Becak listrik: dari bantuan sosial menjadi infrastruktur mobilitas baru
Becak listrik adalah becak tradisional yang digerakkan motor listrik dan baterai, dirancang untuk mengurangi beban fisik pengayuh sekaligus menghadirkan transportasi lokal terjangkau bagi warga dan wisatawan di kawasan perkotaan dan destinasi wisata. Program becak listrik gratis untuk pengemudi bukan sekadar bantuan alat kerja, tetapi awal lahirnya infrastruktur mobilitas baru yang menggabungkan teknologi, budaya lokal, dan ekonomi kerakyatan. Ratusan unit telah digelontorkan sebagai bantuan Presiden Prabowo Subianto melalui yayasan, menjangkau kota-kota seperti Madiun, Palabuhanratu Sukabumi, dan Cimahi. Di lapangan, becak listrik murah ini berpotensi mengubah cara warga bergerak untuk perjalanan jarak pendek, sekaligus menjaga agar para pembecak lansia tidak tersisih oleh moda transportasi yang lebih modern.

Madiun, Sukabumi, Cimahi: tiga laboratorium awal wisata becak listrik
Madiun mungkin menjadi contoh paling jelas bagaimana becak listrik disiapkan sebagai tulang punggung wisata lokal. Di Kota Pendekar, 200 pembecak menerima becak listrik bantuan Presiden Prabowo, masing-masing bernilai Rp 22 juta. Plt Wali Kota menegaskan becak listrik akan disinergikan dengan konsep wisata kelurahan, termasuk rute religi di Taman dan Kuncen, lengkap dengan pangkalan dan stasiun pengisian listrik yang tengah disiapkan. Targetnya, uji coba sudah berjalan sebelum bulan puasa agar siap menyambut lonjakan wisatawan saat libur lebaran. Di Palabuhanratu, 100 unit becak listrik mulai dijajal di kawasan wisata pantai dan kota, dengan prioritas penerima adalah penarik becak lansia. Cimahi menyusul dengan 100 unit dan pelatihan intensif sepekan bagi pengayuh sebelum operasional penuh di jalanan kota.
Transportasi lokal terjangkau: ketika listrik menekan biaya, tarif bisa tetap murah
Kekuatan utama becak listrik murah ada pada biaya operasionalnya. Satu kali pengisian daya disebut hanya sekitar Rp 4.000 dan bisa dipakai dua hingga tiga hari, tergantung pemakaian. Biaya ini jauh lebih ringan dibanding ongkos sewa becak konvensional yang sebagian pengayuh harus keluarkan per hari. Kutipan yang layak dicatat: “Satu kali nge-charge itu 4.000 perak, 4.000 itu bisa untuk 2–3 hari,” ujar Nanik S. Deyang, Wakil Ketua yayasan penyalur program becak listrik. Dengan struktur biaya seperti ini, pengemudi punya ruang untuk mempertahankan tarif transportasi lokal terjangkau tanpa mengorbankan pendapatan. Pemerintah daerah melihat becak listrik sebagai solusi perjalanan jarak pendek di permukiman, menuju pasar, rumah sakit, dan titik aktivitas warga lainnya. Di sinilah teknologi listrik menjadi alat konkret untuk menahan inflasi biaya mobilitas harian.
Ekonomi kerakyatan: becak listrik sebagai ‘ojek’ yang tetap manusiawi
Program ini lahir dari kepedulian terhadap penarik becak yang mayoritas sudah lanjut usia dan masih mengandalkan tenaga fisik untuk mencari nafkah. Alih-alih menghapus profesi pembecak, becak listrik meng-upgrade mereka menjadi semacam ojek ekonomi kerakyatan: jasa angkutan jarak dekat yang tetap berbasis interaksi manusia, tetapi ditopang teknologi. Secara nasional, hampir 15.000 unit sudah disalurkan dan sekitar 60.000 unit lain sedang dalam proses penyediaan setelah dipesan Presiden Prabowo. Di Cimahi, kendaraan ini diharapkan membantu pengayuh mempertahankan mata pencaharian tanpa lagi harus menguras tenaga seperti saat mengayuh becak konvensional. Becak listrik juga diarahkan melayani perjalanan jarak pendek di permukiman dan area yang sulit dijangkau moda besar. Artinya, program ini memperkuat ekonomi mikro di tingkat kampung, bukan menggantikannya dengan sistem transportasi yang serba aplikasi dan modal besar.
Dari uji coba ke sistem: apa yang harus dijaga agar manfaatnya berkelanjutan
Meski potensinya besar, keberhasilan program becak listrik tidak otomatis. Di Madiun, pemerintah kota masih menyiapkan pangkalan dan stasiun pengisian listrik agar wisata becak listrik bisa berjalan optimal. Di Cimahi, para pengayuh sudah dilatih sepekan, tetapi tantangan berikutnya adalah pemahaman pengisian daya, perawatan baterai, dan penanganan gangguan teknis. Tanpa ekosistem bengkel dan suku cadang, becak listrik berisiko mangkrak. Di Sukabumi, rencana penambahan 200 unit di atas 100 unit tahap awal menunjukkan antusiasme tinggi, namun distribusi tetap bergantung kapasitas produksi dan antrean daerah lain yang juga menunggu giliran. Program ini akan layak dipertahankan bila dua hal terjaga: tarif tetap murah bagi penumpang berkat biaya listrik yang rendah, dan pendapatan pengemudi naik karena beban fisik berkurang serta permintaan wisata becak listrik terus tumbuh.






