Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Karbon Biru Pesisir: Dari Lamun dan Mangrove Menjadi Aset Ekonomi

Karbon Biru Pesisir: Dari Lamun dan Mangrove Menjadi Aset Ekonomi
Minat|Asia Tenggara

Karbon biru: dari fungsi ekologis ke portofolio aset pesisir

Karbon biru padang lamun dan mangrove adalah karbon yang tersimpan di ekosistem pesisir berupa tanaman dan sedimen laut, yang memiliki kemampuan menyerap dan menyimpan emisi gas rumah kaca dalam jangka panjang sekaligus menawarkan nilai ekonomi melalui perdagangan karbon, menjadikannya aset karbon wilayah pesisir yang dapat mendukung mitigasi iklim dan kesejahteraan masyarakat secara bersamaan. Karbon biru padang lamun selama ini lebih sering dibicarakan dalam konteks konservasi, padahal angkanya sudah masuk kategori aset yang layak dimasukkan ke neraca ekonomi daerah. Ketika pesisir kita tidak lagi dilihat sekadar ruang belakang pembangunan, karbon biru menjadi argumen kuat bahwa laut dangkal dan hutan mangrove adalah zona investasi. Pertanyaannya bukan lagi apakah ekosistem ini penting, tetapi bagaimana mengubahnya menjadi ekosistem mangrove ekonomi dan portofolio karbon yang terukur, bisa dijual, dan tetap lestari.

Lamun Kaltim: gudang karbon terabaikan bernilai Rp5,78 miliar

Riset Badan Riset dan Inovasi Daerah Kalimantan Timur bersama Universitas Mulawarman menunjukkan padang lamun Kaltim menyimpan 1.157,51 ton karbon dengan potensi nilai ekonomi sekitar Rp5,78 miliar. Angka ini dihitung dengan asumsi harga perdagangan karbon Rp5 juta per ton. Dalam konteks nilai karbon pesisir Indonesia, ini bukan lagi angka kecil: ia setara portofolio aset yang selama ini tidak tercatat di buku akuntansi daerah. Menariknya, penelitian bertajuk “Restorasi Lamun sebagai Upaya Peningkatan Carbon Storage di Provinsi Kaltim” dilakukan berkesinambungan sejak 2024 hingga 2026, menandai pergeseran serius dari sekadar survei ekologis ke desain ekonomi karbon biru padang lamun. Temuan stok karbon sedimen di Pulau Miang Kecil mencapai 383,78 ton per hektare, jauh di atas stok pada tegakan tanaman. Artinya, kebijakan pesisir yang hanya fokus pada vegetasi permukaan mengabaikan gudang karbon terbesar: sedimen di bawah kaki nelayan dan petambak.

M4CR: rehabilitasi mangrove yang berpikir seperti program ekonomi

Di sisi mangrove, Program Mangroves for Coastal Resilience (M4CR) mengubah rehabilitasi mangrove program menjadi agenda ekonomi pesisir. Kalimantan Timur ditetapkan sebagai salah satu wilayah prioritas pelaksanaan M4CR, dengan tujuan memulihkan ekosistem mangrove, meningkatkan ketahanan pesisir, sekaligus memperkuat rantai ekonomi masyarakat. Ini penting: selama bertahun-tahun, rehabilitasi mangrove diposisikan sebagai proyek tanam-bibit tanpa narasi pendapatan. M4CR menolak pendekatan itu. Program ini menargetkan rehabilitasi dan pengelolaan sekitar 32.634 hektare mangrove hingga 2027, sambil memastikan mangrove tumbuh, fungsi ekosistem kembali, dan masyarakat mampu mengelolanya secara berkelanjutan. Di kawasan tambak, pola silvofishery mengintegrasikan mangrove dengan kegiatan perikanan sehingga pemulihan ekosistem tidak mematikan aktivitas ekonomi lokal. Di sini, ekosistem mangrove ekonomi bukan jargon, melainkan desain konkret: tambak tetap produksi, mangrove tetap tumbuh, karbon tetap tersimpan.

Dari hibah produktif ke model bisnis karbon biru komunitas

Potensi nilai karbon pesisir Indonesia akan mandek menjadi angka di laporan riset jika tidak dikaitkan dengan sumber pendapatan nyata bagi komunitas. M4CR memberi petunjuk bagaimana skema itu bisa bekerja: masyarakat ditempatkan sebagai aktor kunci melalui kegiatan rehabilitasi, sekolah lapang, pemeliharaan, pengawasan, hingga pengembangan usaha produktif. Dukungan ekonomi dilakukan lewat hibah usaha produktif atau matching grants untuk kelompok masyarakat, yang bisa digunakan mengembangkan usaha lokal seperti pengolahan pangan, budidaya kepiting, madu kelulut, dan kerajinan. Ini sebenarnya embrio model bisnis karbon biru: komunitas memulihkan dan merawat ekosistem mangrove, sekaligus membangun portofolio usaha yang bertumpu pada ekosistem yang sehat. Jika kerangka pasar karbon masuk secara serius, hibah bisa bertransformasi menjadi pembayaran jasa ekosistem—kompensasi berbasis kinerja simpanan karbon. Di titik itu, aset karbon wilayah pesisir menjadi sumber kas komunitas, bukan hanya statistik kebijakan.

Kesimpulan: pesisir sebagai laboratorium ekonomi iklim

Padang lamun Kaltim dengan simpanan ribuan ton karbon dan nilai Rp5,78 miliar, serta program rehabilitasi mangrove M4CR dengan target 32.634 hektare, menunjukkan satu hal: pesisir kita telah siap naik kelas dari ruang marginal menjadi laboratorium ekonomi iklim. Ekosistem karbon biru tidak hanya penting untuk mitigasi iklim, tetapi juga membuka peluang pendapatan berkelanjutan bagi komunitas pesisir melalui perdagangan karbon, usaha berbasis mangrove, dan skema hibah produktif. Namun, tanpa penguatan tata kelola, transparansi nilai karbon, dan perlindungan sosial seperti yang disinggung dalam prinsip inklusi M4CR, peluang ini bisa kembali didominasi proyek jangka pendek. Pilihan kebijakan ke depan harus berani memperlakukan padang lamun dan mangrove sebagai portofolio aset pesisir yang dikelola dengan logika bisnis dan keadilan ekologis—bukan sekadar target tanam.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!