Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Rupiah Tertekan, Intervensi BI Jadi Penyangga Stabilitas

Rupiah Tertekan, Intervensi BI Jadi Penyangga Stabilitas
Minat|Asia Tenggara

Tekanan kurs datang dari dalam dan luar negeri

Stabilitas nilai tukar adalah upaya menjaga pergerakan mata uang agar berlangsung tertib dan tetap mencerminkan kondisi fundamental, bukan gejolak pasar sesaat. Dalam beberapa hari perdagangan terakhir, kurs rupiah berada di kisaran Rp18.180 per dolar AS, sementara Bank Indonesia menyatakan akan mengawal pergerakannya dengan ketat. Langkah ini penting, tetapi tekanan yang terjadi tidak bisa dipandang sebagai persoalan domestik semata. Eskalasi konflik di Timur Tengah mendorong harga minyak mentah naik dan memperkuat dolar AS secara global.

Di pasar keuangan, sentimen risk-off, kenaikan imbal hasil obligasi, dan ekspektasi suku bunga AS yang lebih tinggi menambah tekanan. Di dalam negeri, kebutuhan likuiditas valas korporasi menjelang akhir bulan ikut meningkat, bersamaan dengan kekhawatiran terkait wacana penurunan klasifikasi pasar saham oleh MSCI. Gabungan faktor tersebut menjelaskan mengapa rupiah melemah meski pergerakannya masih sejalan dengan mata uang kawasan.

Rupiah Tertekan, Intervensi BI Jadi Penyangga Stabilitas

Intervensi BI menyasar pasar valas dan obligasi

Respons BI tidak berhenti pada pernyataan bahwa bank sentral hadir di pasar. BI menyebut penggunaan transaksi non-deliverable forward (NDF), domestic non-deliverable forward (DNDF), dan transaksi spot untuk meredam tekanan pada nilai tukar. Kombinasi instrumen ini memberi BI beberapa jalur untuk merespons dinamika valas, alih-alih bertumpu pada satu jenis transaksi.

BI juga membeli Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder. Pembelian ini melengkapi intervensi valas dengan langkah di pasar obligasi. Dalam situasi ketika ketidakpastian global memicu arus keluar modal dari pasar berkembang, menjaga keteraturan pasar keuangan menjadi bagian dari upaya menahan gejolak kurs. Namun, ukuran keberhasilan bukan sekadar mengubah arah rupiah dalam waktu singkat: yang lebih penting adalah memastikan pergerakan tetap tertib dan tidak menyimpang jauh dari fundamental.

Tujuan utamanya: menjaga pergerakan tetap tertib

Erwin Gunawan Hutapea, Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, menyatakan rupiah melemah 1,15 persen secara bulanan, sementara cadangan devisa tercatat sebesar 146,3 miliar dolar AS pada akhir September 2026. Data tersebut memberi konteks: tekanan kurs nyata, tetapi BI menilai daya tahan eksternal masih terjaga.

Menurut Erwin, BI hadir untuk menjaga mekanisme pasar berjalan baik dan stabilitas nilai tukar tetap sesuai fundamentalnya. Karena itu, intervensi BI sebaiknya dipahami sebagai penyangga terhadap pergerakan yang terlalu tajam, bukan janji bahwa kurs akan bergerak satu arah atau segera pulih. Koordinasi dan komunikasi dengan korporasi, pelaku pasar, serta pihak terkait juga menjadi bagian dari respons BI.

Pada akhirnya, kombinasi intervensi NDF, DNDF, transaksi spot, dan beli SBN menunjukkan bahwa BI menggunakan lebih dari satu instrumen untuk menjaga stabilitas. Ketidakpastian global dan kebutuhan valas domestik tetap menjadi sumber tekanan; kewaspadaan terhadap keduanya sama pentingnya dengan tindakan bank sentral. Tujuan yang paling realistis adalah menjaga kurs rupiah tetap tertib dan sejalan dengan fundamental, bukan menghapus seluruh gejolak pasar.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!