Festival Ekonomi Syariah: Dari Panggung Nasional ke Gerbang Ekspor
UMKM syariah ekspor adalah pelaku usaha kecil dan menengah berbasis prinsip syariah yang memproduksi dan memasarkan produk halal—mulai dari makanan, fesyen muslim, hingga usaha pesantren—dengan tujuan menembus pasar lintas daerah dan lintas negara melalui penguatan rantai nilai halal, pembiayaan syariah, serta jejaring distribusi yang terintegrasi dengan ekosistem ekonomi syariah Indonesia dan platform festival berskala nasional seperti ISEF yang menghubungkan mereka dengan mitra bisnis, investor, dan konsumen global.
Inti cerita ISEF 2026 bukan sekadar keramaian pameran, melainkan loncatan kelas bagi UMKM syariah yang selama ini terjebak di pasar lokal. Ketika Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kediri, Riau, dan Babel membawa UMKM binaan serta unit usaha pesantren ke Jakarta International Convention Center, mereka sedang menguji apakah narasi ekonomi syariah bisa diterjemahkan menjadi transaksi dan kontrak ekspor nyata. Dengan tema akselerasi pertumbuhan melalui sinergi dan transformasi digital, festival ini secara terang memposisikan diri sebagai mesin penghubung antara produk halal daerah dan pasar nasional maupun global. Jika momentum ini dilewatkan, UMKM syariah akan kembali menjadi penonton dalam rantai nilai halal yang kian kompetitif.
Transaksi Miliaran dan Sinyal Serius Pasar Halal
Angka transaksi di ISEF 2026 adalah bukti bahwa ekonomi syariah bukan konsep abstrak. Secara nasional, penjualan produk makanan halal dan fesyen mencapai Rp13,85 miliar, business matching pembiayaan dan perdagangan syariah Rp3,16 triliun, dan komitmen kerja sama pasar uang serta valuta asing syariah Rp6,05 triliun. Di level daerah, UMKM binaan Bank Indonesia di Babel mencatat transaksi lebih dari Rp130 juta, sekaligus menghimpun wakaf digital lebih dari Rp58 juta sebagai bagian dari inovasi keuangan sosial syariah. Di Mataraman, potensi transaksi business matching yang dijajaki mencapai sekitar Rp2,5 miliar, menandakan minat pembeli terhadap produk kopi, gula aren, pangan olahan, dan wastra yang dibawa ke festival.
Angka-angka ini tidak boleh dibaca sekadar sebagai capaian event tahunan. Mereka adalah sinyal bahwa pasar bersedia membayar untuk produk halal global yang terkurasi, bersertifikat, dan punya cerita kuat tentang asal-usulnya. Deputi Gubernur Bank Indonesia menegaskan bahwa keberhasilan ekonomi syariah harus tercermin dari manfaat nyata bagi perekonomian dan kesejahteraan masyarakat, bukan hanya dari jargon kebijakan. Artinya, transaksi di festival harus berlanjut menjadi kontrak berulang, perluasan kapasitas produksi, dan peningkatan kualitas hidup pelaku UMKM. Tanpa tindak lanjut, miliaran rupiah itu akan menguap sebagai statistik tahunan yang tidak mengubah struktur ekonomi di daerah.

Mataraman dan Riau: Menguatkan Rantai Nilai Halal dari Hulu ke Hilir
Wilayah Mataraman dan Riau menunjukkan bahwa rantai nilai halal yang kuat tidak lahir dari pameran satu kali, melainkan dari pendampingan sistematis. Di Mataraman, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kediri memfasilitasi lebih dari 90 UMKM dan unit usaha pesantren melalui rangkaian SYIAR sebagai Road to ISEF, mulai dari sertifikasi halal, peningkatan kualitas dan kemasan produk, penguatan kemandirian ekonomi pesantren, digitalisasi pembayaran melalui QRIS, hingga akses pembiayaan syariah. Produk unggulan seperti kopi, gula aren, pangan olahan, dan wastra dibawa ke ISEF bukan sebagai barang mentah, tetapi sebagai bagian dari rantai nilai halal yang sudah dibenahi dari hulu ke hilir.
Di Riau, pendekatan serupa tampak ketika 9 UMKM binaan dan mitra unggulan, dua pondok pesantren, serta perwakilan komite daerah ekonomi dan keuangan syariah dibawa ke ISEF untuk memperluas akses pasar produk halal dan fesyen muslim. Kepala perwakilan Bank Indonesia Riau menegaskan bahwa partisipasi ini adalah bagian dari upaya memperkuat rantai nilai halal, meningkatkan daya saing UMKM, dan mendorong kemandirian ekonomi pesantren. Fesyen muslim berbahan tenun khas daerah yang ditampilkan dalam festival modest fashion menunjukkan bagaimana wastra tradisional bisa naik kelas menjadi produk halal global yang mengikuti tren desain, tanpa kehilangan identitas lokal. Jika model Mataraman dan Riau diulang di wilayah lain, rantai nilai halal nasional akan jauh lebih kokoh daripada sekadar mengandalkan impor.

