Pertumbuhan kuat, tetapi belum merata
Investasi daerah adalah penanaman modal oleh pelaku usaha yang membiayai kegiatan ekonomi dan proyek, dengan dampak yang dapat terlihat pada kesempatan kerja serta perkembangan kawasan. Di Jawa Tengah, realisasi investasi sepanjang Januari–September 2026 mencapai Rp72,54 triliun, tumbuh 9,7 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya. Angka ini memberi alasan untuk optimistis, tetapi total provinsi saja tidak cukup untuk menunjukkan ke mana manfaat pertumbuhan mengalir. Hampir Rp19,5 triliun masuk ke Kendal dan Batang—hampir 27 persen dari keseluruhan capaian. Artinya, dua kabupaten bertetangga itu menyerap bagian modal yang jauh lebih besar daripada daerah lain secara individual. Pertanyaan pentingnya bukan hanya apakah investasi Jawa Tengah bertambah, melainkan apakah konsentrasi ini menghasilkan pekerjaan dan peluang ekonomi yang tersebar lebih luas.
Dari total tersebut, penanaman modal asing menyumbang Rp40,77 triliun dan penanaman modal dalam negeri Rp31,77 triliun. Capaian itu setara 73,21 persen dari target tahunan resmi Rp99,09 triliun. Maka, pertumbuhan tahunan yang positif belum berarti target sudah dekat untuk dipastikan tercapai; masih ada bagian target yang perlu dikejar pada sisa tahun. Namun, kenaikan investasi pada kedua sumber modal—PMA dan PMDN—menandakan pertumbuhan tidak bergantung pada satu jenis penanam modal saja.

Kendal dan Batang menjadi magnet modal
Kendal menjadi penerima investasi terbesar, dengan Rp11,65 triliun, sementara Batang mencatat Rp7,85 triliun. Jika dijumlahkan, nilai investasi Kendal Batang mencapai hampir 27 persen dari realisasi investasi Jateng sebesar Rp72,54 triliun. Konsentrasi seperti ini bukan kejutan: kedua daerah memiliki kawasan industri yang menjadi penopang, yakni Kawasan Ekonomi Khusus Kendal dan KEK Industropolis Batang. Infrastruktur kawasan dan kesiapan lokasi tampaknya memberi investor alasan praktis untuk memilih dua kabupaten ini. Namun, dominasi mereka juga menjadi ukuran tantangan pemerataan: hampir tiga perempat modal provinsi berada di luar pasangan tersebut, sehingga daerah lain perlu punya daya tarik dan kesiapan proyek yang mampu bersaing.
Kendal tetap di urutan pertama ketika PMA dan PMDN digabung, dengan Rp13,61 triliun; Kota Semarang menyusul Rp9,08 triliun, lalu Batang Rp8,55 triliun. Angka gabungan ini berbeda dari peringkat PMA saja, ketika Batang berada di atas Kendal. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa strategi pembangunan tidak cukup hanya mengejar modal asing atau membangun kawasan industri: kemampuan menarik investasi domestik juga menentukan posisi daerah. Pemerintah provinsi merencanakan penambahan 12 kawasan industri baru di sejumlah kabupaten dan kota. Rencana itu patut dinilai dari apakah kawasan baru mampu memperluas sebaran proyek, bukan sekadar menambah kapasitas tanpa menjamin minat investor.

Pekerjaan menjadi ukuran manfaat yang lebih nyata
Realisasi investasi Jateng menghasilkan serapan tenaga kerja sebanyak 340.334 orang dari 82.420 proyek selama Januari–September 2026, meningkat 4,25 persen dari periode sama tahun sebelumnya. Jumlah itu membuat pertumbuhan investasi lebih mudah dikaitkan dengan kehidupan warga: modal bukan hanya angka, tetapi juga peluang kerja. Meski begitu, besarnya serapan belum menjawab seluruh pertanyaan tentang mutu pekerjaan, kesinambungan kerja, atau kecocokan keterampilan. Pemerintah dan pelaku usaha perlu memastikan bahwa peluang tersebut dapat diakses tenaga kerja setempat dan ditopang pelatihan yang sesuai kebutuhan industri.
Kota Semarang menyerap pekerja terbanyak, yakni 44.459 orang, disusul Kendal dengan 30.668 dan Jepara dengan 30.552. Dari sisi sektor, industri barang dari kulit dan alas kaki menyerap 77.330 pekerja, sementara industri tekstil menyerap 69.422. Data ini mengingatkan bahwa lokasi penerima modal terbesar belum otomatis menjadi daerah dengan serapan kerja tertinggi. Karena itu, capaian provinsi sebaiknya dibaca melalui dua ukuran sekaligus: nilai modal dan jumlah pekerjaan. Calon investor dari Uni Emirat Arab juga tengah menjajaki peluang di Jawa Tengah, termasuk rencana fasilitas kilang mikro di sekitar Jepara. Jika penjajakan itu berlanjut, manfaatnya akan lebih berarti bila perekrutan dan rantai pasok memberi ruang bagi pekerja serta usaha lokal.

Pertumbuhan perlu diikuti pemerataan
Kenaikan 9,7 persen dan 340.334 kesempatan kerja merupakan capaian yang layak diapresiasi, tetapi keduanya tidak menghapus persoalan konsentrasi. Kendal dan Batang memperoleh hampir 27 persen dari total modal provinsi, didukung kawasan industri yang sudah beroperasi. Keunggulan itu sebaiknya menjadi pemicu bagi daerah lain untuk memperbaiki kesiapan lahan, perizinan, tenaga kerja, dan koneksi ke industri—bukan alasan untuk menerima ketimpangan sebagai sesuatu yang tak terhindarkan. Pemerintah menyebut pengawalan perizinan dan penjagaan iklim usaha sebagai bagian dari upaya menarik investasi. Ukuran keberhasilan berikutnya adalah apakah layanan dan pembangunan kawasan memperluas peta investasi, sekaligus mengubah proyek baru menjadi pekerjaan yang dapat diakses masyarakat.
Kesimpulannya, investasi Jawa Tengah tumbuh dengan laju sehat, tetapi peta modalnya masih berat ke Kendal dan Batang. Capaian provinsi menjadi lebih kuat jika pertumbuhan tidak hanya menambah nilai penanaman modal, tetapi juga menyebarkan proyek dan pekerjaan ke lebih banyak daerah. Rencana 12 kawasan industri baru dan penjajakan investasi di Jepara membuka peluang untuk memperluas sebaran itu. Namun, hasil akhirnya perlu diukur dengan realisasi proyek, pemerataan kesempatan kerja, dan manfaat yang dirasakan warga—bukan sekadar jumlah kawasan atau besarnya target.







