Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Saat Anak Terpesona Tren Tubuh Ideal di Media Sosial

Saat Anak Terpesona Tren Tubuh Ideal di Media Sosial
Minat|Pengetahuan Parenting

Mengapa Tren Tubuh Ideal di Media Sosial Bukan Sekadar Fase

Tren tubuh ideal di media sosial adalah arus konten yang menonjolkan bentuk tubuh tertentu sebagai standar, sering kali sangat kurus, sangat terlatih, atau sangat ‘perfect’, yang kemudian membuat anak dan remaja membandingkan diri, mengukur harga diri dari penampilan, dan mengabaikan keberagaman tubuh yang sehat, sekaligus memengaruhi kebiasaan makan, olahraga, dan cara mereka memandang nilai dirinya sejak usia praremaja. Konten tentang bentuk tubuh, makanan, dan olahraga kini sangat mudah diakses anak lewat media sosial, termasuk SkinnyTok yang menekankan tubuh sangat kurus, budaya diet, dan standar yang tidak realistis. Psikiater Brian Zachariah, MD menegaskan, ketika tubuh kurus dijadikan ukuran keberhasilan atau nilai diri, kesehatan fisik dan mental anak ikut terancam. Ini bukan soal tren lewat, melainkan lingkungan yang membentuk citra tubuh anak dari hari ke hari.

Saat Anak Terpesona Tren Tubuh Ideal di Media Sosial

Mengenali Saat Anak Mulai Terjebak Perbandingan Tubuh

Begitu memasuki usia 8–10 tahun, banyak anak mulai sadar akan tubuhnya dan membandingkan diri dengan teman: tinggi badan, berat, warna kulit, hingga gaya berpakaian. Perbandingan ini normal sebagai bagian perkembangan sosial, tetapi bisa berbelok menjadi masalah saat citra tubuh anak dipenuhi rasa "kurang". Psikolog anak Janet Boseovski, PhD, dan Ashleigh Gallagher, PhD menekankan peran orang tua dalam membangun persepsi tubuh yang sehat pada anak. Orang tua perlu waspada ketika pembicaraan tentang tubuh makin sering dan mulai mengubah perilaku, misalnya anak terus menyebut diri gemuk atau jelek, takut makan, sengaja melewatkan waktu makan, menghindari makanan karena takut gemuk, berolahraga berlebihan demi mengubah bentuk tubuh, sering bercermin, menolak difoto, atau menarik diri dari kegiatan sosial karena malu dengan tubuhnya. Di titik ini, media sosial pengaruh anak tidak lagi ringan; ia menyerang kepercayaan diri anak pada level yang sangat pribadi.

Saat Anak Terpesona Tren Tubuh Ideal di Media Sosial

Berhenti dari Sanggahan Kosong, Mulai dari Mendengar

Respons spontan orang tua ketika mendengar anak berkata "Aku gendut" sering berupa sanggahan atau pujian kosong: "Kamu nggak gemuk, kok" atau "Kamu tuh cantik". Sayangnya, kalimat ini menutup percakapan, bukan menyembuhkan. Anak mungkin sedang berkata, "Aku takut teman-teman tidak menyukaiku" atau "Aku merasa berbeda". Psikolog Heather Rosen, PhD, mengingatkan bahwa melarang atau membatasi konten saja tidak cukup; orang tua perlu dulu memahami tren apa yang anak lihat, siapa yang ia ikuti, dan mengapa konten itu menarik baginya. Strategi yang lebih bijak adalah memvalidasi dan mengajak bercerita: "Kamu kepikiran soal badanmu, ya? Cerita sama Mama, kenapa kamu merasa begitu?". Dari sana, orang tua bisa perlahan membangun pemahaman bahwa setiap orang punya tubuh berbeda dan tidak ada satu standar penampilan yang menentukan nilai seseorang. Inilah fondasi kepercayaan diri anak yang tidak rapuh oleh komentar teman atau trend sesaat.

Saat Anak Terpesona Tren Tubuh Ideal di Media Sosial

Menanamkan Keberagaman Tubuh dan Self-care Sebagai Self-love

Saat anak mengkritik bentuk atau warna tubuhnya, orang tua perlu menahan diri dari keinginan memperbaiki perasaan dengan pujian berlebihan, sekaligus menghindari komentar tentang orang lain yang menguatkan stereotip tubuh "bagus" dan "jelek". Anak belajar memandang tubuh melalui kata-kata orang terdekat; jika terus mendengar bahwa tubuh gemuk memalukan atau kulit gelap kekurangan, ia akan menganggap karakteristik fisiknya sebagai hal yang harus diperbaiki. Di sisi lain, orang tua juga ingin anak terbiasa merawat diri: mandi bersih, memilih pakaian nyaman, merawat kulit dan rambut. Kuncinya adalah mengaitkan self-care anak dengan self-love, bukan tuntutan tampil sempurna. Jelaskan bahwa mandi, makanan bergizi, tidur cukup, dan olahraga adalah cara menjaga kesehatan dan kenyamanan tubuh, bukan proyek mengubah bentuk tubuh atau mengejar standar ideal di media sosial. Psikolog Lisa Damour mengingatkan, nilai diri anak perlu dibangun melampaui penampilan fisik; tujuan kita bukan membuat anak selalu puas dengan look-nya, tetapi membuat mereka bisa merawat tubuh tanpa menjadikan penampilan sebagai ukuran harga diri.

Saat Anak Terpesona Tren Tubuh Ideal di Media Sosial

Peran Orang Tua: Menjadi Filter, Bukan Tembok Penghalang

Menghadapi SkinnyTok dan tren tubuh ideal lain, sikap "pokoknya dilarang" terasa menggoda. Namun media sosial pengaruh anak terlalu besar untuk dilawan hanya dengan larangan. Psikiater Brian Zachariah, MD menegaskan risiko ketika konten kurus-diet dijadikan ukuran nilai diri, sementara psikolog Leslie Heinberg, PhD menunjukkan bagaimana media sosial memperkuat tekanan penampilan karena anak terus terpapar pesan soal bagaimana seharusnya terlihat. Orang tua perlu menjadi filter: tahu apa yang anak tonton, mengajak mereka berpikir kritis tentang pesan yang diterima, dan menghadirkan narasi tandingan tentang keberagaman tubuh dan kesehatan. Rasa percaya diri anak lahir dari pengalaman didengar dan dihargai, bukan dari disuruh "percaya diri" begitu saja. Jika percakapan tubuh di rumah penuh empati dan respect, algoritma media sosial tidak lagi menentukan citra tubuh anak sendirian. Kita tidak bisa menghapus SkinnyTok, tetapi bisa memastikan anak tidak menjadikan tren itu hakim atas tubuh dan harga dirinya.

Saat Anak Terpesona Tren Tubuh Ideal di Media Sosial

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!