Babel: Bukti Nyata UMKM Syariah Ekspor Bukan Lagi Wacana
Bangka Belitung memberi contoh paling konkret bahwa UMKM syariah ekspor bukan lagi slogan. Kantor perwakilan Bank Indonesia di provinsi ini menghadirkan Cokelat CandU, Morenji, Billiton Spice, Sepiak Belitong, dan sejumlah pelaku halal mart ke ISEF, dengan transaksi UMKM lebih dari Rp130 juta. Lebih penting lagi, partisipasi mereka membuka peluang pasar internasional melalui business matching Business-to-Business antara Billiton Spice dengan calon pembeli dari Singapura dan Pakistan, sebagai langkah awal perluasan akses ekspor produk unggulan daerah. Sepiak Belitong yang tampil dalam fashion show dan bazar modest fashion berhasil menjalin peluang kerja sama dengan calon pembeli asal Australia, memperluas jejaring pemasaran dan potensi ekspor produk fesyen khas daerah ke pasar internasional.
Inilah titik balik penting: festival tidak lagi berhenti pada transaksi ritel, tetapi menjadi pintu negosiasi kontrak jangka panjang. Kepala perwakilan Bank Indonesia Babel menekankan bahwa keikutsertaan UMKM dalam ISEF adalah kesempatan memperkenalkan produk unggulan sekaligus membuka peluang kerja sama dengan mitra bisnis yang lebih luas. Dengan komitmen untuk terus memperkuat kolaborasi dengan pemerintah daerah, pelaku usaha, pesantren, lembaga keuangan syariah, dan pemangku kepentingan lain, Babel menempatkan UMKM halal sebagai ujung tombak strategi ekspor berbasis ekonomi syariah. Jika daerah lain berani meniru pola ini, peta ekspor produk halal global akan mulai diisi oleh merek-merek kecil yang lahir dari kampung, bukan hanya korporasi besar.

Dari Festival ke Pusat Ekonomi Syariah Dunia: Apa Langkah Berikutnya?
Semangat “Kebaikan untuk Semua” yang diusung ISEF jelas diarahkan untuk menjadikan ekonomi syariah sebagai kekuatan baru perekonomian dan mendorong negara ini menuju pusat ekonomi dan keuangan syariah dunia. Namun ambisi itu hanya masuk akal jika UMKM halal, fesyen muslim, dan usaha pesantren terus didorong naik kelas melalui integrasi rantai nilai halal, perluasan pembiayaan syariah, dan literasi berbasis digital. Rencana implementasi program seperti WWB di sekolah sebagai sarana edukasi pengelolaan sampah dan wakaf sejak dini menunjukkan bahwa ekosistem ekonomi syariah sedang dibangun dari akar, bukan hanya dari puncak.
Ke depan, tantangan utama bukan lagi soal menemukan pasar, tetapi menjaga konsistensi kualitas, kapasitas produksi, dan kepatuhan halal agar kontrak ekspor yang lahir dari ISEF tidak berubah menjadi kasus gagal pasok. Masyarakat dan pelaku usaha dapat terus mengikuti informasi dan peluang lanjutan melalui laman resmi dan aplikasi yang disediakan penyelenggara, namun yang lebih penting adalah keberanian daerah untuk mengorganisasi diri dalam ekosistem ekonomi syariah yang saling terhubung. Jika sinergi antara Bank Indonesia, pemerintah daerah, pesantren, dan UMKM terus diperkuat, festival seperti ISEF akan bergeser dari sekadar etalase menjadi infrastruktur strategis yang mengantarkan produk halal global ke panggung dunia, dengan UMKM sebagai aktor utama, bukan figuran.






