Jangan hanya terpaku pada benjolan
Kanker payudara adalah penyakit ketika sel-sel pada jaringan payudara tumbuh tidak terkendali; perubahan yang mengarah padanya dapat muncul sebagai benjolan maupun kelainan lain yang perlu dinilai tenaga kesehatan. Karena benjolan paling sering dikaitkan dengan penyakit ini, tanda lain mudah luput atau dianggap sepele. Padahal, rasa tidak nyaman, penebalan kulit payudara, dan benjolan di area ketiak juga termasuk tanda kanker payudara yang patut diperiksa. Dokter spesialis bedah onkologi Denni Joko Purwanto menyebut tanda-tanda tersebut sebagai alasan untuk menjalani pemeriksaan bila ditemukan kelainan. Perubahan payudara abnormal tidak otomatis berarti kanker, tetapi mengabaikannya juga bukan pilihan yang bijak. Amati kondisi payudara secara berkala melalui SADARI agar perubahan lebih mudah disadari. Bila muncul kelainan baru, jangan menunggu sampai ada benjolan yang jelas atau rasa sakit berat sebelum meminta penilaian tenaga kesehatan.
Pemeriksaan rutin membantu mengambil langkah tepat
SADARI dan screening payudara rutin punya peran penting: membantu seseorang mengenali perubahan dan mencari pemeriksaan lebih awal, bukan memastikan diagnosis sendiri. Deteksi dini kanker dimulai dengan menanggapi temuan secara tepat. Namun, kekhawatiran tentang mammogram sebaiknya tidak dibangun dari anggapan bahwa paparannya besar. Mammogram memang memakai radiasi sinar-X untuk mengambil gambar jaringan payudara, tetapi dosis yang dilaporkan rendah. Mammogram 2D standar menggunakan sekitar 0,28 mSv, sedangkan mammogram 3D sekitar 0,34 mSv. Angka itu tidak menghapus perlunya mempertimbangkan pemeriksaan sesuai arahan tenaga kesehatan, tetapi memberi konteks saat menimbang kekhawatiran terhadap radiasi. Pemeriksaan mandiri juga bukan pengganti pemeriksaan profesional ketika muncul kelainan. Jadikan kebiasaan mengamati payudara sebagai cara mengenali perubahan, lalu bicarakan temuan yang mengkhawatirkan dengan tenaga kesehatan.
Benjolan perlu diperiksa, bukan langsung disimpulkan
Benjolan payudara bukan kanker dalam setiap kasus; sebagian benjolan bersifat jinak. Namun, meraba benjolan saja tidak cukup untuk memastikan penyebabnya. Denni Joko Purwanto mengingatkan agar benjolan dianggap perlu diwaspadai sampai pemeriksaan memastikan sifatnya, bukan langsung diasumsikan aman. Sikap ini bukan alasan untuk panik, melainkan dorongan agar diagnosis diserahkan kepada tenaga kesehatan. Pemeriksaan tidak harus dimulai di rumah sakit besar. Puskesmas atau klinik terdekat dapat menjadi pintu pertama untuk pemeriksaan payudara klinis atau SADANIS; bidan dan perawat yang telah mendapat pelatihan juga dapat melakukannya. Jika kelainan membutuhkan pemeriksaan lanjutan, pasien dapat dirujuk. Mengenali kondisi payudara sendiri membantu membedakan perubahan yang patut diperhatikan dari keadaan yang sudah dikenal, tetapi jangan mencoba menetapkan diagnosis sendiri. Bila menemukan benjolan, rasa tidak nyaman, penebalan kulit, atau benjolan di ketiak, mintalah penilaian profesional sedini mungkin.






