FESyar sebagai titik balik pembiayaan UMKM syariah di Jawa Timur
Festival Ekonomi Syariah Regional Jawa adalah sebuah ajang kolaborasi antara otoritas moneter, regulator, pelaku usaha, pesantren, dan lembaga keuangan syariah yang dirancang untuk menghubungkan ekosistem ekonomi halal dengan akses pasar, pembiayaan UMKM syariah, dan peningkatan literasi sehingga potensi ekonomi syariah Jawa Timur berubah menjadi manfaat nyata bagi masyarakat luas. Gelaran Festival Ekonomi Syariah Regional Jawa dengan tema “Akselerasi Ekonomi Syariah Jawa: Transformasi Digital, Inovasi Pembiayaan Inklusif, dan Peningkatan Literasi Keuangan” resmi berakhir pada Minggu, 27 September 2026. Namun nilai penting FESyar justru dimulai saat lampu acara padam: ekosistem yang terbentuk membuka jalur baru bagi akses modal UMKM dan jaringan pesantren. Alih-alih berhenti pada perayaan pasar halal, FESyar menegaskan bahwa ekonomi syariah Jawa Timur tidak boleh puas dengan angka pertumbuhan aset atau jumlah pelaku usaha. Agenda talkshow penguatan literasi keuangan syariah yang dibuka oleh perwakilan Bank Indonesia menunjukkan bahwa masalah utamanya masih terletak pada kesenjangan antara pemahaman dan pemanfaatan produk keuangan syariah oleh masyarakat. Di sinilah momentum FESyar penting: menyatukan diskursus literasi, inklusi, dan pembiayaan dalam satu panggung yang langsung bersentuhan dengan UMKM lokal.

Dari pasar halal ke akses modal: mengubah potensi menjadi pembiayaan
Selama ini narasi pasar halal Indonesia terlalu sering berhenti pada besarnya jumlah pelaku dan konsumen, tanpa cukup membahas jalur pembiayaan yang mereka butuhkan. Padahal pelaku UMKM syariah tidak hanya membutuhkan pasar untuk menjual produk, tetapi juga modal untuk meningkatkan kapasitas produksi, memperbaiki kualitas, dan memperluas usaha. FESyar mengambil posisi tegas: tanpa akses modal UMKM yang memadai, ekosistem halal hanya menjadi etalase, bukan mesin ekonomi. Gubernur Bank Indonesia menekankan bahwa ekosistem ekonomi syariah harus terhubung secara terintegrasi antara produksi halal, perdagangan, pembiayaan, serta literasi dan inklusi. “Ketiganya diarahkan agar semakin terintegrasi, berdampak nyata, dan inklusif. Kunci mewujudkannya adalah sinergi,” kata Destry Damayanti. Program seperti Pasar Rakyat dan Zona Kuliner Halal, Aman, dan Sehat bukan sekadar bazar; ini adalah kanal nyata bagi UMKM untuk menguji pasar, membangun reputasi, dan menjadi dasar kelayakan pembiayaan. Tanpa ruang semacam ini, lembaga keuangan syariah sulit menilai potensi usaha secara konkret.
Pesantren dan UMKM: tulang punggung ekosistem ekonomi syariah Jawa Timur
Jawa Timur memiliki 97,33 persen penduduk beragama Islam dan 7.347 pesantren, angka yang mengubah diskusi ekonomi syariah dari sekadar ceruk pasar menjadi basis sosial yang masif. Besarnya basis syariah tersebut membuka peluang untuk mengembangkan ekonomi dari hulu hingga hilir: pesantren, UMKM, industri halal, lembaga keuangan syariah, dan konsumen terhubung dalam satu ekosistem yang saling bergantung. Di FESyar, pesantren tidak lagi ditempatkan hanya sebagai lembaga pendidikan atau objek program sosial; mereka hadir sebagai aktor ekonomi dengan akses pembiayaan khusus. Skema pembiayaan bagi guru madrasah dan pesantren yang tergabung dalam Himpunan Ekonomi Bisnis Pesantren (HEBITREN) adalah sinyal kuat bahwa ekonomi syariah mulai menyentuh akar rumput dengan instrumen keuangan yang produktif. Pengembangan wakaf produktif, termasuk uang wakaf untuk pendidikan, memperlihatkan bahwa sumber modal syariah tidak semata-mata bergantung pada skema komersial. Bila dikelola serius, kombinasi UMKM dan pesantren dapat menjadi penggerak utama ekonomi syariah yang naik kelas di tingkat regional.
Literasi, inklusi, dan digitalisasi: syarat agar pembiayaan syariah tidak mandek
FESyar mengingatkan bahwa pembiayaan UMKM syariah tidak akan berkembang tanpa literasi dan inklusi yang memadai. Maulana Yusup dari otoritas jasa keuangan menyoroti adanya kesenjangan antara indeks literasi dan indeks inklusi keuangan syariah di Indonesia, sebuah celah yang menjadi pekerjaan rumah bersama. Menariknya, ia menegaskan bahwa literasi bukan hanya tugas regulator atau bank sentral, tetapi terutama tugas masyarakat untuk menyadari kebutuhan mereka dalam bidang keuangan. Data menunjukkan ruang pertumbuhan ekonomi syariah nasional masih terbuka lebar: sektor unggulan rantai nilai halal tumbuh 5,50 persen secara tahunan, sementara aset keuangan syariah mencapai Rp3.131 triliun pada triwulan II 2026. Tingkat literasi ekonomi syariah juga naik dari 16,30 persen pada 2019 menjadi 50,18 persen pada 2025. Namun angka tersebut hanya berarti jika diikuti oleh produk dan kanal digital yang mudah diakses UMKM. Paparan mengenai platform BYOND by BSI yang menawarkan fitur finansial, sosial, dan spiritual menunjukkan bahwa inovasi digital sudah bergerak, tetapi pertanyaannya: seberapa cepat UMKM di daerah dapat memanfaatkannya?
Mengukur keberhasilan: dari angka aset ke kemaslahatan pelaku usaha
Gubernur Jawa Timur mengingatkan bahwa keberhasilan ekonomi syariah tidak bisa diukur dari besarnya aset keuangan saja. “Ukuran keberhasilan ekonomi syariah bukan hanya seberapa besar asetnya, namun seberapa luas manfaat dan kemaslahatan yang dihasilkannya,” ujar Khofifah Indar Parawansa. Pernyataan ini penting sebagai penyeimbang euforia angka pertumbuhan sektor halal dan aset keuangan syariah. FESyar, sebagai bagian dari rangkaian Road to Indonesia Sharia Economic Festival, membuka ruang temu antara pelaku usaha, lembaga keuangan syariah, pemerintah, pesantren, dan pemangku kepentingan lain untuk memperkuat konektivitas ekonomi syariah. Ke depan, tantangan berikutnya bukan lagi sekadar meningkatkan jumlah pelaku atau skala pasar halal, melainkan memastikan potensi tersebut berubah menjadi aktivitas ekonomi yang menciptakan nilai tambah, memperluas pembiayaan, dan membuka pasar bagi pelaku usaha. Jika momentum ini dijaga, festival ekonomi syariah akan bergeser dari acara tahunan menjadi instrumen strategis yang mengawal UMKM dan pesantren dalam perjalanan naik kelas, dengan akses modal UMKM syariah sebagai indikator utama keberhasilannya.






