Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Tabungan Pelajar Bertambah, Sampah Sekolah Jadi Saldo

Tabungan Pelajar Bertambah, Sampah Sekolah Jadi Saldo
Minat|Pendidikan Orang Tua dan Anak

Menabung dan memilah sampah dalam satu kebiasaan

Simpanan Pelajar adalah program tabungan bagi siswa yang membangun kebiasaan menyisihkan uang sejak dini, dan di Pontianak kini dihubungkan dengan pengelolaan sampah sekolah agar hasil pemilahan dapat menambah saldo rekening. Integrasi ini layak didukung karena mengajarkan bahwa keputusan keuangan dan tanggung jawab lingkungan bisa tumbuh bersama, bukan menjadi pelajaran yang terpisah. Sebanyak 49.351 rekening Simpanan Pelajar (SimPel) tercatat di Pontianak. Pemerintah kota mendorong perluasan program dengan bank sampah mini, sehingga sampah yang dipilah siswa dapat ditimbang, dinilai, lalu hasil penjualannya masuk ke rekening masing-masing.

Sosialisasi program berlangsung di SMP Negeri 22 dan SD Negeri 15 Pontianak dengan melibatkan sekolah, guru, dan Bank Kalbar. Wali Kota Edi Rusdi Kamtono menyebut pembiasaan menabung sebagai bagian dari pendidikan karakter yang melatih disiplin, tanggung jawab, dan kemampuan menentukan prioritas. Itulah inti literasi keuangan anak: bukan sekadar memiliki rekening, melainkan belajar mengambil keputusan tentang uang.

Tabungan Pelajar Bertambah, Sampah Sekolah Jadi Saldo

Dari sampah terpilah menjadi saldo

Mekanismenya cukup mudah dipahami siswa: sampah dipilah di rumah, dibawa ke sekolah, ditimbang dan dinilai sesuai jenisnya. Setelah sekolah bekerja sama dengan Bank Sampah Rosella untuk membeli hasil pilahan, nilai penjualan dikonversi menjadi saldo SimPel. Sampah plastik tertentu, misalnya, disebut memiliki nilai jual sekitar Rp4.000 per kilogram.

Nilai uang yang terkumpul mungkin kecil, tetapi pelajaran yang dibawanya lebih besar. Siswa melihat hubungan langsung antara memilah, menimbang, dan bertambahnya tabungan pelajar. Mereka juga belajar bahwa benda yang dianggap tak berguna bisa bernilai jika dikelola dengan tepat. Praktik ini lebih membumi daripada mengajarkan konsep menabung hanya lewat nasihat: anak mengalami sendiri bagaimana kebiasaan kecil menghasilkan manfaat.

Program ini juga berpotensi mengurangi sampah yang dibuang ke tempat penampungan sementara. Namun, hasil lingkungan dan pembelajaran akan bergantung pada pemilahan yang benar serta proses penimbangan dan pencatatan yang transparan.

Perluasan harus disertai pendampingan

Dari 141 sekolah peserta Adiwiyata di Pontianak, 35 telah memiliki bank sampah mini. Dinas Lingkungan Hidup menyatakan jumlah itu akan ditingkatkan seiring pembinaan pengelolaan sampah di sekolah. Kesenjangan tersebut menunjukkan bahwa gagasan ini sudah berjalan, tetapi belum menjadi kebiasaan yang merata. Pemerintah kota juga mendorong sekolah dasar dan sekolah menengah pertama di bawah kewenangannya mengikuti program.

Perluasan fasilitas saja tidak cukup. Sekolah perlu mengajarkan cara memilah, memastikan sampah diterima secara teratur, dan menjelaskan bagaimana hasil penjualan masuk ke rekening siswa. Pendampingan yang berkelanjutan penting agar bank sampah sekolah tidak berhenti sebagai tempat pengumpulan yang jarang digunakan. Ajakan untuk menjangkau sekolah swasta, madrasah, dan pesantren juga tepat, sebab kesempatan belajar mengelola uang dan sampah seharusnya tidak terbatas pada satu jenis sekolah.

Kebiasaan kecil dengan pelajaran panjang

Integrasi SimPel dan bank sampah mini menawarkan cara konkret untuk menghubungkan literasi keuangan dengan kepedulian lingkungan. Rekening memberi tempat bagi hasil usaha siswa, sementara proses pemilahan mengajarkan tanggung jawab atas sampah yang mereka hasilkan. Agar manfaatnya bertahan, sekolah dan mitra perlu menjaga proses tetap mudah, rutin, dan dapat dipahami anak.

Pada akhirnya, keberhasilan program tidak semestinya diukur hanya dari jumlah rekening atau bank sampah yang dibuka. Ukurannya adalah apakah siswa terbiasa menyisihkan uang, memilih kebutuhan dengan bijak, dan memilah sampah tanpa harus terus diingatkan. Jika pendampingan mengikuti perluasan program, Pontianak dapat menjadikan tabungan pelajar sebagai pelajaran sehari-hari: nilai ekonomi dan tanggung jawab lingkungan sama-sama tumbuh dari kebiasaan.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!