Sharenting dan Monetisasi: Dokumentasi Keluarga yang Berbelok Jadi Etalase Digital
Sharenting adalah praktik orang tua membagikan secara rutin dan berlebihan foto, video, serta cerita tentang tumbuh kembang anak di media sosial, yang menjadikan kehidupan pribadi anak sebagai konten publik dan, dalam banyak kasus, sebagai komoditas ekonomi yang meninggalkan jejak digital permanen yang tidak sepenuhnya bisa dikendalikan oleh sang anak. Tren ini tumbuh dari dorongan mengabadikan momen manis dan kebanggaan atas prestasi, lalu diperkuat oleh pujian, likes, dan followers yang membuat orang tua merasa perlu terus memposting perkembangan anak. Di titik ketika konten-konten tersebut mulai dimonetisasi—dari kerja sama produk sampai iklan terselubung—monetisasi konten anak bukan lagi sekadar dokumentasi, melainkan etalase digital masa kecil yang dapat memindahkan fokus dari kebutuhan anak ke kebutuhan algoritma dan keuntungan orang dewasa.

Penelitian Mahasiswa UGM: Eksploitasi Data Anak yang Tak Kasat Mata
Lima mahasiswa UGM dalam Tim Teman Tumbuh menyoroti sisi gelap monetisasi konten anak melalui riset “Masa Kecil dalam Etalase Digital: Eksploitasi Digital melalui Praktik Monetisasi Konten Anak di Era Sharenting”. Mereka menemukan bahwa anak dalam konten parenting komersial tidak sekadar figuran keluarga: anak muncul sebagai konsumen yang berinteraksi langsung dengan produk, sebagai aktor yang mengikuti skenario tertentu, dan sebagai pemberi testimoni untuk mendukung promosi. Lebih mengkhawatirkan lagi, eksploitasi tidak selalu hadir dalam bentuk kasar. Situasi eksploitasi data anak muncul ketika wajah, nama, kebiasaan, aktivitas, hingga lokasi pribadi anak terus dibagikan ke ruang publik, membentuk jejak digital permanen yang sulit ditarik kembali. Masalah utama: anak sebagai subjek konten belum memahami konsekuensi jangka panjang informasi yang diunggah atas nama “kebaikan” dan “kebersamaan keluarga”.

Sharenting Risiko Anak: Dari Kepercayaan Diri Sampai Privasi Digital
Sharenting risiko anak bukan hanya soal malu melihat foto lucu masa kecil; dampaknya bisa jauh lebih dalam. Mengunggah konten anak secara berlebihan dapat mengganggu kepercayaan diri mereka, karena anak tumbuh dengan kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain berbasis cuplikan hidup di media sosial. Banyak remaja kemudian merasa minder ketika melihat kembali isi unggahan yang dulu dikendalikan penuh oleh orang tua, sebab apa yang dianggap menarik bagi orang dewasa bisa bertentangan dengan harapan dan identitas mereka sendiri. Di sisi lain, eksploitasi data anak di media sosial membuat privasi anak digital rapuh: foto, video, lokasi, kebiasaan, hingga aktivitas sehari-hari yang tampak biasa hari ini akan menempel sebagai jejak digital bertahun-tahun kemudian. Ketika konten tidak lagi sebatas dokumentasi, tetapi dimonetisasi, kehidupan anak bergeser menjadi bagian dari produk konten, membuat batas antara ruang privat dan ruang komersial semakin kabur.
Mengapa Orang Tua Terbawa Arus, dan Mengapa Alasan Sayang Tak Lagi Cukup
Popularitas sharenting lahir dari niat yang tampak mulia: orang tua ingin mengabadikan momen penuh kenangan dan menunjukkan pencapaian serta bakat anak. Melihat orang tua lain melakukan hal sama, plus arus komentar positif dan engagement tinggi, dorongan untuk terus memposting makin kuat. Namun ketika harapan berubah menjadi target, anak mulai dituntut mengikuti tren viral, melakukan gerakan tertentu, atau berani tampil di depan kamera demi menghidupkan akun keluarga. Anak yang cenderung pendiam bisa dipaksa menunjukkan diri sehingga merasa tidak nyaman dan insecure. Di level regulasi, memang sudah ada aturan perlindungan data pribadi dan tata kelola sistem elektronik terkait perlindungan anak, tetapi masih ada celah ketika yang mempublikasikan dan memonetisasi adalah orang tua sendiri. Orang tua memegang kendali penuh atas identitas, data, dan kehidupan sehari-hari anak yang dijadikan konten, sehingga alasan “sayang” tidak bisa lagi menjadi pembenaran tanpa refleksi kritis.

Strategi Melindungi Privasi Anak Digital Tanpa Putus dari Media Sosial
Jika orang tua ingin tetap terhubung dengan media sosial, pertanyaannya bukan “posting atau tidak”, melainkan “apa dan sejauh mana”. Tim Teman Tumbuh mendorong peningkatan literasi digital bagi orang tua agar mampu membedakan informasi yang layak berada di ruang publik dengan kehidupan pribadi anak yang harus terlindungi. Sebagai langkah praktis, orang tua sebaiknya tidak membagikan detail sensitif seperti nama sekolah, alamat, dan lokasi tempat tinggal anak. Ajarkan anak mengatur akun secara private atau terbatas pada lingkaran kenalan, sehingga mereka belajar memegang kendali atas identitas digitalnya sendiri. Saat anak beranjak remaja dan mulai mandiri, media sosial bisa diarahkan menjadi tempat karya dan portofolio—bukan etalase kehidupan pribadi—dengan catatan semua konten dibuat atas keinginan anak, bukan paksaan. Orang tua juga perlu berhenti memaksa anak membuat konten demi menghindari akun yang “sepi” engagement dan mulai mempertimbangkan dampak jangka panjang sebelum mempublikasikan informasi pribadi.






