Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

SMV Kementerian Keuangan Dorong Kemiri NTB Menjadi Pemain Global

SMV Kementerian Keuangan Dorong Kemiri NTB Menjadi Pemain Global
Minat|Asia Tenggara

SMV Kementerian Keuangan: Dari Instrumen Fiskal ke Penggerak Desa Devisa

Program TJSL Sinergi SMV Kementerian Keuangan untuk komoditas kemiri di Nusa Tenggara Barat adalah inisiatif gabungan berbagai Special Mission Vehicle di bawah Direktorat Jenderal Kekayaan Negara yang dirancang untuk mengubah komoditas lokal menjadi komoditas ekspor bernilai tambah tinggi melalui intervensi menyeluruh dari hulu hingga hilir, pemberdayaan petani, dan pembukaan akses ke pasar global.

Inti dari kebijakan ini sederhana namun strategis: SMV Kementerian Keuangan tidak lagi diposisikan sebatas aset negara, tetapi sebagai mesin pembangunan ekonomi daerah yang konkret. Sejak 2022, DJKN mendorong semua SMV bersinergi dalam TJSL untuk mengoptimalkan peran dan kompetensinya demi manfaat yang lebih luas bagi masyarakat. Peluncuran Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Sinergi SMV bertajuk “Pemberdayaan Komoditas Desa Devisa Kemiri Nusa Tenggara Barat yang Berkelanjutan dan Berorientasi Ekspor” di Mataram pada Kamis (24/9) menandai pergeseran penting itu. Ini bukan sekadar program bakti sosial; ini adalah desain kebijakan yang memadukan tanggung jawab sosial dengan agenda penguatan ekonomi daerah NTB.

TJSL sebagai Program Pemberdayaan, Bukan Sumbangan Seremonial

Program TJSL Sinergi SMV untuk kemiri NTB menjangkau 40 desa dan 350 petani binaan, dengan lahan sekitar 7.836 hektare dan produksi sekitar 120 ton per tahun. Angka ini menunjukkan bahwa TJSL di sini bukan bantuan simbolik, melainkan intervensi terukur yang menyasar struktur produksi komoditas lokal pasar global. Desainnya integratif: mulai penanaman bibit, peningkatan kapasitas petani, pembangunan sentra produksi, modernisasi pascapanen, pemanfaatan energi surya, hingga pengembangan produk turunan seperti minyak kemiri dan briket.

Dengan skema seperti itu, TJSL berubah fungsi menjadi program pemberdayaan yang konsisten dengan mandat SMV Kementerian Keuangan, bukan aktivitas filantropi sesaat. Targetnya jelas: jumlah petani di Lombok, Sumbawa, dan Bima diharapkan naik menjadi 550–720 orang, sementara produksi digenjot bertahap hingga 2.400–3.600 ton per tahun. Ini adalah kutipan kebijakan yang layak dicermati: “Program ini dirancang untuk meningkatkan jumlah petani yang terlibat di Lombok, Sumbawa, dan Bima menjadi 550–720 orang serta menggenjot produksi secara bertahap hingga mencapai 2.400–3.600 ton per tahun”.

Membangun Ekosistem Ekspor Kemiri NTB: Peran SMV dan BUMN

Jika selama ini komoditas lokal sering terjebak sebagai bahan mentah murah, program ini secara eksplisit menantangnya. Kemiri NTB diakui memiliki potensi menjadi komoditas ekspor bernilai tambah tinggi. Tantangan utama, seperti diakui LPEI, adalah menghubungkan potensi di tingkat petani dengan standar kualitas, pengolahan, dan akses pasar global. Di sinilah sinergi SMV mengambil peran: LPEI memperkuat pengolahan pascapanen, PT PII meningkatkan kapasitas petani, PT SMI mendukung penanaman bibit, PT SMF membangun sentra produksi, PT GDE memasang panel surya, PT Karabha Digdaya mengelola pascapanen, sementara IIF dan PT Sejahtera Eka Graha menggarap produk turunan briket dan minyak kemiri.

Pendekatan ini membentuk ekosistem produksi yang lengkap, dari hulu hingga hilir, dengan BUMN dan SMV sebagai tulang punggung. LPEI secara tegas menempatkan diri sebagai jembatan ekspor, memperkuat kesiapan produk dan pelaku usaha agar memenuhi kebutuhan pasar ekspor. Ini sejalan dengan mandat mereka untuk mendorong ekspor nasional dan menjadikan ekspor kemiri NTB bukan wacana, tetapi realitas bisnis. Pelepasan ekspor kemiri tujuan Jepang, dengan potensi pasar ke Singapura, menjadi sinyal bahwa rantai nilai yang lebih kuat mulai terbentuk dan komoditas lokal pasar global bukan lagi jargon.

Dampak Nyata bagi Ekonomi Daerah NTB dan Petani

Dampak program ini pada ekonomi daerah NTB tidak berhenti pada tabel output produksi. Pendapatan petani ditargetkan naik 20–25 persen, sementara efisiensi produksi didorong hingga 60–70 persen. Program ini juga diharapkan menambah 3–6 negara tujuan ekspor dan meningkatkan nilai ekonomi lokal sekitar Rp30 miliar–Rp40 miliar per tahun. Dengan kata lain, ekspor kemiri NTB diposisikan sebagai penggerak langsung kesejahteraan, bukan hanya angka dalam neraca perdagangan.

Gubernur NTB menekankan bahwa kemiri adalah potensi yang harus dikembangkan dengan rantai yang terhubung dari hulu sampai hilir dan mampu menembus pasar global, sehingga manfaat akhirnya kembali ke masyarakat melalui peningkatan produktivitas, pendapatan petani, dan tumbuhnya kegiatan ekonomi di daerah. Di atas kertas, semua indikator ekonomi daerah NTB tampak menjanjikan; tantangannya adalah menjaga agar ekosistem produksi tidak kembali terfragmentasi ketika intervensi awal SMV mereda. Kunci keberhasilan ada pada kemampuan pemerintah daerah dan pelaku usaha lokal mengambil alih tongkat estafet ketika model sudah terbentuk dan kegiatan ekonomi berjalan.

Mengapa Pendekatan SMV–TJSL Layak Diadopsi ke Komoditas Lain

Program kemiri NTB ini menunjukkan bahwa SMV Kementerian Keuangan bisa menjadi katalis transformasi komoditas lokal, bukan sekadar penyedia pembiayaan. Pengembangan ekspor kemiri NTB diarahkan pada peningkatan nilai tambah, penguatan mutu, dan perluasan akses pasar. Untuk bisa masuk pasar ekspor secara lebih kompetitif, kemiri tidak cukup dijual sebagai bahan mentah; ia perlu diolah menjadi kemiri kupas, kemiri sangrai, kemiri bubuk, pasta bumbu, dan minyak kemiri. Di sinilah model SMV–TJSL memberi pelajaran: hilirisasi harus diintegrasikan dengan pemberdayaan dan pembiayaan.

Pelajaran keduanya, Special Mission Vehicle perlu dilihat sebagai platform bersama yang menyatukan kompetensi BUMN dengan kebutuhan riil desa. Program ini menjangkau 40 desa, 350 petani, dan menargetkan ratusan petani baru dengan produksi ribuan ton per tahun—angka yang cukup untuk menguji apakah sinergi ini bisa menjadi pola bagi komoditas lain seperti rempah atau produk pangan lokal. Jika berhasil, SMV bukan hanya instrumen kebijakan pusat, tetapi arsitek ekosistem komoditas lokal pasar global yang menyatu dengan kebutuhan ekonomi daerah NTB dan wilayah lain yang mengandalkan pertanian.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!