TPA Bukan Lagi Tempat Buang, Tapi Mesin Aset Daerah
Transformasi TPA Tamangapa Makassar adalah proses mengubah tempat pembuangan akhir yang selama ini menjadi sumber polusi, bau, dan biaya tinggi, menjadi infrastruktur lingkungan yang tertata, mengurangi volume sampah melalui pemilahan dari sumber, menangkap gas metana sebagai gas metana bioenergi, dan membuka peluang perdagangan karbon serta pendapatan asli daerah yang berkelanjutan. Volume sampah yang masuk ke TPA Tamangapa turun drastis dari lebih dari 1.000 ton per hari menjadi hanya sekitar 250,5 ton per hari, berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup pada 23 September 2026 yang mencatat 250.500 kilogram sampah per hari. Angka ini bukan sekadar statistik: ini bukti bahwa pembenahan sampah berbasis pemilahan di hulu bekerja, dan menjadi fondasi bagi model ekonomi baru berbasis emisi rendah.

Pemilahan Sampah: Kebijakan yang Mengurangi Beban dan Mengubah Kebiasaan
Kepala DLH Makassar, Helmy Budiman, menyebut penurunan drastis volume sampah yang masuk ke TPA Tamangapa sebagai dampak langsung program pemilahan dan pengolahan sampah dari sumber yang mulai diterapkan 1 Agustus 2026. Program ini memaksa perubahan kebiasaan: warga diminta memilah sampah menjadi organik, anorganik, dan residu sebelum diangkut, sehingga hanya residu yang berakhir di TPA. Wali Kota Munafri menegaskan keberhasilan skema ini bergantung pada kepatuhan rumah tangga, bukan sekadar peraturan; ia menyebut ada proses panjang mengubah kebiasaan, dari sekadar patuh karena aturan menjadi sadar karena paham manfaatnya. Di sini letak pandangan penting: pembenahan sampah tidak bisa berhenti di pintu TPA, karena tanpa perubahan perilaku, angka 250,5 ton per hari akan naik lagi begitu euforia kebijakan mereda.
Metana: Dari Ancaman Iklim Menjadi Gas Metana Bioenergi
Tumpukan sampah organik di TPA Tamangapa yang terbentuk sejak dekade 1990-an menghasilkan gas metana yang selama ini berpotensi lepas ke atmosfer. Di titik inilah masuk tawaran Oikos Earth: mengelola metana melalui skema perdagangan karbon. CEO Oikos Earth, Muh. Syiraz, menyatakan mereka tengah mengeksplorasi proyek pengurangan emisi berbasis pengelolaan gas metana di TPA Tamangapa dan menegaskan bahwa metana yang ditangkap dapat dikonversi menjadi kredit karbon jika memenuhi persyaratan teknis. Pernyataan kuncinya lugas: "Metana yang tadinya bisa terlepas ke atmosfer, dengan kita tangkap, itu bisa kita terbitkan instrumen lingkungan yang namanya carbon credit". Apalagi, mereka melihat potensi tambahan: gas metana yang sudah ditangkap bisa dimurnikan menjadi bio-CNG dan dipasarkan ke sektor industri sebagai bahan bakar alternatif.
Pembenahan Operasional: Syarat Masuk ke Ekonomi Karbon
Perdagangan karbon bukan tiket gratis; ia menuntut standar teknis ketat dalam pengelolaan TPA. Kunjungan tim Oikos Earth bersama DLH Makassar dan Tim Ahli Pemkot ke TPA Tamangapa menunjukkan bahwa pembenahan sudah berjalan: area timbunan yang dikunjungi telah ditutup dengan soil cover, tersedia delapan sumur penangkap gas metana dan tiga di antaranya sudah aktif. Selain penangkapan gas, sistem pengelolaan air lindi juga mulai ditata. Syiraz menilai progres ini "luar biasa" dan menandakan keseriusan pemkot memperbaiki pengelolaan persampahan. Di sinilah hubungan langsung antara operasi harian dan ekonomi: tanpa meninggalkan pola open dumping dan beralih ke sistem yang lebih terkendali, proyek carbon trade tidak mungkin memenuhi standar, dan peluang PAD pun lenyap sebelum dimulai.
Dari Beban Biaya ke Mesin PAD Berkelanjutan
TPA Tamangapa kini mulai dipandang sebagai aset lingkungan yang berpotensi menghasilkan nilai ekonomi bagi kota, bukan sekadar pos biaya pengelolaan sampah. Oikos Earth secara terang menyatakan eksplorasi mereka ingin menunjukkan bahwa TPA bisa menjadi sumber pendapatan dan bahkan Pendapatan Asli Daerah. Beban biaya operasional dapat diimbangi oleh dua jalur: kredit karbon dari pengurangan emisi metana dan penjualan bio-CNG kepada industri. Namun, optimisme ini datang dengan syarat. Di satu sisi, warga harus konsisten memilah dan mengolah sampah agar volume yang masuk ke TPA tetap rendah dan terkendali. Di sisi lain, pemerintah harus menjaga standar teknis dan tata kelola. Kesimpulannya tegas: TPA Tamangapa adalah contoh bahwa pembenahan sampah yang konsisten bisa mengubah masalah lingkungan menjadi aset finansial berkelanjutan—selama disiplin sosial dan kedisiplinan teknis berjalan beriringan.






