Tenang bukan berarti mengabaikan risiko
Tekanan nilai tukar adalah perubahan kurs yang dipicu dinamika pasar dan dapat memengaruhi biaya usaha serta daya beli, sehingga perlu direspons dengan kebijakan terukur, bukan kepanikan. Anggota Dewan Pertimbangan Presiden Bambang Soesatyo, atau Bamsoet, menyerukan ketenangan setelah Sidang Pleno IV Wantimpres di Jakarta pada Kamis, 29 Oktober 2026. Ia mengajak pemangku kepentingan memperkuat sinergi untuk menjaga stabilitas nilai rupiah. Seruan itu tepat: reaksi berlebihan dapat memperburuk sentimen, sementara pergerakan harian bukan dengan sendirinya bukti bahwa kondisi ekonomi sedang runtuh. Bamsoet menekankan bahwa respons harus tenang, terukur, dan terkoordinasi agar gejolak tidak membebani dunia usaha maupun daya beli masyarakat. Sikap tenang, bagaimanapun, bukan alasan untuk berpuas diri. Pemerintah dan otoritas moneter tetap perlu menjelaskan langkah mereka secara terbuka dan konsisten.
Latar tekanan saat ini juga tidak berdiri sendiri. Penguatan dolar AS, perubahan harga energi global, arus modal internasional, serta meningkatnya kebutuhan valuta asing korporasi menjelang akhir tahun ikut memengaruhi pasar. Rupiah dan IHSG masih berfluktuasi dalam kondisi tersebut. Karena itu, proyeksi pelemahan semestinya dibaca sebagai peringatan dini untuk menyiapkan antisipasi, bukan kepastian yang patut memicu kecemasan. Bagi masyarakat, pesannya sederhana: jangan membuat keputusan terburu-buru hanya karena perubahan kurs dari hari ke hari. Bagi pelaku usaha, ketidakpastian kurs perlu dikelola, bukan diteruskan menjadi tekanan baru melalui keputusan yang serentak dan panik.
Cadangan memberi ruang, bukan jaminan
Bamsoet menyebut cadangan devisa sebagai salah satu penyangga menghadapi tekanan. Pada akhir September 2026, cadangan tersebut tercatat cukup untuk membiayai 5,3 bulan impor, jauh di atas standar kecukupan internasional. Angka itu memberi alasan untuk tidak panik, tetapi bukan cek kosong untuk menunda pembenahan. Cadangan negara harus dikelola secara bijaksana; intervensi pasar dapat meredam gejolak berlebihan, namun daya tahan rupiah akan lebih sehat jika pasokan devisa juga menguat secara berkelanjutan. Di sinilah optimisme ekonomi perlu bersifat realistis: mengakui adanya bantalan, sekaligus menuntut kebijakan yang menjaga sumber devisa dan kepercayaan pasar. Menganggap cadangan sebagai solusi tunggal justru berisiko mengaburkan pekerjaan yang lebih mendasar.
Ekspor yang sehat, pengelolaan devisa hasil ekspor yang tertib, investasi yang berlanjut, dan kepastian kebijakan dapat menopang ketahanan lebih lama daripada intervensi sesaat. Bamsoet juga menilai instrumen moneter, termasuk suku bunga, intervensi terukur, dan penguatan pasar valas domestik, perlu berjalan selaras dengan koordinasi fiskal-moneter. Itu pendekatan yang lebih masuk akal daripada menjanjikan kurs selalu tenang. Stabilitas nilai rupiah bukan hasil satu keputusan, melainkan kepercayaan yang dibangun melalui kebijakan konsisten dan kemampuan ekonomi menghasilkan devisa.
Koordinasi harus terlihat dalam tindakan
Ajakan bersinergi akan berarti hanya jika diterjemahkan menjadi langkah yang bisa diuji. Bamsoet mendorong pemerintah, Bank Indonesia, OJK, dan pelaku usaha menyampaikan pesan kebijakan secara konsisten agar pasar tidak menerima sinyal yang saling bertentangan. Ia juga meminta pengelolaan devisa hasil ekspor dioptimalkan dan hilirisasi dipercepat, sehingga sumber dolar bertumpu pada produksi bernilai tambah di dalam negeri. Ini bukan pekerjaan yang selesai dalam semalam, tetapi menunjukkan arah yang lebih berkelanjutan daripada sekadar meredam gejolak sesaat.
Kebutuhan valuta asing korporasi besar, termasuk pembelian energi oleh Pertamina dan PLN, perlu direncanakan dan dijadwalkan agar tidak menekan pasar secara bersamaan. Pemerintah juga perlu menjaga iklim investasi dan kepastian hukum serta memperluas pembiayaan produktif dari dalam negeri. Sementara itu, dunia usaha dapat memperbanyak penggunaan bahan baku lokal, meningkatkan produktivitas, dan melakukan lindung nilai secara sehat. Langkah-langkah ini membagi tanggung jawab dengan lebih adil: stabilitas rupiah bukan hanya urusan bank sentral, tetapi juga terkait keputusan pemerintah, perusahaan, dan kepercayaan masyarakat.
Optimisme yang disertai kesiapan
Seruan Bamsoet agar publik tetap tenang layak didengar, terutama karena kepanikan dapat menambah beban bagi dunia usaha dan daya beli. Namun, ketenangan publik tidak boleh dijadikan pengganti transparansi atau evaluasi kebijakan. Pemerintah harus memberi informasi yang terbuka dan konsisten, sedangkan otoritas perlu menunjukkan koordinasi melalui langkah yang terukur. Dengan begitu, optimisme ekonomi tidak berhenti sebagai slogan, melainkan bertumpu pada cadangan yang dikelola hati-hati, pasokan devisa yang diperkuat, dan kepastian bagi pasar.
Kesimpulannya, tekanan nilai tukar patut dihadapi dengan kepala dingin, tetapi bukan dengan sikap pasif. Cadangan negara memberi ruang untuk bertindak; koordinasi dan penguatan sumber devisa menentukan apakah ruang itu digunakan dengan baik. Publik sebaiknya tidak bereaksi berlebihan terhadap gerak kurs harian, sementara pemerintah dan pelaku usaha harus menjalankan bagian mereka dengan disiplin. Optimisme paling berguna adalah optimisme yang disertai kesiapan.






