Fashion Nation: Lebih dari Sekadar Fashion Event Jakarta
Fashion Nation adalah sebuah fashion event Jakarta yang tumbuh menjadi ruang perayaan mode, seni, dan identitas, di mana panggung peragaan, pameran desainer lokal showcase, serta hiburan lintas disiplin bertemu untuk menggambarkan perjalanan kreatif sebuah kota dan pusat gaya selama dua dekade penuh refleksi dan eksperimen estetika.
Dalam edisi ke-20 bertema “The Icon Edit”, Fashion Nation anniversary jelas diposisikan Senayan City sebagai momen pernyataan jati diri, bukan sekadar pesta tahunan. Digelar sejak 2007 di sebuah pusat belanja di kawasan Senayan, Jakarta Pusat, program ini pelan-pelan menjelma menjadi arsip hidup yang menunjukkan bagaimana mode bergerak, berevolusi, dan menemukan bentuk baru sepanjang waktu. Yang menarik, perayaan Senayan City 20 tahun menolak bersikap netral; acara ini seolah berkata bahwa pusat belanja bukan cuma tempat transaksi, tetapi panggung budaya yang punya suara dan sikap. Di tengah sorotan publik terhadap insiden kekerasan yang menimpa salah satu pengunjung, keputusan untuk tetap menggelar pembukaan besar-besaran adalah sikap: mode, keamanan, dan etika publik kini tidak bisa lagi dipisah.
Kick-Off Futuristik: Toton, Mel Ahyar, dan Senayan City 20 Tahun
Pembukaan Fashion Nation 2026 memperlihatkan bagaimana Senayan City memilih untuk menjawab dua dekade eksistensi dengan mengedepankan desainer sebagai narator utama. Atrium mal disulap menjadi semacam amphitheater bernuansa futuristik, mempertegas ambisi menjadikan ruang komersial sebagai ruang apresiasi budaya. Agenda utama malam itu jelas: menghadirkan koleksi Toton dan Mel Ahyar Archipelago sebagai dua suara kuat yang menandai tonggak Fashion Nation anniversary.
Sebelum busana melenggang, penonton dipanaskan oleh penampilan Anggun C. Sasmi yang menyanyikan lagu “Mimpi”, mengingatkan bahwa fashion event Jakarta terbaik selalu paham cara merajut mode dengan hiburan lintas generasi. Toton membuka rangkaian dengan koleksi “Tempaan Kala”, kelanjutan dari “Kala”, yang menggabungkan batik yang dikerjakan dengan tangan dan teknik draperi yang meminimalkan pemotongan kain sebagai bentuk penghormatan terhadap proses dan tradisi. Detail material yang menyerupai pecahan keramik usang dan aksesori bunga karya Jeumpa menguatkan narasi artisanal yang tak kompromis. Menempatkan koleksi ini di panggung utama bukan keputusan estetis semata, melainkan pernyataan bahwa penghargaan pada proses adalah nilai yang ingin dibawa Senayan City ke babak baru sejarahnya.
Mel Ahyar dan Poetikanya: Ketika Nias Mengisi Catwalk
Jika Toton berbicara lewat batik dan draperi, Mel Ahyar Archipelago memilih jalur yang lebih naratif dengan “Tano Niha”, persembahan yang meminjam kisah hidup masyarakat Nias sebagai sumber inspirasi utama. Alih-alih hanya menempelkan motif tradisional, Mel mengolah ulang cerita yang biasanya hadir dalam pahatan kayu dan batu ke dalam medium kain melalui bordir, menjadikan busana sebagai kanvas baru untuk ingatan kolektif.
