Kelapa Sawit Indonesia (Penas) III APKASINDO. Titik panas di dalam atau sekitar kebun akan menjadi pemicu informasi bagi pekebun dan kelompok tani untuk memeriksa lokasi dan mengambil langkah awal. Model ini tepat menyasar celah yang kerap menentukan besar-kecilnya bencana: jeda antara munculnya api dan kedatangan bantuan.

Dari Sensor hingga Peringatan Dini, Teknologi Memperkuat Pencegahan Karhutla

Pemantauan BNPB bertumpu pada peta kebun dan jejaring warga

Rencana BNPB dan APKASINDO dirancang khusus untuk kebun anggota, bukan sebagai alat pemantau seragam bagi seluruh bentang hutan. Agar satelit dapat mengaitkan titik panas dengan lokasi yang perlu diperiksa, pengurus daerah APKASINDO akan mendata batas dan koordinat lahan. Setiap kebun atau kelompok tani juga memerlukan kontak person yang bisa menerima peringatan. Setelah data terintegrasi, Pusat Pengendalian Operasi BNPB menyampaikan informasi hotspot di dalam atau sekitar kebun kepada kontak tersebut. Pekebun dan kelompok tani memeriksa keadaan; bila kebakaran ditemukan, penanganan dikoordinasikan dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Kelompok Tani Peduli Api (KTPA). Dengan demikian, teknologi menjadi penghubung antara pemantauan satelit dan keputusan manusia di lokasi, bukan pengganti petugas. Tahap awalnya adalah nota kesepahaman antara BNPB dan DPP APKASINDO, disusul pendataan lahan oleh pengurus DPW dan DPD. Tantangannya jelas: koordinat yang akurat, kontak yang aktif, dan prosedur respons harus berjalan bersama. Tanpa unsur-unsur itu, peringatan cepat belum tentu menghasilkan pemeriksaan cepat.

Defisa menambah jalur inovasi dari kampus

Jalur kedua datang dari perguruan tinggi. Kemendiktisaintek menyebut Politeknik Negeri Banjarmasin tengah mengembangkan Defisa, teknologi kebakaran hutan yang ditujukan untuk mendeteksi kebakaran hutan dan lahan sejak dini. Menurut Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemendiktisaintek, Fauzan Adziman, kemampuan mengenali api pada tahap awal sangat terkait dengan pengolahan dan pemahaman data lapangan. Berbeda dari skema BNPB–APKASINDO yang menautkan peringatan dengan batas kebun dan jaringan pekebun tertentu, pengembangan Defisa berangkat dari inovasi alat dan pemanfaatan data. Bahan yang tersedia belum merinci sensor, cara kerja teknis, atau cakupan uji lapangan Defisa; karena itu, teknologi ini belum layak dianggap sebagai pengganti sistem operasional yang sudah terbukti di berbagai wilayah. Defisa dijadwalkan diperkenalkan dalam Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia di ITS Surabaya pada 10–13 November 2026. Acara itu akan menampilkan sekitar 490 produk hasil kurasi dari kurang lebih 850 usulan kampus, serta membuka kesempatan bagi pengunjung untuk berdiskusi dengan para penemunya. Pameran dapat mempertemukan gagasan dan pengguna, tetapi uji lapangan tetap menjadi ukuran sesungguhnya.

Kesiapsiagaan ditentukan oleh sambungan antarperan

Kedua pendekatan mengisi kebutuhan berbeda. Sistem BNPB–APKASINDO berfokus pada pemantauan lokasi kebun yang terdaftar dan penyampaian peringatan kepada orang yang bertanggung jawab di sana. Defisa mewakili upaya kampus mengembangkan perangkat deteksi berbasis pengolahan data, tetapi informasi yang tersedia belum menjelaskan skala penerapan atau wilayah pantauannya. Perbandingan itu mengingatkan bahwa inovasi alat dan jaringan respons bukan dua hal yang saling menggantikan. Cakupan kebun sawit rakyat penting karena sejumlah perkebunan berada dekat lahan gambut yang rawan terbakar. Namun, peringatan hanya berguna jika penerima dapat menjangkau lokasi, memiliki sarana pemadaman, serta tahu kapan harus melibatkan BPBD dan KTPA. BNPB juga menekankan kebutuhan peralatan pemadam, sumber air, kelompok yang terlatih, dan prosedur darurat. Teknologi memperpendek waktu untuk mengetahui ancaman; kesiapan manusia menentukan apakah waktu itu benar-benar menyelamatkan kebun dan lingkungan. Karena itu, keberhasilan pencegahan tidak pantas diukur dari jumlah alat atau peta titik panas saja, melainkan dari tindak lanjut yang terkoordinasi dan konsisten.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!