Becak Listrik Bantuan Presiden: Dari Alun-Alun ke Agenda Transformasi
Program becak listrik bantuan adalah inisiatif pemerintah yang memberikan becak bertenaga listrik kepada pengayuh, terutama lansia dan mantan pengemudi becak manual, agar mereka memiliki kendaraan sendiri yang lebih ringan dioperasikan, mengurangi ketergantungan pada sewa, sekaligus mendorong modernisasi becak tradisional sebagai moda transportasi ramah lingkungan di kawasan yang belum terlayani angkutan berbasis aplikasi digital. Di Kabupaten Bogor, 130 unit becak listrik bantuan Presiden Prabowo Subianto disalurkan melalui seremoni di Alun-alun Kabupaten Bogor, dipimpin Bupati Rudy Susmanto pada 17 Oktober 2026. Di Kabupaten Serang, pemerintah daerah menerima 190 unit yang dikumpulkan di Pendopo Bupati sebagai bagian dari program presiden transportasi yang menyasar pengemudi becak lansia dan mantan pengayuh manual. Total lebih dari 320 unit mengaspal di dua kabupaten ini, menandai babak baru transportasi tradisional.
Kesejahteraan Pengayuh Lansia: Dari Becak Sewa ke Aset Produktif
Inti program presiden transportasi ini bukan sekadar mengganti kayuhan dengan listrik, tetapi mengubah posisi pengayuh dari penyewa menjadi pemilik. Wakil Ketua Yayasan Gerakan Solidaritas Nasional, Nanik S. Deyang, menegaskan bahwa becak listrik bantuan dirancang agar pengayuh memiliki kendaraan sendiri sehingga bisa bekerja lebih produktif dan nyaman. Kutipan yang paling menggambarkan orientasi sosial program ini adalah pernyataannya bahwa bantuan tersebut diharapkan menjadi aset, memutus ketergantungan pada becak sewaan dan membuka peluang lebih baik untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Bupati Bogor pun membaca ini sebagai strategi nyata meningkatkan kesejahteraan pengayuh, menyebut becak listrik sebagai cara meringankan beban kerja sekaligus menaikkan taraf hidup pekerja sektor informal di wilayahnya.
Modernisasi Becak Tradisional: Listrik, Lansia, dan Ruang yang Tak Tersentuh Aplikasi
Modernisasi becak tradisional dalam program ini tampak paling jelas di Kabupaten Serang. Sekda Zaldi Dhuhana menjelaskan, target utama penerima adalah pengemudi becak berusia 55 tahun ke atas, mantan pengemudi becak manual, serta penyandang disabilitas karena becak listrik tidak memerlukan tenaga kayuh besar. Artinya, teknologi diarahkan ke kelompok yang selama ini paling rentan tersisih oleh perubahan. Lebih jauh, becak listrik bantuan diposisikan sebagai angkutan non-BBM di wilayah yang belum terjangkau ojek online, seperti Cinangka dan Anyer, termasuk untuk melayani kawasan wisata dan pasar tradisional. Di sini terlihat logika modernisasi: bukan menghapus becak, melainkan meng-upgrade-nya agar tetap relevan di ekosistem mobilitas yang makin digital dan berbasis aplikasi, tanpa memaksa pengayuh lansia mengejar ritme teknologi yang terlalu cepat.
Skala Program dan Tantangan Ke Depan: Dari 14.000 Unit ke Ekosistem Baru
Program becak listrik bantuan ini bukan eksperimen kecil. Sejak bergulir pada 2023, sekitar 14.000 unit telah didistribusikan ke berbagai wilayah dan jangkauannya disebut akan terus diperluas. Di Serang saja, dari pengajuan 208 unit, 190 disetujui dan menunggu penyerahan simbolis dari yayasan ke pemerintah daerah sebelum dibagikan ke masyarakat. Namun skala besar menuntut kedisiplinan: penerima diminta menjaga kendaraan dan tidak memindahtangankan agar becak listrik tetap menjadi penopang mata pencaharian jangka panjang. Tantangan berikutnya adalah membangun ekosistem pendukung—mulai dari titik pengisian daya hingga tata kelola operasional keluarga ketika pengayuh lansia sudah tak mampu mengemudi, skema yang sudah diantisipasi di Serang dengan membuka peluang pengoperasian oleh anggota keluarga.
Kesimpulan: Saat Negara Turun ke Jalan-Jalan Sempit
Penyaluran lebih dari 320 becak listrik di Bogor dan Kabupaten Serang menunjukkan bahwa negara mulai serius menyentuh sektor yang kerap terlupakan: pengayuh becak lansia di gang-gang sempit dan pasar tradisional. Program presiden transportasi ini menggabungkan modernisasi becak tradisional dengan agenda kesejahteraan pengayuh, bukan menggantikan mereka dengan moda yang lebih baru. Apresiasi para pemimpin daerah memperlihatkan bahwa kebijakan ini dibaca sebagai langkah konkret, bukan sekadar simbolik. Ke depan, keberhasilan program akan ditentukan bukan hanya oleh jumlah unit yang dibagikan, tetapi oleh seberapa jauh becak listrik bantuan mampu bertahan sebagai aset produktif, mengurangi kelelahan fisik, dan menjaga becak tetap hidup di tengah arus digitalisasi transportasi yang kian deras.