Detail 3D, penggunaan biji Taigue/Hanjeli sebagai beads, hingga siluet angular yang terinspirasi dari zirah kayu pohon oholu memperlihatkan keberanian menggabungkan elemen tradisi dengan garis geometris kontemporer. Palet hitam-keabuan diseimbangkan dengan aksen feminin pada bodice, sementara sarung printed organdi berbordir dan sunburst pleats see-through dress menambah lapisan eksotika yang tidak klise. Atmosfer Pulau Nias diperkuat oleh musik tradisional dan tari Faluaya Hombo Batu, menjadikan runway sebagai ritual budaya, bukan sekadar catwalk. Puncak gagasan Mel hadir lewat gaun putih berselaput kertas bordir water soluble; ia terang-terangan mengajak penonton untuk menghargai proses yang tak terlihat dalam setiap karya, sebuah pesan yang terasa relevan di tengah budaya konsumsi instan.
GAYA dan Ekosistem: Desainer Lokal Showcase sebagai Tulang Punggung
Keunggulan Fashion Nation anniversary bukan hanya pada panggung besar, tetapi pada keberanian merayakan ekosistem kreatif secara utuh. Sebagai bagian dari Fashion Nation 20th Edition: The Icon Edit, Senayan City kembali bekerja sama dengan Indonesian Fashion Designers Council (IFDC) melalui exhibition bertajuk GAYA. Pameran ini membuka ruang eksplorasi fashion, identitas, dan ekspresi kreatif khas negeri ini, menegaskan bahwa mode dapat menjadi medium berkreasi, berkolaborasi, dan memberi kontribusi bagi banyak pihak.
Sebanyak 22 perancang IFDC—mulai dari Sebastian Gunawan, Rinaldy A Yunardi, Denny Wirawan, Mel Ahyar, Ivan Gunawan, Rama Dauhan, Wilsen Willim, Eddy Betty, Didi Budiardjo, Hian Tjen, hingga Yosafat Dwi Kurniawan—memasarkan karya mereka di Main Atrium Senayan City pada 18–26 September 2026. Menurut Halina, Leasing & Marketing Communications Director Senayan City, kolaborasi dengan IFDC mencerminkan luasnya ekosistem fashion yang mencakup desainer, fashion labels, media, lembaga mode, dan komunitas kreatif. Di sini, desainer lokal showcase bukan dekorasi pelengkap; mereka adalah tulang punggung narasi dua dekade Senayan City 20 tahun. Keputusan menaruh karya mereka di ruang pusat atrium adalah bentuk pengakuan bahwa wajah mall ditentukan oleh para kreator yang mengisinya, bukan hanya oleh merek yang menyewa ruang.
Mode, Seni, dan Insiden: Menghadapi Dua Dekade dengan Jujur
Rangkaian Fashion Nation 2026 digelar hingga 26 September, diisi peragaan busana dari desainer ternama seperti Friederich Herman, Peggy Hartanto, Sean Sheila, dan anggota Ikatan Perancang Mode Indonesia (IPMI), serta kolaborasi Cita Tenun Indonesia dengan tiga label lokal. GAYA, pameran yang mengeksplorasi fashion, identitas, dan ekspresi kreatif, ikut meramaikan suasana dan memperkuat rasa bahwa Senayan City 20 tahun ingin dikenang bukan hanya sebagai pusat belanja, tetapi sebagai simpul budaya yang aktif.
Namun pesta ini tidak berlangsung dalam ruang hampa. Senayan City sedang ramai diperbincangkan karena insiden kekerasan yang menimpa salah satu pengunjung dan menjadi viral. Fakta bahwa pembukaan tetap berlangsung meriah memperlihatkan paradoks: di satu sisi, ada komitmen untuk menjaga ekosistem kreatif tetap hidup; di sisi lain, ada pekerjaan rumah besar terkait rasa aman dan etika ruang publik. Mau tak mau, fashion event Jakarta seperti ini memaksa kita melihat bahwa mode dan seni tidak bisa menghindar dari isu sosial yang mengelilinginya. Di titik ini, Fashion Nation anniversary menjadi lebih dari perayaan; ia adalah cermin. Pertanyaannya, apakah dua dekade ke depan akan digunakan Senayan City untuk merapikan refleksi itu—menguatkan kolaborasi kreatif sambil sungguh-sungguh menjamin keamanan dan kenyamanan pengunjung—atau dibiarkan hanya menjadi catatan visual indah tanpa perbaikan nyata.






