Dua jalur untuk menguatkan usaha perempuan
UMKM perempuan adalah usaha mikro, kecil, dan menengah yang dikelola perempuan, dan perkembangannya bergantung bukan hanya pada modal, tetapi juga pada keterampilan serta akses ke pasar. Dua program yang hadir di DIY dan Jabodetabek menggambarkan kebutuhan itu dari sisi berbeda: satu membangun ekosistem digital, sementara yang lain menyediakan pembiayaan usaha sekaligus pelatihan.
Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta bersama sejumlah mitra meluncurkan Prima Go Digital Market Hub di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas UGM pada 29 Oktober 2026. Ekosistem layanan ini dirancang untuk memperkuat kapasitas ekonomi perempuan, terutama kelompok rentan dan perempuan kepala keluarga, melalui teknologi digital. Program tersebut merespons peluang ekonomi digital yang semakin luas, tetapi belum dapat diakses secara setara oleh semua perempuan pelaku usaha. Arah kebijakannya tepat: pasar daring hanya bermakna jika perempuan juga mendapat dukungan untuk memanfaatkannya.

Prima Go membangun jalan menuju pembeli
Prima Go menempatkan akses teknologi dan pasar digital sebagai pintu masuk. Melalui pendekatan We to Women, peserta mendapat pendampingan bertahap untuk membangun keterampilan dan kepercayaan diri dalam mengelola usaha secara mandiri. Ini lebih menjanjikan daripada sekadar menyerahkan platform kepada pelaku usaha lalu berharap mereka langsung mampu bersaing.
Bagi UMKM perempuan, kehadiran di pasar digital dapat membuka jangkauan di luar lingkungan sekitar. Namun, akses pasar tidak otomatis menghasilkan penjualan: produk, cara berkomunikasi dengan pelanggan, dan kemampuan mengelola usaha tetap menentukan. Karena itu, pendampingan manusiawi yang menyertai layanan digital menjadi bagian penting dari program, khususnya bagi perempuan kepala keluarga yang menghadapi tanggung jawab ekonomi sekaligus keluarga. Pasar digital UMKM baru benar-benar berguna ketika pelaku usaha dibantu untuk menggunakannya dengan percaya diri.
Dana bergulir memberi napas dan keterampilan
Di Jabodetabek, Astra Credit Companies bekerja sama dengan Yayasan Astra–Yayasan Dharma Bhakti Astra menyalurkan dana bergulir UMKM sebesar Rp 100 juta kepada 20 UMKM yang dikelola perempuan. Program angkatan kedua ini diumumkan pada 6 Maret 2026. Dana tanpa bunga dapat digunakan selama 12 bulan sebelum dikembalikan dan disalurkan lagi kepada pelaku usaha lain. Penerimanya bergerak di bidang kuliner dan kerajinan tangan.
Dukungan itu tidak berhenti pada modal. Peserta juga mengikuti lokakarya pemasaran digital UMKM untuk membantu memperluas jangkauan pasar. Pada angkatan pertama, tingkat pengembalian dana mencapai 100 persen, sementara skema angsuran bulanan diperkenalkan pada angkatan kedua agar pengembalian lebih ringan dan arus kas usaha tetap terjaga. Model ini menjawab kebutuhan mendesak akan modal sekaligus memberi bekal praktis; nilai pentingnya terletak pada dana yang terus berputar, bukan hanya bantuan sekali pakai.
Modal dan akses pasar sebaiknya berjalan bersama
Perbedaan kedua pendekatan ini jelas. Prima Go berangkat dari hambatan akses: ia menghubungkan perempuan dengan teknologi, pasar digital, dan pendampingan. Program dana bergulir berangkat dari kebutuhan pembiayaan, lalu melengkapinya dengan pelatihan pemasaran digital. Yang satu membangun jalur menuju pembeli; yang lain memberi modal kerja dan keterampilan untuk menjangkau mereka.
Keduanya menunjukkan bahwa pemasaran digital UMKM dan pembiayaan tidak semestinya diperlakukan sebagai pilihan yang saling menggantikan. Modal tanpa akses pasar bisa sulit berkembang, sedangkan platform tanpa kapasitas produksi dan keterampilan promosi berisiko tidak terpakai. Kesimpulannya, dukungan paling kuat bagi UMKM perempuan menggabungkan pembiayaan yang dapat dipertanggungjawabkan, pelatihan yang relevan, serta pendampingan untuk menggunakan pasar digital. Dua program ini mengambil jalur berbeda, tetapi arahnya sama: usaha perempuan perlu perangkat lengkap agar dapat tumbuh mandiri.






